Konsep Islam Wasathiyah dan Relevansinya di Masa Kini

0
31

BincangSyariah – Konsep Islam Wasathiyah menggema di mana-mana. Kita menemukannya dalam buku-buku, di media sosial, dan bertebaran pula di media daring. Gema tersebut adalah hal yang wajar sebab Islam Wasathiyah adalah objek pembahasan yang sering dikaji dalam berbagai kajian Islam. Secara khusus, Islam Wasathiyah dipelajari dalam kajian teologi Islam dalam bingkai aliran yang moderat.

Masyarakat umum memahami Islam Wasathiyah sebagai sikap keberagamaan Ahlussunnah wal Jamaah, terutama dalam paham Asyariyah dan Maturidiyah. Kedua paham tersebut menempuh jalan tengah di antara banyak aliran teologi Islam.

Sepanjang sejarah tentang aliran teologi dalam Islam, Asyariyah dan Maturidiyah menghindari sikap mengafirkan satu sama lain. Kedua kelompok itu tetap mengedepankan akidah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat.

Pengertian Islam Wasathiyah

Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrîr Wa At- Tanwîr mendefinisikan kata ”wasath” dengan dua makna. Pertama, secara etimologi, kata wasath memiliki makna sesuatu yang ada di tengah, atau sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding. Kedua, menurut terminologi, arti kata wasath adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan dan tidak berlebihan dalam hal tertentu..

Sementara itu, Ibnu ‘Asyur memaknai istilah ummatan wasathan pada Surat al- Baqarah Ayat 143 dengan makna “umat yang adil dan terpilih”. Pemaknaan tersebut berarti bahwa umat Islam adalah umat yang paling sempurna agamanya, paling baik akhlaknya, dan paling utama amalnya.

Allah Swt. menganugerahi ilmu, kelembutan budi pekerti, keadilan, dan kebaikan kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat lain. Maka dari itu, seyogiyanya kaum Muslimin mesti menjadi ummatan wasathan yakni umat yang sempurna dan adil. Apabila dipraktikkan, hal tersebutlah yang akan menjadi saksi bagi seluruh manusia di hari kiamat kelak.

Konsep Islam Wasathiyah adalah kondisi yang terpuji sebab konsep tersebut sejatinya menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sikap ekstrem. Pertama, sikap berlebih-lebihan (ifrâth) dan sikap muqashshir yang mengurang-ngurangi sesuatu yang dibatasi Allah Swt. Sebagai penengah, sifat wasathiyah umat Islam adalah anugerah yang diberikan Allah Swt. secara khusus yang menjadi ciri khas keberadaan umat Islam di seluruh dunia.

Saat kaum Muslimin mampu konsisten dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah Swt., maka sesungguhnya saat itu jugalah mereka menjadi umat terbaik dan terpilih. Sifat-sifat tersebut telah menjadikan umat Islam sebagai umat yang moderat. Moderat yang dimaksud berlaku dalam segala urusan, baik urusan agama atau urusan sosial di dunia yakni kehidupan bermasyarakat.

Sebenarnya, ada istilah lain yang secara pengertian sejalan dengan konsep Islam Wasathiyah. Istilah tersbeut adalah Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Dalam dua konsep dan istilah ini, memang sangat dibutuhkan perilaku Islam yang moderat.

Hal tersebut tidak bisa dielakkan sebab manusia hidup bersama antarsuku dan antarkelompok umat beragama di mana kemajemukan harus mampu menjaga kehidupan tanpa menafikan keberadaan orang lain. Sikap tersebut mesti disertai dengan menganut keyakinan masing-masing tanpa tekanan dan paksaan dari pihak lainnya.

Pemikiran Ar-Razi tentang Islam Wasathiyah

Ajaran agama Islam mengajarkan kepada umatnya agar berperilaku baik dalam bersosialisai untuk hidup yang lebih toleran, rukun dan damai. Demi hidup tenteram bersama dengan seluruh ummat manusia di dunia yang juga menyadari kesatuan umat manusia sebagai anak cucu adam.

Umat Islam mestinya bersyukur sebab salah satu kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan Allah Sawt. kepada kaum Muslimin adalah menjadikan umat Islam sebagai umat pertengahan (washatan), yang paling baik (khiyaran), dan yang paling adil (adulan). Sebagaimana firman Allah Swt.:

Quran Surat Al-Baqarah Ayat 143

 وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Wa każālika ja’alnākum ummataw wasaṭal litakụnụ syuhadāa 'alan-nāsi wa yak</i></em><em><i>ụnar-rasụlu 'alaikum syah</i></em><em><i>īdā, wa mā ja'alnal-qiblatallatī kunta 'alaihā illā lina'lama may yattabi'ur-ras</i></em><em><i>ụla mim may yangqalibu 'al</i></em><em><i>ā 'aqibaīh, wa ing kānat lakabīratan illā 'alallażīna hadallāh, wa mā kānallāhu liyu</i></em><em><i>ḍ</i></em><em><i>ī'a īmānakum, innallāha bin-nāsi laraụfur raīm

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Washatan diartikan sebagaii adil dan pilihan oleh para ahli tafsir. Arti tersebut juga dipaparkan oleh seorang filsuf Islam, Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Gaib (Beirut: Dar al-Fikr,1994), Juz III. Ia menyebutkan tentang beberapa makna yang saling mendekati dalam memaknai wasathan.

