Kiai Afifuddin Muhajir dan Narasi Anti Radikalisme

1
54

BincangSyariah.ComKiai Afif, nama lengkapnya Afifuddin Muhajir, Kiai yang kealimannya sudah diakui masyarakat luas baik di kancah nasional maupun internasional. Pria kelahiran Sampang Madura tepatnya 65 tahun silam itu, selain menguasai ilmu ushul fiqh secara mendalam, beliau juga menguasai banyak masail furu’iyah. Alhasil pemikiran beliau banyak diterima di pelbagai lapisan masyarakat.

Pada satu kesempatan dalam sebuah forum, Kiai Afif menerima pertanyaan perihal radikalisme. Apakah dalam Islam ada radikalisme? Pertanyaan ini, agaknya, menempati posisi yang cukup krusial di era sekarang mengingat akhir-akhir ini narasi radikalisme kian mencuat ke permukaan.

Kiai Afif menjawab pertanyaan tersebut secara panjang lebar dan sistematis dengan memulai kata kunci apa yang dimaksud dengan radikalisme. Beliau mengutarakan bahwa radikalisme merupakan ideologi, paham atau aliran yang menginginkan perubahan politik sosial secara total, drastis dan revolusioner.

Sebelum melanjutkan pembahasan, beliau menyampaikan sebuah jargon pribadi :

اَلْإِسْلَامُ بَيْنَ الْحَمَاسَةِ وَالسَّمَاحَةِ

 “Islam itu berada diantara semangat yang menyala dan toleransi yang nyata

Dari satu sisi Islam mengajarkan kepada penganutnya agar punya semangat yang tinggi. Semangat dalam menjalankan ajaran agama dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu, manakala ada umat Islam sangat semangat mengamalkan ajaran Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar maka hal ini tidaklah salah. Muslim yang terlalu semangat mengamalkan ajaran agamanya itu jangan disalahkan, karena hal tersebut merupakan anjuran dalam agama. Namun, di saat yang lain Islam juga  mengajarkan kepada pemeluknya untuk menghargai perbedaan, bersikap toleran kepada pihak-pihak lain yang berbeda keyakinan.

Islam mengajarkan kepada pemeluknya supaya tidak mengurus urusan orang lain secara mendalam. Pada suatu peperangan, salah seorang sahabat yakni Usamah bin Zaid. Begitu bertemu dengan orang kafir, langsung dibunuh oleh Usamah bin Zaid, padahal ia sudah mengucapkan La ilaha illallah. Setiba di Madinah, Usamah bin Zaid menyampaikan apa yang terjadi kepada Rasulullah dan Beliau langsung menegur Usamah bin Zaid. Kisah ini terdapat dalam hadis Nabi :

فَقَالَ لِى يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا

Lalu Rasulullah bersabda kepadaku ‘Wahai usamah mengapa engkau membunuhnya (orang kafir) setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh (syahadat)?’ Usamah menjawab ‘ Wahai Rasulullah, dia itu mengucapkan karena ingin berlindung supaya tidak dibunuh’. (Shahih Muslim, j.1 h. 68)

أَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَمْ لاَ

Rasululah menjawab lagi “Mengapa tidak kamu belah dadanya sehingga kamu mengetahui dia benar atau berbohong.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jus 5 hal 207)

Pelajaran yang dapat diambil dari sabda Rasulullah ini adalah supaya kita tidak mengurusi orang sedalam-dalamnya. Cukup menghukumi bagian luarnya saja. Mengenai urusan dalam, biar Allah yang mengetahuinya. Dari hadis di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain.

Berkaitan dengan hadis di atas, Allah berfirman dalam surah an-Nisa ‘ ayat 94 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا ضَرَبْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَتَبَيَّنُوْا وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ اَلْقٰىٓ اِلَيْكُمُ السَّلٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًاۚ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah (carilah keterangan) dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ”salam” kepadamu, ”Kamu bukan seorang yang beriman,” (Q.S An-Nisa’ ayat 94)

Saat seseorang sudah mengucapkan syahadat, kita tidak perlu mengkafir-kafir-kan orang lain gara-gara persoalan-persoalan kecil. Ayat ini secara tidak langsung mengajarkan kepada kita supaya jangan mudah mengatakan muslim yang lain adalah kafir. Daripada menuduh pihak-pihak lain bahwa mereka adalah radikal, lebih baik kita menangkal narasi-narasi takfiri (pengkafiran) tersebut. Hal ini penting karena sebagaimana maqalah ulama :

التَكْفِيْرُ هُوَ بَرِيْدُ الدِّمَاء

Takfir (pengkafiran) merupakan jalan menuju pertumpahan darah”.

