Kisah Harun Ar-Rasyid dan Ustadz Amatir

0
1219

BincangSyariah.Com – Rabu, 03 April 2019 lalu, Masjid Bayt Al-Qur’an mengadakan acara ngaji bareng Gus Baha dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Gus Baha merupakan salah satu kiai produk pesantren yang sangat alim, hafal Al-Qur’an dan fasih dalam berbagai bidang ilmu keagamaan. Video pengajiannya telah banyak tersebar di berbagai jejaring sosial dan Youtube.

Gus Baha atau Bahauddin adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Qur’an di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati.

Salah satu pernyataan Gus Baha yang patut dijadikan bahan instrospeksi adalah ketika beliau menjawab permintaan salah satu audiens yang mengharapkan Gus Baha untuk memberikan nasihat agar anak-anak muda NU juga mau turun berdakwah.

Gus Baha berpesan bahwa kalau berdakwah itu harus bilhikmati wal mauidhaitil hasanah (dengan hikmah dan pesan yang baik). Gus Baha pun kemudian bercerita tentang kisah Harun Ar-Rasyid dan ustadz amatir yang harus dicamkan.

Dahulu, ada seorang ustadz, ustadz amatir yang berani datang ke Harun Ar-Rasyid. Seorang khalifah yang alim termasuk Dinasti Abbasiyah, temannya Imam Malik, jadi termasuk khalifah yang shalih.

Ustadz amatir itu berkata, “Ya amiral mukminin inni nasihun laka famusyaddidun alaika tajidanna finafsika alayya syai’un.”

“Ya amiral mukminin, saya akan menasihati kamu, cuman saya agak ekstrem tolong jangan dimasukkan hati, saya akan ngomong keras, lantang.” Padahal ia berbicara kepada presiden, amirul mukminin.

Mendengar ketidaksopanan ustadz amatir itu, Harun Ar-Rasyid pun berkata,”Uskut, fainna Allaha ta’ala qad ba’atsa man huwa khairun minka ila man huwa syarrun minni wa ma’a dzalika yaquulu ta’ala wa quula lahu qaulan layyina.”

Baca Juga :  Tertawa Dalam Masjid Menyebabkan Kegelapan di Alam Kubur?

“Hai ustadz kamu diam, Allah itu pernah menugaskan orang yang lebih baik ketimbang kamu yaitu Nabi Musa dan Harun kepada orang yang lebih buruk ketimbang saya, yaitu Fir’aun itu saja ada etikanya, faquula lahu qaulan layyinan koq kamu sama saya mau keras nggak bisa,” kata Harun Ar-Rasyid.

Ustadz amatir itu pun langsung berkata, “Ternyata kamu lebih alim.”

Dari kisah tersebut, Gus Baha berkata, “Kalau ada ustadz terlalu keras terlalu tegas misalnya kepada waliyyul amri, kepada penguasa itu kata Harun Ar-Rasyid “Uskut ya ustadz, kamu diem.”

Keterangan Gus Baha tersebut sangat memberikan instrospeksi kepada kita di mana masih banyak ustadz-ustadz atau orang-orang yang ketika berdakwah terkesan “ugal-ugalan” tidak mau mengikuti etika/tatakrama. Padahal, Rasulullah saw. sendiri diutus oleh Allah swt. untuk memperbaiki akhlak manusia. Lalu, bagaimana akhlak manusia akan sempurna jika para pendakwahnya saja tidak menunjukkan akhlak yang baik.

Kisah Harun Ar-Rasyid dan ustadz amatir tersebut juga dimaksudkan Gus Baha agar anak-anak PSQ (Pusat Studi Al-Qur’an) binaan Prof. Quraish Shihab khususnya dan pada seluruh orang yang hafal Al-Qur’an pada umumnya agar ayat Al-Qur’an yang dihafal itu total, menyatu pada dirinya.

“Jadi, ayat kalau ulama dulu itu sudah menyatu melihat apa saja itu langsung terbaca ayatnya. Saya mohon yang hafal Al-Qur’an harus hafal an dhahri qalbi (di luar kepala dan meresap dalam hatinya) karena itu cara spontanitas Anda.” Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here