Pertama, wasath berarti adil.

Menurut Ar-Razi, makna tersebut berdasarkan pada ayat-ayat yang satu makna, hadis Nabi, dan beberapa penjelasan dari sya’ir Arab tentang makna tersebut. Riwayat al-Qaffal dari al-Tsauri dari Abu Sa’id al-Khudry dari Nabi Saw. menyatakan bahwa ummatan wasathan adalah umat yang adil.

Kedua, wasath berarti pilihan.

Alasan Ar-Razi memilih makna yang kedua tersebut dibandingkan dengan makna-makna lainnya adalah karena beberapa alasan. Menurut Ar-Razi, kata tersebut secara bahasa paling dekat dengan makna wasath dan paling sesuai dengan ayat yang semakna dengan firman Allah Swt.:

Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 110

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi tamurụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tuminụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Relevansinya dengan Masa Kini

Dalam perkembangannya, kini Islam Wasathiyah kerap ditujukan pada perilaku sosial keagamaan umat Islam yang mampu berkompromi dalam membangun kehidupan bersama terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut tak lepas dari era globalisasi di mana umat Islam dituntut untuk bersikap moderat (wasathiyah). Sebagai umat yang moderat, umat Islam mesti mampu mengintegrasikan dua dimensi yang berbeda.

Pertama, dimensi teosentris (hablun min Allah) dan antroposentirs (hablun min an-nas). Sejatinya, tuntutan tersebut bukanlah tuntutan zaman, akan tetapi merupakan tuntutan Al-Qur’an yang wajib dilaksanakan.

Lantas, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat Islam dalam menyikapi Islam Wasathiyah?

Makna Islam sebagai agama wasathiyah mesti diambil dari penjelasan para ulama. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada kesalahpahaman dan sikap intoleran yang berpotensi merusak citra Islam.

Maka dari itu, pemahaman masyarakat terhadap makna wasathiyah yang benar akan berpengaruh dan membentuk sikap sadar dalam ber-Islam yang moderat dalam arti yang sesungguhnya yakni ummatan wasathan, mewujudkan kedamaian dunia, tanpa kekerasan atas nama golongan, ras, ideologi bahkan agama.

Perlu digarisbawahi bahwa konsep Islam Wasathiyah adalah salah satu karakteristik Islam yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Pemahaman ini berwujud dalam dakwah Islam yang toleran, dan menentang segala bentuk pemikiran baik yang liberal maupun yang radikal. Meski begitu, kehadiran kedua pemikiran tersebut tetap dihargai sebagai bentuk penerimaan keragaman berpikir.

Dalam Maqâshid al-Syari‘ah, Ibnu ‘Asyur mencatat bahwa sikap moderat dalam Islam Wasathuyah adalah bentuk manifestasi ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin; rahmat bagi segenap alam semesta. Karena itulah sikap moderat sangat perlu diperjuangkan agar mampu melahirkan umat yang terbaik yakni khairu ummah.

Pemahaman dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim moderat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tawassuth (mengambil jalan tengah), yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifrâth (berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrîth (mengurangi ajaran agama);
  2. Tawâzun (berkeseimbangan), yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf, (penyimpangan,) dan ikhtilaf (perbedaan);
  3. I’tidâl (lurus dan tegas), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional;
  4. Tasâmuh (toleransi), yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya;
  5. Musâwah (egaliter), yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang;
  6. Syûra (musyawarah), yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya;
  7. Ishlâh (reformasi), yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum (mashlahah ‘ammah) dengan tetap berpegang pada prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan tradisi lama yang masih relevan, dan menerapkan hal-hal baru yang lebih relevan);
  8. Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah;
  9. Tathawwur wa Ibtikâr (dinamis dan inovatif), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahatan dan kemajuan umat manusia;
  10. Tahadhdhur (berkeadaban), yaitu menjunjung tinggi akhlak mulia, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.

Sebagai catatan tambahan, untuk menjadi seorang Muslim yang berpikir dan bersikap moderat, kita tidak harus menjauh dari agama, tapi juga tidak menghujat keyakinan yang dianut oleh orang lain.

Adanya konsep Islam Wasathiyah mestinya tidak membuat seorang Muslim berani menghujat keyakinan orang lain dengan mengklaim dirinya yang paling benar dan orang lain sebagai yang sesat dan kafir.[]

(Baca: Wajah Islam Wasathiyyah di Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here