Kitab “Bahjat al-Wudluh”: Jangan Terlalu Suka Bicara, Bila Tak Mau Celaka

0
165

BincangSyariah.Com – Hadis ketujuh dalam kitab Bahjat al Wudluh cukup relevan dengan kondisi saat ini. Saat ini, kebanyakan tidak dapat menahan hawa nafsunya dalam bicara, baik secara langsung atau lewat media sosial. Parahnya, sementara orang tidak memiliki dasar pengetahuan atas ucapan tersebut. Akhirnya diskusi dipenuhi oleh ucapan atau cuitan tidak bermanfaat. Untuk mengatasi hal tersebut, K.H.R. Ma’mun Nawawi dalam kitabnya menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Lal dan Ibnu Najjar dari Salam al-Farisi R.A. dan Abu Syaikh dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah saw bersabda:

أَكْثَرُ النَّاسِ ذُنُوبًا أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيمَا لَا يُعْنِيهِ

Artinya:Manusia yang paling banyak dosanya pada hari kiamat adalah adalah yang paling suka berbicara dalam perkara yang tidak perlu.

Ulama hadis banyak tentang perawi-perawi yang terdapat dalam sanad hadis ini, terutama pada rentetan nama ‘Isham bin Thaliq dari Syu’aib dari Abu Hurairah. al Bukhari menyebut ‘Isham bin Thaliq majhul (tidak diketahui kredibiltasnya) dan munkar al Hadis (menyendiri dalam periwayatan hadis).

‘Isham bin Thaliq pun tidak luput dari komentar Abu Zur’ah dan adz Dzahabi, menurut masing-masing ulama Hadis tersebut ‘Isham bin Thaliq adalah perawi dhaif (lemah) dan laisa bi syai’in (riwayatnya tidak bernilai). Sedangkan perawi Syu’aib adalah majhul (tidak diketahui kredibiltasnya).

Pada halaman keenam belas K.H.R. Ma’mun Nawawi mengawali syarh al Hadis-nya. Beliau berkata, “Hadis ini, hai dulur, harus diingat dan jangan sampai terlupakan.” Sebuah peringatan di bagian awal bagi semua untuk selalu menerapkan hadis ini dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, menurut K.H.R. Ma’mun Nawawi, tidak ada guna memperbanyak bicara walaupun itu merupakan pembicaraan yang diperbolehkan.

Baca Juga :  Di Tengah Kegaduhan Politik, Ini Akhlak yang Seharusnya Dimiliki Umat Islam

Terlebih pembicaraan yang diharamkan, harus dibatasi dan diberi “rem”. Yang demikian merupakan ciri manusia yang berakal sempurna. Sebaliknya, beliau menganggap orang yang suka berbicara adalah salah satu ciri keras kepala, walaupun bisa ngaji (paham dan memiliki dasar pengetahuan atas sesuatu yang dibicarakan).

“Maka umur teh ulah disia-sia, mending maca tasbih jeung dzikir jeung maca shalawat maca al Qur’an anu kacida ageung pahalana jeung faedahna dunia akherat.”

“Hai dulur, umur jangan sampai disia-siakan, lebih baik perbanyak tasbih, zikir, salawat, membaca Al Qur’an yang begitu agung pahala dan faedahnya di dunia dan akhirat.”

Selanjutnya beliau memberikan kisah yang terdapat dalam sebuah hadis bahwa ada seorang manusia yang berbicara hanya sepatah dua patah kata, kemudian wafat dan masuk ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun. Mengapa? Karena dia merasa bahwa itu tidak berbahaya sekali. Padahal, itu adalah dosa besar.

Memang, lanjut beliau, dosa yang dilakukan melalui perkataan seringkali tidak terasa. Maka ketika ingin megucapkan sesuatu, hendaknya dipikir terlebih dahulu, “Apakah wajib atau sunah?” “Atau malah haram dan makruh?” Ya harus ditinggalkan! “Atau hanya mubah?” Itu bagaimana pilihan, tapi yang lebih utama adalah diam.

Seringkali suatu perkataan atau perkacapan memancing perkataan haram, seperti mengumpat dan berbohong. Maka, jangan berbica hanya berdasarkan keinginan seperti umumnya manusia-manusia zaman sekarang; ketika berkumpul dengan teman-temannya, sampai lupa daratan; berlomba-lomba memperbanyak bicara. Tidaklah ada ucapan yang kamu ucapkan, kecuali ditulis oleh malaikat Raqib dan Atid.

*وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here