Kisah Nabi Ibrahim Ditegur Karena Memaksa Majusi Masuk Islam

3
2701

BincangSyariah.Com – Membaca kembali sejarah memiliki faidah yang sangat besar, terutama untuk melihat bagaimana sebuah teori diterapkan oleh orang-orang terdahulu.

Akan menjadi lebih mudah menemukan relevansi sebuah teori dengan realita jika kita membaca sirah orang-terdahulu. Akhir-akhir ini sering kita mendengar bahwa bergaul, bersahabat, berkawan ataupun hanya sebatas mu’asyarah dengan baik pada orang selain muslim adalah sebuah keharaman dan bertolak belakang dengan nash-nash kitab suci Alquran.

Salah satu yang paling populer digaungkan adalah Al-Maidah ayat 51, yang di dalamnya terdapat larangan menjadikan kaum Nasrani ataupun dari Yahudi menjadi auliya’. Terlepas dari penafsiran-penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, saya ingin menguak sisi berbeda dari konteks permasalahan ini. Maka saya akan mengajak untuk menapaktilasi kembali kisah orang terdahulu dalam pergaulan mereka terhadap kaum selain muslim.

Dalam Ihya’ Ulumiddin (juz 4,hlm 41) dikisahkan, seorang Majusi meminta jmauan makan kepada khalilullah Ibrahim As. Nabi Ibrahim As menerima permintaan itu akan tetapi dengan satu buah syarat “Jika kamu mau memeluk agama Islam kamu akan ku beri jamuan makan”. Mendengar persyaratan yang diajukan kepadanya, sang Majusi merasa berat hati dan dengan langkah gontai meninggalkan Nabi Ibrahim As.

Allah Maha Tahu tentang semua yang terjadi pada makhluk-Nya. Dia menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim As “Hai Ibrahim, selama tujuh puluh tahun Aku memberinya makan dalam kekufurannya, sedangkan kau? Apa ruginya bagimu untuk memberinya makan barang semalam saja?”.

Mendengar wahyu tersebut, Nabi Ibrahim As langsung lari mengejar si Majusi yang tadi telah ia kecewakan. Ia mengajak si Majusi kembali dan memberinya jamuan makan. Si Majusi yang merasa heran dengan perlakuan baik Nabi Ibrahim As bertanya “Mengapa engkau melakukan semua kebaikan ini padaku?”.

Mendengar pertanyaan tersebut Nabi Ibrahim As pun menceritakan apa yang ia alami. Si majusi merasa takjub dan berkata “Begitukah Allah memperlakukanku selama ini, bantulah aku! Aku ingin masuk Islam sekarang juga!” kemudian si Majusi pun memeluk agama Islam.

Baca Juga :  Hukum Memakai Cincin Bertuliskan Lafadz Allah, Apakah Boleh?

Dalam kisah lain yang dituturkan dalam Alfu Qishshah wa Qihshah min al-Shalihin (Seribu Satu Kisah Orang-orang Saleh, halaman 39) bahwa Imam Pembesar para Tabiin yakni Imam Hasan Al-Bashri pernah memiliki tetangga Nasrani yang bertempat tinggal di atas rumah beliau. Kebetulan toilet dari rumah tetangga Nasrani itu bocor dan menetes tepat di tempat tidur Imam Hasan. Tetesan itu ditampung dalam satu wadah dan tidak ada komplain dari beliau. Hal tersebut berlangsung sampai 20 tahun lamanya.

Suatu kali Imam Hasan jatuh sakit dan si tetangga Nasrani pergi menjenguknya. Si tetangga kaget dengan pemandangan yang dia lihat, ia berkata “Mulai kapan hal ini tejadi?” Imam Hasan pun menjawab setelah si tetangga mendesaknya, “Sudah dua puluh tahun.” Betapa kagetnya tetangga Nasrani mendengarnya. “Mengapa engkau melakukan hal demikian?” tetangga Naarani mencoba mengorek alasan. Imam Hasan berkata, “Sebab Nabi kami pernah bersabda bahwa orang yang percaya pada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”

Mendengar hal itu, tetangga Nasrani langsung menanggalkan agama lamanya dan berikrar pada agama Islam.

Dari kisah-kisah di atas kita dapat tahu bagaimana kiranya wajah Islam harus ditampakkan. Yakni dengan penuh cinta dan kasih tanpa pilih kasih.

3 KOMENTAR

  1. Asalamualaikum saudaraku,
    Mohon di teliti kembali ini kisaH Nabi Musa Apa Ibrahim as.
    Apa barang kali sy yg kurang teliti membacanya?

  2. Mohon maaf. saya kurang faham dengan jalan pemikiran anda dalam tulisan di atas. Disitu ditulis relevansi antaran QS. Al-Ma’idah 51 dengan kisah nabi Ibrahim AS dan Imam Hasan Al-Bashri. Dalam Surat Al-Ma’idah 51 itu kita dilarang oleh Allah SWT untuk tidak menjadikan yahudi dan nasrani sebagai wali. Kalimat larangannya sangat jelas tidak mengandung ambigu. Dan yang dimaksud wali adalah orang yang kita serahi tanggung jawab sebagai pelindung dan pengayom atas urusan kita sesuai dengan konteks dan kondisinya. Jika konteksnya sebagai warga negara maka wali kita presiden, jika sebagai warga provisi maka wali kita adalah gubernur, jika dalam urusan pernikahan maka walinya adalah wali nikah atau wali hakim, jika dalam urusan beragama maka wali kita adalah ulama, dsb. sedangkan dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan Imam Hasan Al-Bashri adalah perintah untuk menghargai dan menghormati sesama manusia walau berbeda keyakinan selama di luar urusan ibadah. Lantas dimana letak relevansi dan korelasinya? Ke arah mana anda mencoba menggiring suatu opini? Mohon diluruskan kembali tulisan dan niatnya….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here