Kisah Fudhail bin ‘Iyadh dan Pentingnya Selalu Berharap Pada Allah

0
1407

BincangSyariah.Com – Bertahun-tahun umur ini habis begitu saja, tidaklah kami sadari kalaulah kehidupan yang selama ini dijalani habis dalam keadaan menyimpang. Tak terasa tiba-tiba hati ini bergetar hebat seperti disambar petir besar, gemetarlah anggota tubuh ini ketika mengetahui kalau sudah bertahun-tahun lewat tidak ada sesuatu yang kami persiapkan untuk masuk liang lahat.

Hati ini merasakan penyesalan dan kami tidak bisa menguasai diri kami, kecuali kucuran air mata yang terus mengalir ke pipi sedih atas sikap yang melampaui batas dan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Padahal Allah mengingatkan dalam firmannya,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

Maka apa kah kamu mengirah bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main saja dan kamu tidak akan di kembalikan kepad kami. QS Al Mukminun [23]: 115

Sesungguhnya keburukan itu membuat aura wajah menjadi gelap, juga kegelapan di hati dan kuburan, kelemahan pada badan, dan mempersempit rezeki serta menimbulkan rasa kebencian terhadap sesama.

Dan kebaikan itu menerangi wajah, mempertajam cahaya di hati, mempermudah datangnya rezeki, mendatangkan kekuatan pada tubuh dan menimbulkan cinta terhadap sesama.

Dulu Fudlail Ibn ‘Iyadl seorang penyamun, pada suatu ketika ia sangat terpikat dengan seorang wanita maka datanglah suatu malam beliau menyelinap ke rumah wanita tersebut, tatkala beliau memanajat tembok, tiba tba saja beliau mendengar lantunan ayat Alquran,

“Belum datangkah waktunya bagi orang –orang yang beriman untuk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan jangalah mereka seperti orang –orang sebelumnya telah turun Al kitab kepadanya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan mayoritas mereka adalah orang – orang yang fasiq.” (Q.S. Al-Hadid: 16).

Baca Juga :  Warga Lakardowo Darurat Limbah Beracun dan Larangan Membuang Limbah Pabrik Sembarangan dalam Islam

Tatkala mendengarnya ayat itu beliau gemetar, teringat akan dosa yang ia lakukan setelah itu. air matan beliau selalu bercucuran, ia bertaubat kepada Allah dan meninggalkan perbuatan yang selama ini ia lakukan sampai ia menjadi seorang Ulama dizamanya yang sangat disegani dan fatwanya menjadi rujukan.

Maka benar uangkapan sebuah syair,

لَيْسَ مَنْ يَقْطَعُ طُرُقًا بطلاً *** إِنَّمَا مَنْ يَتَّقِ اللهَ البَطَلُ

Tidaklah seseorang memutus jalan-jalan kebathilan, karena orang yang bertaqwa kepada Allah yang tampil sebagai pemenang.

Maka ada ungkapan yang menarik,

قُبُوْرُنَا تُبْنَى وَنَحْنُ مَا تُبْنَا *** يَا لَيْتَنَا تُبْنَا مِنْ قبل مَا تُبْنَى

Kuburan kami sudah menanti (dibangun) dan kami belum juga mempersiapkan (taubat), andai saja kami mempersiapkannya sebelum kuburan kami dibangun.

Maka menyesal pasti di belakang tidak pernah di depan, maka mari kita berdoa semoga hari-hari kita senantiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here