Konsep Kitab Suci Menurut Agama Samawi

1
3223

BincangSyariah.Com – Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Mannar mengemukakan pandangan yang relatif baru dalam diskursus Ahli Kitab di kalangan para ahli tafsir. Baginya, Ahli Kitab tidak hanya sebatas pada Yahudi dan Nasrani, namun juga Majusi, Konghucu, Budha dan lain-lain yang mereka itu memiliki semacam kitab suci atau semacam Nabi yang ajaran-ajarannya dibukukan di kemudian hari.

Dengan menggunakan model pendekatan al-Quran yufassir ba’duhu ba’dhan, tampaknya Ridha berkesimpulan bahwa Ahli Kitab ialah tersimpul dalam bahasa al-Quran sendiri yang mendefiniskannya sebagai alladzina utu al-kitab ‘mereka yang dulu pernah memiliki kitab’ entah yang sudah diselewengkan lafal dan maknanya ataupun yang masih valid.

Tentu kita jangan salah menafsirkan bahwa yang dimaksud kitab selalu berbentuk buku. Kitab dalam bahasa al-Quran maknanya bermacam-macam, dari sekian maknanya, tampaknya makna yang sering mengemuka, menurut Muhammad Asad, ialah al-kitab sebagai wahyu, bukan selalu identik dengan buku yang ada tulisan di dalamnya seperti yang kita pahami sekarang. Dengan kata-kata lain, nabi-nabi tidak pernah mendapat buku yang di dalamnya ada tulisan-tulisan petunjuk bagi keselamatan manusia. Yang nabi-nabi terima hanyalah wahyu.

Persoalan wahyu yang kemudian dibukukan itu dilakukan beberapa lama setelah nabi yang bersangkutan wafat.
Namun wahyu atau Firman Allah juga memiliki nama-nama. Firman Allah yang turun kepada Musa disebut Taurat , Firman Allah yang turun kepada Yesus disebut Injil dan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad disebut al-Quran. Wahyu-wahyu tersebut di masa hidup nabi yang menerimanya belum berbentuk buku namun masih berupa ajaran-ajaran lisan dan dalam konteks Islam, dihafalkan dan dituliskan dalam pelepah kurma, tulang dan lain-lain.

Kelak ajaran-ajaran yang diturunkan kepada Musa ini dituliskan kembali oleh para pengikutnya dalam rentang waktu ribuan tahun yang kemudian namanya disebut sebagai Torah yang berarti hukum. Konon yang menulis Torah ini tidak hanya Yoshua namun juga para penulis setelahnya yang berjumlah kisaran 40 orang. Mereka mengumpulkan ajaran-ajaran Musa dan cerita-cerita tentang perjalanan Bani Israel serta menuliskan dan mengumpulkannya dalam bentuk buku.

Baca Juga :  Belajar Bagaimana Memperlakukan Kitab Kuning dari Kiai Sahal Mahfudh

Demikian juga seperti yang terjadi dalam Yesus. Ajaran-ajaran yang Yesus sampaikan merupakan wahyu dari Allah tapi masih belum berbentuk buku, hanya saja al-Quran menamai Injil bagi jenis wahyu yang disampaikan kepada Yesus.

Kelak ajaran-ajaran yang disampaikan Yesus kepada murid-muridnya berikut cerita-cerita tentang Yesus ini dituliskan kembali dan disusun dalam bentuk buku jauh setelah Yesus wafat. Jadi Injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus ini bukan buku tulisan Yesus, melainkan kumpulan ajaran para rasul (jangan dipahami seperti rasul dalam Islam, rasul di sini ialah murid-murid Yesus) yang lahir dari komunitas gereja. Jadi dalam tradisi Kristen, kitab suci itu terbentuk dalam tradisi Gereja bukan sesuatu yang given untuk Yesus.

Untuk memperjelas masalah ini, kiranya menarik jika kita kutipkan pandangan Ibnu Taymiyyah dari kitab polemisnya yang terkenal, al-Jawab as-Sahih li-man Baddala Din al-Masih, Jilid 3 pasal Qiyas an-Nashara Kutubahum ala al-Quran Qiyas Bathil:

وأما الأناجيل الذي بأيدي النصارى، فهي أربعة أناجيل: إنجيل متى ويوحنا ولوقا ومرقس وهم متفقون على أن لوقا ومرقس لم يريا المسيح، وإنما رآه متى ويوحنا، وأن هذه المقالات الأربعة التي يسمونها الإنجيل، وقد يسمون كل واحد منهم إنجيلا، إنما كتبها هؤلاء بعد أن رفع المسيح، فلم يذكروا فيها أنها كلام الله، ولا أن المسيح بلغها عن الله، بل نقلوا فيها أشياء من كلام المسيح وأشياء من أفعاله ومعجزاته.

“Injil yang dibaca orang-orang Kristen ada empat: Injil Matius, Lukas, Yohannes dan Marqus. Di kalangan Kristen sendiri disepakati bahwa Lukas dan Marqus belum pernah menjad murid langsung Yesus. Sedangkan Yohannes dan Matius pernah bertemu langsung dan menjadi muridnya. Keempat-empatnya ini disebut Injil, dan kadang sebutan Injil juga berlaku kepada masing-masingnya. Kitab-kitab ini ditulis setelah diangkatnya Yesus ke langit. Namun para penulisnya tidak mengklaim bahwa Injil ini firman Allah. Mereka juga tidak mengklaim bahwa Yesus menyampaikannya dari Allah langsung. Hanya saja yang mereka sebutkan dalam kitab-kitab ini ialah sebagain sabda Yesus, perilaku dan mukjizatnya.”

