Khutbah Jumat: Virus Corona; Antara Klaim Azab dan Solidaritas Kemanusiaan

0
2518

BincangSyariah.Com – Beberapa minggu terakhir, dunia sedang dihebohkan oleh wabah virus corona. Sebuah virus berbahaya yang konon belum ditemukan vaksinnya tersebut telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Laporan terakhir yang kita dapatkan virus tersebut telah mengakibatkan setidaknya 1.363 orang meninggal dunia di negara asalnya. Jumlah ini belum termasuk dengan mereka yang terinfeksi oleh virus tersebut di puluhan negara lainnya yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang.

Kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang berada di seberang sana diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut dan semoga virus tersebut tidak menimpa kita dan negara tempat kita berada, amien ya Rabbal ‘Alamin!

Seiring dengan menyebarnya virus tersebut, sebagian oknum muslim di Indonesia juga tengah terserang penyakit lain yang tidak kalah berbahayanya, yaitu penyakit kebencian yang diarahkan kepada negara tempat virus tersebut menyebar. Tidak sedikit di antara mereka yang menyebut kejadian tersebut sebagai azab untuk negara ataupun warga negaranya. Bahkan tidak sedikit juga yang bersyukur virus tersebut menimpa negara yang menurut mereka sangat memusuhi Islam dan umatnya.

Pertanyaannya sekarang adalah dari mana mereka bisa memastikan peristiwa tersebut sebagai azab dan manusiawikah secara etika sikap tersebut diperlihatkan di saat orang lain tengah terkena musibah besar seperti itu?

Sebagai muslim yang baik, tentu kita harus berpedoman kepada apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad Saw dan berakhlak seperti apa yang beliau contohkan dalam setiap lini kehidupan. Karena memang, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdul Wahhab Khalaf dalam mukadimah salah satu karyanya, tidak satupun aspek kehidupan manusia kecuali Islam datang mengaturnya. Pada masa Rasulullah Saw masih hidup, beliau pernah dikabari bahwa penyakit tha’un berupa kusta tengah mewabah di sebagian daerah. Mendengar berita tersebut, Rasulullahpun bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Usamah ibn Zaid di mana beliau berkata:

Baca Juga :  Liberalisme Politik dan Ideologi Jabariyyah Bani Umayyah

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا.

Apabila kalian mendengar ada wabah menular di sebuah negeri, maka janganlah memasukinya. Dan apabila wabah tersebut terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah keluar darinya!

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam penjelasannya terhadap hadis tersebut dengan mengutip banyak pendapat ulama sebelumnya mengungkapkan bahwa salah satu hikmah dari anjuran Nabi tersebut adalah untuk menjaga kemaslahatan hidup orang banyak. Dengan tidak keluarnya orang yang berada di negeri tempat wabah terjadi serta tidak masuknya orang lain yang berada di luar negeri tersebut akan menghambat persebaran wabah tersebut.

Lebih jauh Imam Ja’far al-Thahawi menggarisbawahi bahwa hal tersebut bertujuan untuk menjaga akidah dari mereka yang terkena musibah, yaitu untuk memantapkan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi pasti dengan izin Allah. Jangan sampai orang yang keluar dari negeri yang terkena musibah, kemudian selamat, lantas meyakini bahwa dia selamat dengan usaha dirinya sendiri. Begitu juga agar orang yang mendatanginya dan kemudian tertular wabah, lantas menganggap bahwa sakitnya tersebut disebabkan oleh penularan wabah tersebut.

Selintas apa yang dianjurkan Nabi Saw ini sudah diterapkan oleh negara tempat virus corona berkembang. Mereka mengisolasi Kota Wuhan yang dianggap sebagai sumber penyebaran virus tersebut. Namun yang perlu digarisbawahi dari hadis di atas adalah pernyataan Nabi yang tidak mengandung pengklaiman atau penghakiman terhadap mereka yang terkena musibah bahwa itu adalah azab atau siksaan Allah Swt buat mereka. Hadis tersebut hanya menjelaskan sikap yang seharusnya diambil oleh masyarakat apabila mereka menghadapi wabah seperti yang terjadi saat ini. Kemudian kalau kita kaitkan dengan hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:

Baca Juga :  Hukum Salat Tahiyatul Masjid ketika Khutbah  sedang Berlangsung

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْمَطْعُونُ شَهِيدٌ.

Orang yang meninggal karena penyakit perut adalah syahid, begitu juga orang yang meninggal karena wabah penyakit.

Jelas dalam hadis ini Nabi justru mengapresiasi dan menghibur mereka yang terkena wabah penyakit dan meninggal dalam wabah tersebut dengan menyebut mereka sebagai orang yang mati syahid.

Tentu saja syahid di sini bukan syahid dunia akhirat seperti syahidnya para sahabat Nabi yang berperang dalam menegakkan agama Allah pada zaman dahulu. Namun syahid akhirat yang jenazahnya masih wajib dimandikan, dikafani dan disalati seperti jenazah biasa.

Dan perlu dipahami juga bahwa syahid di sini khusus bagi mereka yang muslim (beragama Islam) saja sebagaimana dijelaskan oleh hadis lain yang diriwayatkan oleh Anas ibn Malik :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.

Kematian karena wabah penyakit adalah syahid bagi tiap-tiap muslim.

Memang benar ada hadis lain riwayat al-Bukhari yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda bahwa penyakit menular itu adalah azab untuk orang yang Allah kehendaki, sebagaimana hadis dari Sayyidah Aisyah yang menyebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ.

Dari Aisyah ra, ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang thaun (wabah penyakit menular). Lalu Rasulullah menjawab : Sesungguhnya thaun itu adalah azab yang Allah timpakan kepada orang yang dikehendakinya dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka tidaklah dari seseorang yang terkena wabah penyakit menular, lalu ia tetap sabar di negerinya atas cobaan tersebut sembari meyakini bahwa dia tidak akan ditimpa oleh sesuatu apapun kecuali apa-apa yang telah ditentukan oleh Allah Swt, melainkan dia akan memperoleh pahala mati syahid.

Hadis ini sering disalahgunakan dan memakaikannya secara serampangan terhadap orang atau golongan yang tidak disukai oleh penyampainya. Padahal dalam memahami hadis ini harus dihubungkan juga dengan hadis lain yang menunjukkan sikap santun Nabi kepada non-Muslim yang ditemuinya dalam kesehariannya. Kita tahu bahwa Nabi sangat menghargai setiap non-Muslim yang berada di sekitar beliau dengan catatan mereka yang tidak memerangi Islam dan kaum muslimin. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya Nabi ketika orang Yahudi tengah menggotong jenazah salah seorang kerabat mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah non-Muslim tersebut, menjenguk mereka yang tengah sakit, dan sebagainya.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Pandangan Ulama tentang Kitab Taurat yang Ada Sekarang

Dengan demikian, berdasarkan riwayat-riwayat yang telah penulis sebutkan, maka jelaslah bagi kita bahwa tidak selayaknya seorang muslim berprasangka buruk terhadap kejadian yang menimpa sebagian manusia lainnya, baik terhadap muslim ataupun non-Muslim. Cukuplah bagi kita menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai contoh dan pedoman dalam hal bersikap dan berakhlak terhadap sesama makhluk Allah, di mana dalam sebuah hadisnya beliau pernah menyatakan, “Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga ia mengasihi saudaranya yang lain sama seperti ia mengasihi dirinya sendiri.

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang pengasih dan penyayang sebagaimana sifat Tuhan kita, Allah Swt. Allahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here