Kisah Pemuda Terlepas dari Jeratan Hutang Karena Keberkahan Membaca Shalawat

0
59

BincangSyariah.comal-Imam Ibn al-Jauzi pernah menceritakan sebuah kisah haru mengenai keberkahan membaca shalawat. Cerita ini termaktub rapi dalam Kitab Al-Muntazham fî Târîkh al-Mulûk wa al-Umam. Sebuah kitab babon sejarah miliknya.

Di Kota Kurkh terdapat seorang pemuda yang dikenal baik sebagai pedagang yang terpuji. Ia terkenal dengan kejujurannya kala berinteraksi dengan masyarakat. Tak heran jika sebagian masyarakat menaruh hormat pada pemuda satu ini. Tokonya selalu ramai oleh para pembeli dari sekitar Kota Kurkh ini.

Namun nahas karena beberapa kebutuhan mendadak dan keperluan lain yang tidak bisa dihindari, ia terlilit hutang yang begitu banyak. hutangnya membuat ia begitu gamang dan sedih karena baru kali ini ia terjerat hutang begitu banyak. Tak tanggung-tanggung, hutangnya mencapai 600 dinar, angka yang sangat fantastis untuk ukuran waktu itu.

Ia pun memutuskan untuk menutup lebih awal tokonya dan memilih untuk berdiam diri di rumah untuk memfokuskan diri berdoa dan bershalawat dengan harapan ada jalan untuk melunasi hutangnya. Memasuki malam jumat, ia lebih meningkatkan intensitas berdoa dan bershalawat. Ia begitu yakin lantaran Rasulullah SAW dan kemurahan Allah hutangnya itu akan segera terlunasi. Hingga ia tak-henti-hentinya membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Ditengah-tengah keseriusannya, ia pun tertidur.

Tak disangka didalam tidurnya ia bertemu dengan Rasulullah SAW. dan beliau berkata, “Temuilah (wazir) Perdana menteri Ali bin Isa di istana, aku telah memerintahkannya untuk memberimu uang sebanyak 400 dinar. Setelah itu gunakan uang tersebut untuk melunasi hutangmu!” perintah Rasalullah kepadanya.

Sontak setelah menerima perintah tersebut ia terbangun dari tidurnya. Masih begitu jelas dalam ingatannya pesan Rasulullah kepadanya. Namun satu hal yang ia musykilkan, mengapa Rasulullah hanya memberikan 400 dinar sedangkan hutangnya sebanyak 600 dinar? namun, cepat-cepat ia singkirkan fikiran itu dan langsung memutuskan untuk menuju istana guna menemui Perdana menteri Ali bin Isa.

Sesampainya didepan gerbang istana ia ragu-ragu, berkali-kali ia melihat dirinya memantaskan diri. “Apa nanti aku tidak diusir oleh pengawal istana dengan penampilanku seperti ini?” gerutunya dalam hati.

Hingga datanglah seorang pengawal istana yang telah ia kenal. Kedatangannya tentu menghilangkan keraguannya tadi. Dengan cepat ia temui pengawal itu. Dan justru pengawal tersebut yang seakan tergupuh mencarinya.

“Wahai pemuda, sungguh menteri telah mencarimu semenjak sahur tadi pagi! namun tak seorang pun yang menemuimu. beruntunglah kini kau datang sendiri kemari.”

Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju istana menemui sang menteri. Sesampainya dihadapan sang menteri ia ditanyai, “siapa namamu?”

“Nama saya Fulan bin Fulan al-Atthar (penjual minyak wangi)” jawab pemuda

“Dari Kota Kurkh?” tanyanya lagi

iya” jawabnya pendek.

“Syukurlah wahai pemuda, semenjak tadi malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak dikarenakan semalam aku bermimpi bertemu Rasulullah dan beliau memerintahkanku untuk memberimu 400 dinar. Namun setelah kucari diseluruh penjuru negeri tak satupun ada yang mengenalmu. Syukurlah kini aku bisa bertemu denganmu.” cerita sang menteri dengan wajah sumringah penuh kelegaan. Sang menteri kemudian menginstruksikan kepada pengawalnya untuk mengambilkan seribu dinar kepada sang pemuda.

“Ini 400 dinar ambillah sesuai perintah Rasulullah SAW, sedangkan 600 dinar sisanya juga untukmu sebagai imbalan bagimu.”

“Wahai menteri, sungguh aku tak akan mengambil melebihi apa yang telah diberikan oleh rasulullah SAW lewat engkau, karena aku hanya mengharap barokah dari pemberian beliau. Tidak lebih” jawab sang pemuda. Mendengar hal tersebut Menteri Ali bin Husain tak kuasa menahan tangis haru.

Lantas sang pemuda hanya mengambil 400 dinar bagiannya, dan kembali menuju ke tokonya.

Sungguh perasaannya kala itu sangatlah bahagia, hingga ia pun menceritakan semua kejadian dan kejaiban yang dirasakannya kepada temannya. Ia juga lantas memerintahkan kepada sang teman untuk mendatangkan orang-orang yang ia hutangi selama ini untuk bernegosiasi terkait hutangnya.

Setelah mereka berkumpul ternyata mereka menuntut kepadanya untuk segera melunasi semua hutang-hutangnya. Kalau tidak mereka akan menyita toko dan menjalankannya. Karena menurut mereka ia sudah terlampau lama tidak segera membayar.

Namun, apalah daya uang pemberian Rasulullah hanyalah 400 dinar, masih kurang 200 lagi untuk bisa membayar lunas semuanya. Akhirnya ia menawarkan sementara ini dibayar sepertiga terlebih dahulu yakni 200 dinar dan sisanya menyusul.

Sedangkan sisa 200 dinar pemberian rasul digunakan untuk modal untuk kembali membuka tokonya tersebut. Akhirnya mereka semua setuju dan ia kembali berjualan minyak wangi mermodalkan uang pemberian rasulullah SAW. Ternyata dalam waktu singkat, laba toko meningkat signifikan. Ia mendapatkan laba sebanyak 1000 dinar. Ia sangat bersykur kepada Allah SWT atas keberkahan tersebut karena bisa membayar semua hutang-hutangnya dan tokonya pun semakin laris dan maju.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here