Kitab Bahjat al-Wudluh: Keberkahan Menafkahkan Harta untuk Kebaikan

0
423

BincangSyariah.Com – Pada Hadis kesembilan, K.H.R. Ma’mun Nawawi menyajikan sebuah hadis shahih riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti (balasan) bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’”

“Hai dulur Islam” sapa muallif kepada pembaca sekalian, “jika kamu mempunyai harta, maka segera nafkahkan untuk kebaikan.” Menurut ulama yang menjadi tuan rumah pelatihan lascar hizbullah ini, demikian dasarnya harta diberikan kepada makhluk-Nya; untuk menghidupi kebaikan-kebaikan di atas muka bumi.

Selanjutnya, beliau memberikan konsekuensi ketika kita menafkahkan harta untuk kebaikan. Pertama, akan memperolah pahala yang melimpah. Melimpah disini bisa diartikan dalam jumlah yang besar atau karena pahala sedekah itu terus mengalir, walaupun pelaku sedekah sudah meninggal dunia. Kedua, pasti ada lagi gantinya.

Hitungan sedekah tidak dapat disamakan dengan hitungan matematika. Ilmu matematika menghendaki pengurangan jumlah suatu barang jika diambil atau diberikan kepada orang lain. Sedangkan sedekah menghendaki kekekalan barang yang diberikan tersebut, ditambah lagi dengan ganti yang berlipat ganda. Maka, tidak salah bukan Nabi Saw dan para pewarisnya sangat menganjurkan kita untuk senantiasa menafkahkan harta kepada kebaikan?

K.H.R. Ma’mun Nawawi mengingatkan kita bahwa memperlakukan harta bukan dengan dipendam secara serakah. Jika demikan yang dilakukan seseorang, niscaya pada akhirnya akan ada yang merebutnya (mengambil secara paksa atau tanpa sepengetahuan pemilik) atau menjadikan harta itu rusak.

Untuk memperkuat pernyataan di atas muallif mengatakan, “sakumaha bukti musyahadah jalma-jalma koret anu jadi parepeh, sahingga sahingga bangsa raja-raja anu koret geus ancur harta karajaannana, malah ancur kadaulatanna, da’ bener Hadis mah moal bohong.”

“Sebagaimana bukti secara musyahadah ketika orang-orang kikir menjadi pelajaran, hingga bangsa raja-raja yang kikir, terbukti hancur harta kerajaan dan kedaulatannya. Ya, Hadis itu benar dan tidak pernah bohong.”

“Maka wahai saudara,” lanjutnya, “jangan sayang terhadap benda yang sedikit sehingga menjadi penyebab hancurnya keseluruhan.” Secara sederhana, beliau memberikan contoh seperti petani, keluarkan zakatnya sepersepuluh dan berdagang keluarkan zakatnya sepermpatpuluh. Intinya, apapun pekerjaan kita, jangan pernah melupakan nafkah untuk kebaikan. Yaitu dengan mengeluarkan zakat dan sedekah.

Kemudian, K.H.R Ma’mun Nawawi mengakhiri penjelasan Hadis kesembilan ini dengan beberapa kalimat pengingat kepada para pembaca budiman,

“Harus ingat bahwa hidup di dunia tidak akan kekal; hanya sekedar bertamu kemudian besok pun secara tiba-tiba akan pulang. Sedangkan harta, walaupun disayang-sayang, tetap bakal ditinggalkan. Begitupun apa-apa yang dimakan dan diminum hanya menjadi najis belaka. Dan yang dipakai menjadi buruk. Ketika disedekahkan, malah akan kekal serta dikaruniai pahala pada hari kamat.”

*والله على كل شيئ شهيد*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here