Kitab Bahjat al-Wudluh: Di Dunia, Susah dan Senang itu Silih Berganti

0
159

BincangSyariah.Com – Setelah menjelaskan hadis pertama, hadis kedua dalam kitab Bahjat al Wudluh fi Hadits Opat Puluh ini berbicara tentang salah satu ciri khas kehidupan di dunia, yaitu susah dan senang. Karena di dunia, susah dan senang itu silih berganti, tidak selamanya. Hadis tersebut bersumber dari riwayat Ibnu Lal dari Anas bin Malik R.A., Rasulullah Saw bersabda,

كُلُّ نَعِيمٍ زَائِلٌ إِلا نَعِيمَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَكُلُّ هَمٍّ مُنْقَطِعٌ إِلا هَمَّ أَهْلِ النَّارِ

 “Setiap kenikmatan (kebahagiaan), pasti akan berlalu, kecuali kenikmatan (yg dirasakan oleh) penduduk surga. Dan setiap kesedihan/duka cita itu akan berlalu, kecuali kesedihan (yg dirasakan oleh) penduduk neraka.”

al-Munawi, dalam kitabnya Faidh al Qadir, menjelaskan rantai sanad Hadis riwayat Ibnu Lal ini. Menurutnya, Hadis ini berkualitas dhaif karena ada dua perawi yang bermasalah, yaitu Muhammad bin Hamdawaih (w. 255 H) dan ‘Amr bin al Azhar (w. 201-210 H). Menurut Ibnu Hajar (w. 852 H), Muhammad bin Hamdawaih (w. 255 H) memiliki hafalan yang lemah, sedangkan ‘Amr bin al Azhar dianggap pembohong oleh al-Bukhari (w. 256 H). Namun walaupun demikian, Hadis ini tidak memuat masalah hukum dan ibadah, subtansinya pun tetap boleh menjadi pegangan bagi masyarakat.

K.H.R. Ma’mun Nawawi, penulis kitab, memulai penjelasan dengan sedikit memperlebar artinya, “Segala nikmat akan sirna kecuali nikmat ahli surga, dan segala kesengsaraan akan terputus kecuali kesengsaraan ahli neraka. Karena itu, ketika mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, jangan terlalu berlebihan mizah (bercanda), hura-hura, dan canda tawa melewati batas. Harus ingat! Itu tidak akan abadi, tidak lama lagi akan hilang. Pun demikian, ketika kesusahan datang, jangan meratapi berlebihan. Tidak mengapa, waktunya sabar, toh tidak akan lama, sebentar lagi akan lepas. Sehingga, tidak ada satu hari bahkan satu jam kecuali dua hal; sedih dan bahagia. Keduanya hanya silih berganti, karena segala sesuatu itu merupakan ujian dan cobaan.”

Kita sama-sama tahu bahwa tidak hanya dalam keadaan sedih dan susah, senang dan bahagia pun adalah bagian dari ujian dan cobaan. Bahkan, bagi sementara orang, yang kedua ini merupakan ujian dan cobaan yang lebih berat. Semua tergantung dari sikap kita dalam menyikapi dan memanfaatkannya.

Baca Juga :  Ustaz Abdul Somad Baiat Tarekat pada Habib Luthfi

Kemudian beliau menganalogikan dengan perbandingan dalam realita kehidupan. Misalnya kenyataan bahwa pada setiap terang pasti ada gelap, baru dan lama, menang dan kalah, tajam dan tumpul, gagah dan loyo, untung dan rugi, sehat dan sakit, hidup dan mati, dan seterusnya.

Dalam Hadis ini, K.H.R. Ma’mun Nawawi ingin memberikan tuntunan cara pandang ketika harus bertauhid dan beribadah kepada Allah Swt. Kita sebagai hamba Allah, jangan asal-asalan membawa keinginan diri sendiri. Menurut beliau, sekarang memang waktunya patuh kepada perintah dan menjauhi larangan Allah Swt, toh cuma sebentar. Jika ingin bahagia nanti saja di surga yang kekal abadi. Pada dasarnya manusia itu amat mulia jikalau memiliki iman dan Islam, sertai amal salih ada dalam genggamannya. Sebaliknya, betapa hinanya di akhirat kelak manusia yang kehilangan iman, Islam, serta tidak beramal salih.

K.H.R. Ma’mun Nawawi menutup penjelasannya Hadis kedua ini dengan kalimat, “ingat-ingatlah sauadara, nasihat ini!”

Semoga kita menjadi manusia yang selalu taqwa; senantiasa patuh terhadap perintah Allah Swt, menjauhi larangan-Nya, serta bahagia di dunia dan akhirat kelak. Amiin…

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here