Khutbah Jumat: Mengorek Dua Pelajaran Berharga dalam Perang Uhud yang Terjadi di Bulan Syawal

0
1221

BincangSyariah.Com – Bulan Syawal kita kenal sebagai bulan yang mengembirakan. Karena di dalamnya terdapat momen dan suasana Lebaran.  Tentunya yang namanya Lebaran kita identik dengan hari kesenangan. Terbukti, hari ini menjadi hari makan-makan, hari silaturrahim, hari penampilan baju dan busana baru, serta menjadi hari jalan-jalan bersama orang terkasih.

Momen dan suasana seperti ini bagi kita sebagai umat muslim Indonesia tidaklah cukup satu hari dua hari yaitu pada hari 1 Syawal saja.  Melainkan terus berlanjut hingga hari ke depan bulan Syawal. Artinya momen ini berlangsung lebih dari satu minggu dan berakhir dengan Lebaran yang dikenal dengan Lebaran ketupat.

Itulah sepintas gambaran pemaknaan hari Lebaran bagi kita sebagai masyarakat Indonesia. Kita sebagai umat Nabi Muhammad saw tentunya tidak boleh larut sedalam-dalamnya dalam momen Lebaran yang berlangsung berhari-hari di bulan Syawal ini hingga kita melupakan perjuangan Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya khususnya di bulan ini.

Bagi Nabi Muhammad saw beserta sahabat dan pengikutnya bulan ini di samping menjadi bulan yang seharusnya riang gembira ternyata menjadi bulan yang menyedihkan. Karena di bulan inilah kaum muslimin harus menerima kekalahan dalam perang Uhud. Sehingga jatuh banyak korban akibat satu kesalahan  yang dilakukan oleh pasukan kaum muslimin yang tertipu dengan harta. Salah satunya adalah paman Nabi sendiri, yaitu Sayyidina Hamzah yang syahid dengan cara dimutilasi oleh kaum kafir Quraisy.

Penulis di sini ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk membaca kembali sejarah peperangan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw semasa hidupnya khususnya perang Uhud ini yang menelan banyak korban. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan kecuali mengorek dan mengambil hikmah serta pelajaran untuk kemudian bisa dijadikan bekal dalam menata kehidupan selanjutnya.

Perang Uhud

Perang ini terjadi pada pertengahan bulan Syawal  tahun ke-3 Hijriyah di kaki gunung Uhud yang terletak di bagian utara Madinah. Perang ini terjadi akibat kekalahan kaum kafir Qurays pada perang Badar yang terjadi di bulan Ramadan yaitu satu tahun sebelumnya. Mereka kaum kafir Qurays ingin menebus kekalahan yang terjadi pada saat itu. Mereka menyusun kekuatan sebaik mungkin dengan menyiapkan segala hal untuk bertekad mengalahkan kaum muslimin pada perang ini. (Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta : LOGOS, 1997, Hal. 31)

Baca Juga :  Akad Menggunakan Bahasa Arab dan Saksi Tidak Memahami, Sahkah Pernikahannya?

Perang ini terjadi antara kaum muslimin yang berjumlah 700 orang yang dipimpin langsung oleh baginda Nabi Muhammad saw dan pasukan kaum kafir dengan jumlah 3000 orang yang dipimpin oleh Abu Sufyan dan khalid Bin Walid. Strategi yang digunakan oleh Nabi Muhammad adalah dengan menempatkan pasukan panah di punggung bukit untuk melindungi kaum muslimin apabila diserang dan membentengi dari serangan balik pasukan berkuda musuh. Beliau berpesan agar para pemanah tersebut tidak meninggalkan tempat dengan alasan apapun. (Muhammad Syafii, Muhammad saw the Super Leader Super Manager, Jakarta : Tazkia Multimedia & ProLM Centre, 2007, Hal. 265)

Pasukan islam dibawah komando Rasullullah saw bertempur dengan hebat sehingga memperoleh kemenangan. Dan yang paling menonjol di antara mereka ialah Abu Dujanah, Thalhah, Hamzah, Ali, Nadr bin Anaas, Sa’id bin Rabi dll. Mereka dapat memukul mundur musuh-musuh Islam. Seharusnya pertempuran ini bisa berakhir dengan kemenangan mutlak kaum muslimin kalau saja pasukan panah yang bertugas melindungi Rasullullah saw dan pasukan di medan tempur tidak turun memperebutkan harta yang ditinggalkan musuh. ( M. Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan Peranannya pada Masa Rasulullah Saw, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2003, Hal. 109)

Komandan mereka, yaitu Abdullah bin Jubair mengingatkan mereka akan instruksi Rasulullah saw yang harus dipatuhi, yaitu jangan sekali-kali meninggalkan posisi mereka. Akan tetapi peringatan itu tidak mereka dengarkan, bahkan mereka meninggalkan celah yang seharusnya mereka jaga. Inilah kesalahan fatal mereka karena pasukan Quraisy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka berputar untuk menerobos dari belakang melalui celah yang ditinggalkan itu.

