Kitab Bahjat al-Wudluh: Melakukan Kebaikan Harus Dipercepat

0
177

BincangSyariah.Com – Hadis keenam dalam kitab Bahjat al Wudluh berasal dari riwayat Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan Ibnu Majah dari Anas R.A., Rasulullah Saw bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ عَامٌ وَلَا يَوْمٌ إِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya tidak berlalu suatu zaman atau hari atas kalian kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari zaman sebelumnya hingga kalian menjumpai Rabb kalian.”

Hadis yang berasal dari riwayat al Bukhari berkualitas sahih. Setali tiga uang dengan riwayat al Bukhari, menurut al Arnauth ketika men-tahqiq kitab musnad Imam Ahmad, riwayat Ahmad bin Hanbal pun berkualitas sahih. Namun berbeda dengan dua riwayat sebelumnya, riwayat Ibnu Majah memiliki kualitas dhaif. Dalam sanadnya, terdapat perawi bernama Muhammad bin Khalid al Jindi.

Setelah melalui penelitian, saya menemukan beberapa komentar ulama hadis teradap Muhammad bin Khalid ini. Diantaranya komentar dari al-Hakim, Ibnu Hajar, dan adz0Dzahabi. Menurut al-Hakim dan Ibnu Hajar, perawi satu ini berstatus majhul yang secara sederhana bisa diartikan sebagai seseorang yang tidak dikenal dalam dunia periwayatan hadis, baik pribadi maupun kualitasnya. Kalau pribadi saja sudah tidak dikenal, bagaimana bisa dinilai kualitasnya?

Sedangkan Adz Dzahabi menjuluki Muhammad bin Khalid sebagai shahib al hadits al munkar atau “pemilik hadis mungkar”. Dalam ilmu Hadis, yang dimaksud dengan al hadits al munkar adalah sebuah hadits dengan perawi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya atau lemah ke-tsiqahannya.

Memaknai Perjalanan Waktu

K.H.R. Ma’mun Nawawi menjadikan hadis di atas sebagai dasar paradigma berfikir tentang konsep sebuah zaman. Dengan memahami Hadis di atas, setiap muslim tidak akan menunda-nunda dalam melakukan sebuah kebaikan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk preventif karena zaman semakin mendekati garis akhirnya. Jangan sampai alih-alih ditunda, justru kebaikan tersebut malah tidak terlaksana, karena zaman sudah mencapai garis akhir.

Baca Juga :  Hukum Mengubah Nilai Mahar Setelah Akad Nikah

Selain itu, menurut beliau dengan berpegangan pada hadis di atas, sebuah zaman semakin hari tidak akan lebih baik dari sebelumnya. Maka berlomba-lomba dan perbanyaklah dalam kebaikan, jangan malah menunda.

Setelah selesai menyampaikan maksud dari hadis di atas, beliau pun beranjak pada konteks ulama dan keilmuan, beliau berkata:

“kitu deui ilmu beuki kurang, lantaran ulama-ulama maot. Maka tetkala ulama parantos maot, tangtu jalma teh rata pada bodo dina bagian agama Islam. Mereun moal amar makruf jeng moal nahi munkar. Nalika kitu tangtu ruksak agamana katoler-toler terus nuturkeun hawa nafsu sakama-kama henteu perduli kana parentah rejeung cegahan syara’ pahibut nguruskeun kahirupan dunya anu yakin bakal ditinggalkeun; henteu inget kana amal buat akhirat anu langgeng.”

“Begitupun dengan ilmu, semakin berkurang lantaran ulama-ulama wafat. Ketika ulama-ulama sudah wafat, manusia akan rata dengan kebodohan dalam beragama. Mungkin, bisa terjadi tidak adanya amar makruf dan nahi munkar. Ketika terjadi demikian, agamanya menjadi rusak dan terus-menerus menuruti hawa nafsu; semaunya sendri, tidak memperdulikan terhadap perintah maupun larangan syara’, saling berebut mengurusi kehidupan dunia yang sebenarnya yakin bakal ditinggalkan, dan tidak ingat pada amal untuk akhirat yang kekal.”

Sebagai penutup, beliau mengingatkan kepada kita semua bahwa pada dasarnya setiap makhluk yang mempunyai akal tentu akan sungguh-sungguh kepada amal khairat, selama masih ada kesempaatan dan tidak akan tertipu oleh ekspektasi yang berlebihan.

*وَاللَّهُ عَلِيمٌ بَصِيرٌ*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here