Kitab “Bahjat al-Wudluh”: Keharusan Dermawan dan Larangan Kikir

0
2181

BincangSyariah.Com – Hadis keempat dalam kitab Bahjat al Wudluh fi Hadis Opat Puluh bercerita tentang sifat dermawan dan kikir. Hadis tentang dua sifat bertentangan tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَابِدٍ بَخِيلٍ

Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yang bakhil.

Hadis di atas berkualitas dhaif karena terdapat perawi bernama Sa’id bin Muhammad al Warraq. Kredibiltas al Warraq diperselisihkan oleh para ulama Hadis. Imam al Hakim dan Ibnu Sa’d menilainya tsiqah dan memperbolehkan menulis hadis yang bersumber darinya. Hal ini berbeda dengan pendapat Abu Dawud, al ‘Uqailiy, Abu Hatim, Nasa’i, dan ad Daruquthni.

Para ulama tersebut men-tajrih al Warraq dengan berbagai diksi, yaitu laisa haditsuhu bi syai’in, laisa bil qawiy, dan matruk. Apalagi menurut at Tarmidzi Hadis ini berstatus gharib. Selain riwayat at Tirmidzi, seperti yang ditulis oleh K.H.R. Ma’mun Nawawi, saya juga menemukan hadis senada yang diriwayatkan oleh ath Thabrani dalam kitab hadisnya Mu’jam al Ausath dan al Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al Iman. Namun seluruh riwayatnya bersumber dari satu orang sama yang kredibilitasnya diperselisihkan tadi, yaitu Sa’id bin Muhammad al Warraq.

K.H.R. Ma’mun Nawawi memulai syarh interaktif-nya dengan sapaan “Hai dulur!”, kemudian beliau melanjutkan,”kikir adalah sifat yang perlu ditakuti dan jangan dilekatkan pada diri, karena akan mencelakai dunia dan akhirat kita.”

Baca Juga :  Kekeliruan Pengutipan Hadis Dewan Syariah Nasional MUI

“Adapun dermawan, amat bagus dan dianjurkan. Tidak akan berkurang karena sebab dermawan dan bersedekah. Pun demikian, ketika mundur tetap mundur, tidak akan bertambah karena sebab kikir lagi dosa.”

Kemudian K.H.R. Ma’mun Nawawi mengutip pendapat Abu Bakar R.A tentang akibat dari sifat kikir. Abu Bakar ra. menuturkan bahwa orang kikir tidak akan sepi dari salah satu tujuh perkara: Pertama, Imma mati kemudian hartanya dipakai ahli waris untuk kesukaan hawa nafsu, sedangkan dia menderita di dalam kubur. Kedua, Allah mengirim seorang raja zalim yang merebut harta setelah sebelumnya dihinakan terlebih dahulu. Ketiga, “dibangunkan” syahwatnya untuk melakukan maksiat yang menghabiskan harta. Keempat, dipakai untuk membangun rumah yang melebihi kebutuhan.

Kelima, tertimpa musibah seperti tenggelam, kebakaran, pencurian, perampokan, dan lain sebagainya. Keenam, terserang penyakit dalam waktu yang lama dan terus-menerus membeli obat-obatan sampai hartanya habis. Ketujuh, hartanya disimpan pada suatu tempat, kemudian dia Allah membikin dia lupa dengan tempatnya. Keterangan pendapat Abu bakar ini juga dimuat dalam kitab Nashaih al Ibad karya Imam Nawawi al Bantani.

Menurut K.H.R. Ma’mun Nawawi, dalam akhir penjelasannya, menjadi manusia yang kikir akan menyiksa diri sendiri dan mendapat balasan di dunia dan akhirat. Tiada disukai tetangga dan teman-temannya. Justru penyakit itu muncul jika bertemu keduanya. Maka saudara Muslim sekalian, gunakanlah harta untuk hal bermanfaat dunia dan akirat. Jangan kikir. Harus ingat, awalnya memang datang ke dunia tapi kemudian pada akhirnya akan kembali (ke akhirat) juga, dari dunia menuju alam kubur.

*وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here