Kisah Nabi Daud Berdialog dengan Ulat Merah yang Berzikir

0
2530

BincangSyariah.Com – Imam Al-Gazâlî ra. menceritakan dalam kitabnya, Mukâsyafah al-Qulûb al-Muqarrab Ilâ Ḥaḍrah ‘Allâm al-Guyûb, bahwa suatu ketika Nabi Daud as. sedang duduk di dalam ruang peribadatannya sembari membaca kitab Zabur. Tiba-tiba beliau melihat seekor ulat merah sedang berjalan di atas tanah. Kemudian, beliau berkata kepada dirinya, “apa yang sebenarnya diinginkan oleh Allah menciptakan makhluk semacam ini?”

Mendengar pernyataan itu, akhirnya Allah memberikan kekuasaan berbicara kepada ulat merah tadi. Sehingga ia menjawab pertanyaan Nabi Daud as. tersebut seraya berkata, “wahai Nabi Allah, aku diciptakan oleh Allah ke muka bumi tidak lain dan tidak bukan untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap hari aku berzikir, subḥâna allâh wal ḥamdu li allâh wa lâ ilâha illâ allâh wa allâh akbar, sebanyak seribu kali. Ketika malam tiba, aku tak henti-henti membaca salawat, allâhumma ṣalli ‘alâ muḥammad an-nabiyyi al-ummiyyi wa ‘alâ âlihî wa ṣaḥbihî wa sallim, sebanyak seribu kali juga, sebagaimana perintah Allah kepadaku. Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa yang telah engkau baca untuk memuji Allah dalam setiap hari dan malam, sehingga engkau berani berkata demikian?”

Setelah mendengar penuturan dan sindiran ulat merah tersebut, maka Nabi Daud as. langsung menyesali perbuatannya. Hatinya bergetar karena takut kepada Allah dan langsung bertobat serta tawakal kepadaNya.

Cerita tentang bertasbihnya ulat merah ini sesuai dengan surat al-Isrâ’ (17): 44 yang berbunyi, langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.

Menurut Imam aṣ-Ṣâwî dalam kitabnya, Ḥâsyiyah al-‘Allâmah aṣ-Ṣâwî ‘alâ Tafsîr al-Jalâlain, ayat ini memberikan pemahaman bahwa semua makhluk Allah, seperti malaikat, manusia, jin, binatang, tumbuhan, bebatuan, dan benda-benda keras lainnya bertasbih kepadaNya. Makanya tidak heran ketika Imam Ad-Dîba’î memberikan untaian indah dalam Mawlid ad-Dîba’î bahwa manusia, benda, bebatuan, dan binatang semuanya bertauhid kepada Allah Swt. Bahkan menurut Rumi dalam bukunya, Fihi Ma Fihi: Mengarungi Samudera Kebijaksanaan (2016), orang kafir dan orang beriman, keduanya sama-sama bertasbih.

Baca Juga :  Tips Nabi agar Zikir Memiliki Pengaruh dalam Hidup

Dengan kata lain, mereka tidak henti-hentinya beribadah kepada Penciptanya. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka senantiasa begitu mesranya dengan Zat Yang Maha Cinta dan Maha Intim serta Maha Mesra melalui pujian-pujian yang mereka untaikan kepadaNya. Sehingga sangatlah zalim dan keji apabila orang-orang melakukan perusakan terhadap keberadaan mereka. Hal ini karena alam dan isinya seperti binatang, tumbuhan, bebatuan, air, tanah, pasir, jin, dan makhluk Allah lainnya hakikatnya sama dengan manusia, yaitu sama-sama makhluk (ciptaan) Allah yang harus dihormati dan dihargai keberadaannya, sebagaimana dapat dipahami dari surat al-An’âm (6): 38.

Oleh karena itu, kita tidak boleh sembarangan apalagi sewenang-wenang dalam memperlakukan mereka. Penting sekali bagi kita memiliki tata krama hidup yang baik terhadap mereka. Lantaran mereka adalah umat-umat layaknya umat manusia. Mereka tidak hanya sahabat atau keluarga bagi manusia, tetapi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia. Tidak lain karena manusia butuh kepada mereka dan begitu pula sebaliknya agar kehidupan berjalan seimbang sampai kepada batas yang sudah ditentukan oleh Pemilik alam ini.

Namun demikian, Islam tetap memperbolehkan umat manusia menggunakan dan menikmati isi alam tersebut untuk memenuhi kebutuhannya, sebagaimana dapat dipahami dari surat al-Jâśiyah (45): 13. Dengan catatan, tetap menggunakan cara yang benar dan baik seperti karena adanya kebutuhan. Tentu butuh dan tamak adalah dua hal yang sangat berbeda.