Memang salah satu ciri radikalisme adalah intoleransi, sementara Islam benar-benar mengajarkan toleransi.

Ciri Radikalisme 

Ciri radikalisme yang lain yaitu revolusioner. Sering kali disampaikan bahwa Rasulullah merupakan tokoh revolusioner. Hal ini memang tidak salah, karena Rasulullah bisa mengubah dunia dalam waktu yang relatif singkat. Dunia yang sebelumnya gelap menjadi terang benderang dalam waktu 23  tahun sehingga Rasulullah disebut revolusioner. Akan tetapi, tidak berarti Islam adalah revolusioner. Terdapat banyak bukti dari teks-teks suci bahwa Islam tidak seperti itu. Salah satunya al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Ini artinya reformasi yang dimaksudkan oleh Islam adalah reformasi yang bersifat bertahap.

Bukti kedua,  aturan-aturan syariat yang mengatur perilaku manusia baru ada dalam Islam setelah Rasulullah pindah dari Mekah ke Madinah. Hal ini dikarenakan risalah pada saat di Mekah di fokuskan kepada penanaman akidah dan perbaikan akhlak. Inilah bukti bahwa yang diiginkan adalah perbaikan yang berangsur-angsur (gradual).

Lantas kenapa dalam Islam ada perang?

Kiai Afif menuturkan bahwa pada awalnya Rasulullah tidak diijinkan oleh Allah untuk berperang. Selama berada di Mekah walaupun gangguannya luar biasa, Allah selalu memerintahkan untuk bersabar. Baru setelah pindah dari Mekah, Allah mengijinkan berperang.

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ

Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi.” (Q.S al-Hajj ayat 39)

Para ulama mengatakan bahwa jihad dalam Islam adalah ‘untuk mempertahankan apa  yang sudah ada bukan untuk mewujudkan apa yang belum ada’. Maksud dari yang sudah ada disini adalah negara. Ketika umat Islam sudah memiliki negara yaitu negara Madinah, barulah ijin perang dikeluarkan oleh Allah dalam rangka mempertahankan sebuah negara.  Dalam bahasa lain jihad dalam Islam bersifat defensif bukan ofensif. Hal ini didasarkan kepada surah al-Baqarah ayat 190 :

وَقاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Syekh Musthafa al-Maraghi seorang ulama tafsir, menjelaskan substansi ayat ini mengatakan bahwa peperangan dalam Islam bersifat defensif. Sehingga kita hanya boleh memerangi orang kafir yang menyerang kita terlebih dahulu.  (Ahmad Musthafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi. jus 2 hal 88)

Watak radikalisme yang terakhir adalah fanatik. Secara gampang fanatik itu adalah membela kepentingan pribadi atau kelompoknya meskipun mereka tidak benar. Islam menyatakan perang terhadap fanatisme, Rasulullah Saw. bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

Bukanlah bagian dari kami setiap orang yang mengajak kepada fanatisme.” (Sunan Abi Daud, j. 4 h. 332)

Ada sebuah kisah menarik yang menjadi penyebab turunnya sebuah ayat:

Seorang muslim bernama Tu’mah bin Ubairik mencuri baju besi milik tetangganya. Kemudian baju besi tersebut dititipkan kepada orang Yahudi. Akhirnya, yang dituduh sebagai pencuri adalah orang Yahudi. Tu’mah dan keluarganya datang kepada Rasulullah guna menyampaikan argumentasi bahwa bukan Tu’mah pencurinya melainkan orang Yahudi itu. Seandainya Allah Swt. tidak segera memberi tahu tentang persoalan yang sesungguhnya, nyaris Rasulullah akan memberikan putusan bahwa Tu’mah tidak salah melainkan si yahudi yang bersalah. Namun, akhirnya turun ayat :

وَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا

dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat” (Q.S an-Nisa’ ayat 105)

Ini artinya bahwa Islam tidak fanatik. “Meski Muslim kalau salah ya harus dihukum, walau Yahudi (kafir) kalau benar ya harus dibela.”

Alhasil, radikalisme yang notabene memiliki sifat intoleran, drastis, total dan revolusioner berkebalikan dengan nafas Islam yang mengajarkan sebaliknya.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here