Kita Dilarang Melakukan Ini Saat Berkabung

1
6304

BincangSyariah.Com – Kematian merupakan sebuah keniscayaan. Hanya soal waktu saja bagi sesiapapun yang memiliki kehidupan untuk sampai pada kematian. Bagi yang meninggal, ia akan menghadapi alam baru, meninggalkan alam dunia menuju alam kubur yang disana telah siap menunggu malaikat Munkar dan Nakir yang menanyai setiap amalan kita di dunia. Bagi yang ditingalkan, umumnya, kematian akan menimbulkan rasa duka yang cukup mendalam.

Sedih karena ditinggal mati merupakan hal yang wajar bagi manusia. Islam memandang boleh saja bagi seseorang untuk menunjukkan rasa berkabung dan sedih saat ada orang yang kita sayangi meninggal. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah kedapatan meneteskan air mata saat menghadiri pemakaman salah satu puteri beliau yang wafat mendahului beliau.

Namun demikian, Islam mengajarkan bahwa tidak ada yang baik dalam apapun yang berlebihan. Termasuk dalam hal perkabungan. Rasulullah SAW memberikan beberapa larangan terkait perkabungan karena jika hal tersebut dilakukan, akan memberikan indikasi tidak menerima terhadap takdir Allah, dan hal tersebut haram hukumnya.

Larangan tersebut diantaranya ialah bentuk ekspresi kesedihan yang berlebihan seperti merobek-robek pakaian, menangis dengan berteriak, menampari muka, atau memotong-motong rambut. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مِنْ لَطْمِ الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukanlah termasuk golongan kita, (orang yang ketika tertimpa musibah) menampari pipi, merobek baju, dan berteriak dengan teriakan jahiliyyah.” (HR. Ahmad)

Hal-hal yang disebutkan oleh Rasulullah diatas ialah kebiasaan orang-orang Jahiliyah sebelum Islam yang terlalu berlebihan saat mendapati kabar duka. Termasuk diantaranya ialah yang disebut sebagai niyahah. Niyahah adalah menjerit-jerit menyebut kebaikan mayit saat perkabungan dengan imbuhan semacam mempertanyakan akan jadi seperti apakah dirinya sepeninggal kematian si mayit. Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga :  Hukum Otopsi Jenazah dalam Islam

النِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Niyahah atas kematian seseorang termasuk tradisi jahiliyyah.” (HR. Ibn Majah)

Lebih lanjut, Rasulullah juga memberikan penegasan dengan hadits lain, yakni:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّائِحَةَ وَالْمُسْتَمِعَةَ

“Rasulullah saw melaknat wanita-wanita yang melakukan niyahah, dan orang yang mendengarkannya.” (HR. Baihaqi)

Secara spesifik, al-Qulyubi dalam kitab Hasyiyah al-Qulyubi memerinci hukum berkabung dengan cara meluapkan kesedihan lewat tangisan, sebagaimana berikut:

  1. Boleh, jika tangisan timbul oleh pengaruh rasa takut terhadap nasib mayit di akhirat kelak, rasa cinta pada sang mayit, atau rasa iba dan sayang kepadanya, seperti kesedihan atas meninggalnya anak kecil.
  2. Sunnah, jika tangisan ditimbulkan oleh rasa sedih atas meninggalnya orang-orang shaleh dan alim, para pembawa panji Allah, pewaris para Rasul.
  3. Makruh, jika tangisan ditimbulkan oleh unsur sedih atas meninggalnya orang yang mengayomi kehidupan duniawinya.
  4. Haram, jika tangisan ditimbulkan oleh unsur ketidakrelaan terhadap ketetapan takdir Allah.

Dengan demikian, kesimpulannya, segala bentuk ekspresi kesedihan atas musibah yang berlebihan hingga menunjukkan ketidakrelaan akan takdir Allah, hukumnya adalah haram.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here