Orang-orang yang memiliki nurani dan akal sehat pasti bisa membedakan antara kebutuhan dan keserakahan dalam memanfaatkan binatang, bebatuan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain. Tamak merupakan keserakahan yang akan menyebabkan kerusakan terhadap kehidupan alam semesta. Ketika kebutuhan yang dijadikan dasar utamanya, maka manusia tidak akan melampaui batas, sehingga alam akan berjalan seimbang dan terus lestari, sebagaimana dapat dilihat dari kehidupan binatang di hutan yang senantiasa memenuhi kebutuhannya tanpa merusak alam. Namun, apabila ketamakan dan keserakahan yang dijadikan pijakan, maka kerusakan alam akan terjadi di mana-mana, sebagaimana dapat disaksikan di Indonesia karena adanya kerakusan dari oknum-oknum manusia.

Baca Juga :  Tiba di Kampung Halaman, Ini Doa yang Bisa Dibaca

Dalam hal ini, penulis mengambil pemahaman dari surat al-Isrâ’ (17): 33. Salah satu teks yang terdapat dalam ayat itu adalah kata “an-nafs. Sebagian orang menafsirkan kata tersebut dengan manusia (orang). Lengkapnya, wa lâ taqtulu an-nafsa allatî harrama allâh illâ bi al-ḥaq. Sehingga bermakna, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan suatu alasan yang benar. Sementara bagi penulis, kata an-nafs sangat luas dan dalam maknanya. Ia tidak terbatas kepada makna manusia saja, tetapi lebih dari itu. Tidak lain karena salah satu makna dari kata an-nafs adalah jiwa. Penulis sendiri lebih setuju memaknai kata an-nafs dalam ayat tadi dengan jiwa. Karena makna jiwa lebih umum dan luas dari pada manusia. Apabila ditarik ke dalam kajian ilmu Nahwu, maka penulis lebih setuju huruf al yang ada dalam kata an-nafs (baca: al-nafs) dijadikan sebagai al istiqrâqiyyah, yaitu al yang memberikan makna meliputi (seluruh atau semua). Dengan demikian, kata an-nafs dalam ayat di atas bukan hanya bermakna satu jiwa, tetapi seluruh atau semua jiwa.

Karena, menurut hemat penulis, alam dan seluruh isinya merupakan makhluk hidup yang memiliki jiwa masing-masing. Jiwa tidak hanya dimiliki oleh makhluk bernama manusia, tetapi juga dimiliki oleh makhluk-makhluk lain, seperti binatang, tumbuhan, bebatuan, tanah, pasir, air, udara, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka makna dari ayat, wa lâ taqtulu an-nafsa allatî harrama allâh illâ bi al-ḥaq adalah janganlah kamu membunuh (semua) jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan suatu alasan yang benar. Hal ini memberikan pemahaman bahwa kita dilarang membunuh binatang, tumbuhan, bebatuan, pasir, dan isi alam lainnya—apalagi manusia tanpa adanya alasan yang dibenarkan.

Baca Juga :  Adakah Hukuman Bagi Pelaku Dosa Besar?

Sehingga merusak keberadaan mereka sama saja dengan menyakiti dan menzalimi keberlangsungan hidup mereka. Membunuh mereka tanpa adanya alasan yang dibenarkan berarti telah menghentikan ibadah, percintaan, percumbuan, dan kemesraan mereka dengan Allah, Zat Pencipta dan Pemilik kehidupan dan kematian. Dalam pemahaman penulis, kita dibenarkan membunuh makhluk-makhluk tersebut karena adanya kebutuhan, baik untuk dimanfaatkan maupun karena mengganggu dan membahayakan. Berbeda dengan ajaran agama Buddha di Tibet yang melarang masyarakat membunuh binatang seperti cacing karena takut merupakan reinkarnasi para leluhur mereka, sebagaimana diceritakan dalam film Seven Years in Tibet.

Sementara makna wali yang terdapat dalam ayat 33 surat al-Isrâ’ tersebut untuk konteks sekarang, menurut pemahaman penulis, adalah negara yang dijalankan oleh para aparaturnya sebagai wakil masyarakat dan alam sekitar yang berada di bawah kekuasaannya. Dengan demikian, apabila ada orang yang merusak lingkungan (alam sekitar), atau membunuh orang lain, atau membuat kerusakan, atau melakukan perbuatan jahat lainnya, maka orang tersebut diserahkan kepada pemerintah setempat agar dihukum sesuai dengan perbuatannya, sebagaimana diatur dalam undang-undang.  Selebihnya, wa allâh a’lam wa a’lâ wa aḥkam…



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here