Akibat serangan itu, pasukan Islam menjadi kocar-kacir, banyak diantara mereka yang terbunuh dan melarikan diri dan banyak juga yang menderita luka parah, termasuk Rasulullah saw. Beliau mendapat luka cukup serius akibat kepungan pasukan kafir yang berhasil menerobos sampai ke depan beliau dan menyerang beliau sampai gigi gerahamnya pecah dan mereka berhasil membunuh Mush’ab bin Umair (pemegang bendera perang) di depan beliau, maka bendera perang beliau serahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Pertempuran itu berlangsung sampai terbenamnya matahari sehingga pasukan musyrikin merasa letih. Akhirnya, mengundurkan diri untuk kembali ke Makkah tanpa berhasil merealisir target mereka karena ketabahan dan keberanian Rasulullah saw mempertahankan Madinah. (M. Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan Peranannya pada Masa Rasulullah Saw, Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 2003, Hal. 109-110)

Baca Juga :  Membangun Madrasah Ramah Anak

Dua Pelajaran Penting

Kita sebagai generasi Rasulullah ke sekian yang berada di suatu zaman yang jauh dari peperangan tentunya dalam membaca ulang ini tidaklah ingin mengembalikan sejarah silam. Bukan itu tujuannya. Tapi ingin mengorek semangat, pesan serta pelajaran guna dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan. Karena perang bagi kita yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bisa membentengi diri dengan segala senjata dari serangan hawa nafsu kita yang menjemuskan hingga kita jauh dari kesuksesan.

Selanjutnya bagi penulis setidaknya ada dua pelajaran berharga dari kekalahan kaum muslimin pada saat perang uhud. Kita sebagai umat Nabi Muhammad saw harus menjadikannya sebagai pedoman dalam menata kehidupan selanjutnya. Mulai dari hal-hal yang paling kecil sekalipun hingga ke yang paling besar.

Pertama, kemaksiatan dapat mencegah kesuksesan dan kemenangan

Lihatlah betapa kemaksiatan telah merenggut kemenangan yang seharusnya didapat oleh kaum muslimin. Hanya satu kemaksiatan yang dilakukan oleh para pemanah bisa menggagalkan kemenangan. Mereka melanggar perintah Nabi untuk tetap siaga di tempat dengan turun gunung memperebutkan harta yang ditinggalkan oleh kaum kuffar setelah mereka mampu mengusirnya. Namun pada akhirnya, kaum kuffar menyerang balik dengan menempati posisi yang ditempati kaum muslimin sebelumnya. Akhirnya kekalahan menjemput mereka sementara kemenangan menjauh mendekati kaum kaffir.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 152:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.”

Sunnguh kemaksiatan telah menjadi pangkal segala kerusakan dan kegaduhan. Kesenangan akan sulit didapat. Keadilan serta kemakmuran tidak akan meninggalkan jejak. Puncaknya kesuksesan dan kemenangan akan menjadi harapan belaka. Tidak akan bisa dijemput apalagi dirangkul.

Baca Juga :  Milk al-Yamin dan Tuduhan Universitas Islam Negeri (UIN) Sebagai Sarang Liberal, Benarkah?

Maka usahakan kita dengan segala filter dan benteng untuk tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Agar kita bisa menjemput kemenangan dan kesuksesan. Kita harus teguhkan kembali pada diri kita bahwa kemenangan kaum muslimin dijauhkan oleh Allah hanya karena satu kemaksiatan. Di samping, Nabi Adam pun dikeluarkan dari surga akibat satu kemaksiatan yang dilakukan.

Janganlah kita menganggap remeh satu kemaksiatan walaupun tergolong kecil untuk selalu dilakukan terus menerus. Karena akibatnya akan fatal. Hati akan buta. Kemuliaan dan karamah akan sirna. Apalagi keberkahan. Akan semakin menjauh.

Kedua, Bahayanya mencintai dunia

Kemaksiatan yang terjadi dalam perang Uhud dengan tidak mengindahkan perintah Nabi untuk tetap siaga dalam posisi semula diakibatkan oleh kecintaan terhadap dunia. Mereka terpana dan tertarik mengejar dunia dengan meninggalkan akhiratnya. Akhirnya, bukanlah dunia yaang didapat akan tetapi kekalahan yang harus dihadapi hingga mengakibtkan jatuhnya banyak korban.

Dari perang ini kita belajar bahwa kecintaan terhadap dunia dapat merusak hati kita yang menjadi mesin penggerak segala kebaikan. Kita akan sulit berbuat baik apalagi melakukan perintah-perintah Allah Swt. Kita akan lupa diri apalagi Tuhan kita. Akhirnya, kemenangan  dan kesuksesan sangat sulit kita dapatkan.

Allah dan Rasul-Nya Saw menjelaskan:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini kecuali hanya sebatas senda gurau dan permainan, dan sesungguhnya akhirat adalah kehidupan sejati. jikalau mereka mengetahui”.(AL-Angkabut:64)

حب الدنيا رأس كل خطيئة

Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan”. (HR. Al-Baihaqy)

Maka dari, marilah kita teguhkan diri kita untuk tetap tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan sekecil apapun bentuknya hingga dilakukan terus menerus. Bersamaan dengan itu juga kita juga tidak boleh terpukau apalagi teseret kedalam pelukan cinta dunia. Karena sebagaimana dijelaskan keduanyalah yang begitu nampak dalam kehidupan ini akan konseksuensi dan akibatnya. Keduanyalah yang menjadi awal dari segala bentuk kerusakan. Keduanyalah yang mencegah kebaikan nampak di permukaan. Serta keduanyalah yang dapat mengakibatkan kesuksesan serta kemenangan tinggal harapan belaka. Tanpa mewujud nyata dalam kehidupan. Wallahu A’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here