Kikan Namara; Menjadi Islam, Menjadi Terbiasa dengan Perbedaan

0
288

BincangSyariah.Com – Seiring dengan fenomena peningkatan minat belajar Islam di kalangan anak-anak muda perkotaan serta permasalahan perbedaan ideologi yang juga semakin kompleks, komunitas Musisi Mengaji (Komuji) seolah hadir ingin memberikan wadah atau ruang yang mengajarkan Islam yang ramah yang terbiasa dengan perbedaan.

Kikan Namara, Ketua Komuji (Komunitas Musisi Mengaji) Chapter Jakarta, merasa optimis wadah yang diinisiasi oleh kawan-kawan musisi ini bisa menjadi melting pot bagi banyak kalangan. Sebab terbiasa berbeda merupakan ciri khas bangsa Indonesia sejak dulu. Apalagi sebagai pemeluk agama Islam yang memiliki empat madzhab fikih, perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa terjadi. Perbedaan ini merupakan kearifan khazanah Islam, bukan untuk dipertentangkan.

“Yang lebih penting, kita ingin agar Komuji bisa menjadi platform yang menyediakan wadah di mana perbedaan bisa melebur menjadi satu. Komuji ingin menjadi melting pot dimana perbedaan-perbedaan ini bisa saling menerima dan terbiasa dengan perbedaan-perbedaan itu. Bagaimana caranya agar bisa saling menerima? yang jelas harus ada sekat-sekat yang dibuka yaitu dengan melakukan dioalog,” demikian ungkapan Kikan dalam sesi interview bersama temen-teman media.

Karena itu, selalu ditekankan agar setiap kajian di Komuji harus ada dua narasumber. Antara lain tujuannya agar terjadi dialog dan membuka perspektif. Menurut Kikan, cara berfikir seperti ini yang harus dibiasakan di kalangan anak muda.

Seperti namanya, kajian-kajian yang disampaikan para Ustadz yang dihadirkan Komuji selalu diselingi dengan penampilan musik. Dengan konsep ini, Komuji ingin menjadi suatu platform atau wadah untuk bertemu dan bertukar pendapat yang bisa menjangkau semua kalangan muslim urban. Tidak hanya musisi, tapi juga mahasiswa dan para pekerja dengan berbagai latar belakang profesinya.

Baca Juga :  Malaikat al-Hafazhah dalam Alquran

Semangat Keberagamaan yang Kuat di Kalangan Anak Muda

Sebetulnya jika melihat perkembangan akhir-akhir ini dimana semangat belajar agama di kalangan anak muda semakin meningkat merupakan sebuah hal positif. Tapi, lanjut Kikan, harus  ada pagar atau orang-orang yang lebih punya ilmu di bidang ini yang kemudian menjadi influence kepada teman-teman tersebut.

Menurut pengamatan Kikan setelah dua tahun belakangan sibuk sebagai Duta Damai Dunia Maya dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), semangat keberagamaan yang kuat ini harus diarahkan supaya anak-anak muda bisa berfikiran terbuka dan tidak terjebak dalam polarisasi serta doktrinisasi yang bersifat radikal.

“Agar tidak ada lagi yang terlibat tindak terorisme yang mana awalnya mereka terkena doktrinisasi yang prosesnya tidak sebentar. Ini adalah hal yang mengkhawatirkan, saya tidak mau anak muda terlibat dalam polarisasi seperti ini dan tidak bisa berfikir terbuka kemudian para meternya menjadi sempit sekali,” ujar Kikan.

Di samping itu, Komuji juga ingin merangkul sebagian kalangan yang mulai apatis dari agama, yang mungkin gerah melihat sikap sebagian oknum yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama. Seperti yang sering terjadi belakang ini.

“Kita ingin mengingatkan bukan salah agama, itu kesalahan oknum. Tapi mungkin karena setiap hari dibombardir dengan berita yang hampir sama. Seperti beberapa teman saya yamg kemudian memutuskan tidak peduli kemudian bahkan berani memproklamirkan diri, mereka berfikir ‘ngapain beragama kalau kayak gitu’,” ungkap Kikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here