Baca Juga :  Apakah Kulit Telur Hewan Najis?

Jika memang hanya memuat sebagian sabda Yesus dan bukan keseluruhannya, tentunya yang penulis-penulis Injil dengar dan lihat dari Yesus tidak semuanya ditulis dalam Injil dan bahkan ada campuran cerita yang bukan dari Yesus sendiri. Ibnu Taymiyyah menegaskan:

وذكروا أنهم لم ينقلوا كل ما سمعوه منه ورأوه، فكانت من جنس ما يرويه أهل الحديث والسير والمغازي عن النبي (ص) من أقواله وأفعاله التي ليست قرآنا. فالأناجيل التي بأيديهم شبه كتاب السيرة وكتب الحديث أو مثل هذه الكتب وإن كان غالبها صحيحا.

“Mereka sendiri tidak menuliskan semua yang mereka dengar dan yang mereka lihat. Injil-Injil ini mirip dengan tradisi periwayatan Ahli Hadis dan sejarawan kenabian yang sekedar meriwayatkan sebagian sabda dan perbuatan Nabi yang bukan al-Quran. Dengan kata-kata lain, Injil yang orang Kristen baca itu mirip dengan kitab-kitab Sirah, kitab-kitab Hadis atau yang sejenisnya meski secara garis besar kandungannya sahih.”

Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa Injil, menurut Ibnu Taymiyyah, bisa disamakan tingkatannya dengan Sirah Ibnu Ishak, Sirah Ibnu Hisyam atau kitab-kitab lainnya yang menjelaskan tentang Sirah Nabawiyyah. Hal demikian karena Injil bercerita tentang sirah Yesus.
Berkaca dari Ibnu Taymiyyah ini, kemungkinan Taurat juga bisa disamakan dengan tradisi penulisan Sirah dalam Islam.

Dengan demikian, pengertian kitab suci dalam Yahudi dan Kristen sangat berbeda dengan pengertian dalam Islam. Akan keliru melihat agama lain berangkat dari konsep yang dipakai oleh keyakinan agama yang bersangkutan. Harusnya membaca agama lain dilakukan sesuai dengan kerangka yang dipakai oleh agama yang bersangkutan.

Berangkat dari ini tentunya dalam beberapa hal, kita harus melihat tradisi Yahudi dan Kristen bukan melalui kerangka pandang dan pengalaman yang kita miliki karena akan mengaburkan makna dan menimbulkan salah tafsir (kalau memang tujuannya hanya mencari padanan bukan kebenaran keyakinan).

Berangkat dari penjelasan ini muncul pertanyaan, jika demikian halnya Injil bisa disepadankan dengan kitab-kitab Sirah, lalu apa yang bisa dipadankan dengan al-Quran dari tradisi Yahudi dan Kristen?

Baca Juga :  Tafsir Al-Baqarah Ayat 188: Ayat Al-Qur'an Tentang Larangan Korupsi

Dalam tradisi Kristen, jelas sekali al-Quran hanya menemukan padanannya dengan Yesus Kristus sebagai Firman Allah. Oleh karena itu, al-Quran bukan bandingan Injil karena jelas akan jauh berbeda. Namun bandingkanlah al-Quran dalam Islam dengan Yesus dalam Kristen karena menurut dua agama bersaudara ini kedua-keduanya adalah Firman Allah. Bedanya, dalam Islam Firman Allah ini mewujud nyata menjadi huruf dan maknanya dalam al-Quran yang kita baca dan kita dengar (terlepas dari perdebatan teologis di kalangan Islam sendiri terkait identitas firman ini). Sedangkan dalam Kristen, Firman Allah ini mewujud nyata dalam bentuk manusia bernama Yesus. Seperti al-Quran yang kita baca yang bisa dibakar dan disobek, Yesus manusia juga bisa dibunuh atau menurut versi Kristen, disalib.
Pertanyaan selanjutnya, jika Yesus sebanding dengan al-Quran, apa bandingannya Nabi Muhammad dalam tradisi Kristen? Tentu tidak ada bandingannya.

Namun kalau dipaksa-paksakan untuk dibandingkan, kita akan melihat bahwa Nabi Muhammad dalam Islam menemukan padanannya dengan Bunda Maria dalam Kristen. Baik Nabi Muhammad maupun Bunda Maria kedua-duanya merupakan wadah bagi Firman Allah. Nabi Muhammad harus buta huruf dulu sebelum al-Quran menempatinya dan Bunda Maria harus menjadi perawan suci dulu sebelum Yesus berada dalam kandungannya. Dengan kata-kata lain, netralitas dan kesucian menjadi prasyarat bagi turun dan bertempatnya Kalam Allah pada Nabi-Nabi.

Jika kembali lagi kepada diskusi semula, jelas sekali bahwa al-kitab di dalam al-Quran tidak selalu bermakna buku atau catatan tapi maknanya lebih luas daripada itu, yang salah satu maknanya yang sering muncul ialah wahyu. Inilah makna yang dipertegas oleh Muhammad Asad dalam The Message of The Quran, sebuah tafsir yang mencoba mengungkap konsep-konsep keislaman berangkat dari yang dikenal di masa turunnya al-Quran. Makna al-kitab sebagai wahyu atau firman Allah tentu akan dapat memperjelas kesinambungan ajaran-ajaran Islam dengan ajaran-ajaran agama sebelumnya. Allahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here