Khutbah Jumat 2021: Menerapkan Syariat Islam yang Menjunjung Kemanusiaan

1
26

BincangSyariah.Com – Berikut ini adalah teks khutbah jumat bertema kan “Menerapkan Syariat Islam yang Menjunjung Kemanusiaan”.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَيْنَا شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ الكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Hadirin Sedang Jamaah khutbah Jumat yang berbahagia!!!

Pertama-tama, mari kita bersyukur pada Allah yang telah memberikan kepada kita kesehatan dan kesempatan, sehingga kita bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Syukur adalah rasa terima kasih seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan lebih dari itu, syukur hakikatnya adalah kesadaran diri.

Salawat dan salam kita ungkapkan keharibaaan nabi yang sangat mulia. Seorang manusia yang memiliki sumbangsih besar pada dunia. Manusia pertama yang memperkenalkan Hak Asasi, pada saat Erofa dan Amerika masih dalam kegelapan. Seorang yang mengajarkan cinta dan kasih terhadap sesama manusia, bukan hanya terhadap muslim, juga orang yang di luar muslim.

Sebagai khatib, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kami secara pribadi untuk mengajak kita semua umumnya, pada diri sendiri khususnya,  mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Hanya dengan Iman dan takwa hidup akan bahagia dunia dan akhirat kelak.

Saya ingin mengingatkan para pendengar khutbah jumat sekalian tentang  nasihat Lukman Al-Hakim;

“ wahai anak ku sesungguhnya dunia adalah lautan yang sangat dalam. Banyak manusia terjebak dan tenggelam di dalamnya., maka jadikanlah iman sebagai sampan, takwa kepada Allah sebagai layar agar engkau tak tenggelam dalam gemerlap lautan dunia ini”

Kami juga tak bosan-bosan mengajak kepada kita untuk selalu menjaga kebersihan, karena kita masih dalam keadaan pandemi. Jangan lupa 3 M; Menjaga jarak, Memakai masker, dan Mencuci tangan.

Saudara-saudara sidang pendengar Khutbah Jumat yang berbahagia

Tema khutbah kita pada Jum’at kali ini adalah “Menerapkan Syariat Islam yang Menjunjung Kemanusiaan”.

Dalam Alquran terdapat lima  kata yang erat kaitannya dengan syariat dalam pelbagai bentuk; ada dalam ism (kata benda) dan juga dalam bentuk kata kerja (fiil). Kata syariat itu memiliki sebagai jalan atau peraturan yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.  Misalnya dalam Q.S Al-Jảtsiyah: 18, Allah berfirman;

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 Artinya;  kemudian kami jadikan kamu di atas syariat (peraturan) dari urusan  agama itu, maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Dan juga ada firman Allah dalam Q.S al-Mảidah: 48;

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا

artinya; Untuk tiap ummat di antara kamu , kami berikan aturan (syir’ah ) dan jalan.

Di sisi lain, terdapat juga kata syariat dalam bentuk fiil (kata kerja) dengan bentuk kata شرع.  Bentuk kata ini terdapat dalam tiga ayat Alquran.

Lihat Q.S Al-Syủra:13 dan 21, yang artinya membuat/menyusun hukum syariat.

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ  نُوْحًا  وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى

Artinya; Dia telah mensyariatkan bagi kamu apa yang diwasiatkannya  kepada Nuh, dan apa yang telah kamu wahyukan kepada Mu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa.  Dan dalam surah yang sama, pada ayat 21, Allah berkata;

اَمۡ لَهُمۡ شُرَكٰٓؤُا شَرَعُوۡا لَهُمۡ مِّنَ الدِّيۡنِ مَا لَمۡ يَاۡذَنۡۢ بِهِ اللّٰهُ‌ؕ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ الۡفَصۡلِ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ‌ؕ وَاِنَّ الظّٰلِمِيۡنَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang telah diizinkan Allah ? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah  tentulah mereka telah dibinasakan. Sesungguhnya orang yang zalim itu memperoleh azab yang sangat pedih.

HadirinPendengar Khutbah Jumat yang berbahagia

Keterangan lebih lengkap tentang syariah ini bisa kita dapatkan dari seorang pakar hukum Islam,  Al-Ashmawi. Dalam kitabnya yang berjudul ushul al syariah, ia menjelaskan bahwa  syariat—yang tertera dalam Alquran—tidak semata mengandung legislasi hukum atau perundang-undangan (qanun).

Bila kita perhatikan dengan seksama, Q.S. al-Jasyiyah:18 dan Q.S. al-Shura :13  tempat di mana kata syariah itu muncul adalah surah makkiyah— yang artinya suroh ini turun sebelum Nabi hijrah ke Madinah atau sebelum fase legislasi hukum—.

Perlu  kita pahami bahwa selama Nabi di Mekah, Muhammad belum bicara tentang hukum,  lebih banyak bicara tentang tauhid dan amal kebaikan.  Nah, setelah hijrah ke Madinah, baru Nabi bicara tentang hukum.

Dalam diskursus pemikiran Islam  klasik maupun kontemporer,  kata “syariat “  memiliki signifikansi dengan dua term, yakni agama (din) dan hukum (fiqh). Dalam makro, syariat adalah semua perintah Allah yang dibawa Nabi Muhammad  yang meliputi pelbagai bidang, baik akidah, akhlak, dan hukum.  Sedangkan dalam tatanan mikro, pengertian syariat kemudian dianggap sebagai  hukum-hukum , atau aturan yang menyangkut manusia dewasa (mukkallaf). 

Menurut Muhammad Sa’id Al-Ashmawi dalam artikel yang berjudul, Syariah: Kodifikasi Hukum Islam, makna syariat pada awalnya tidak bermakna at-tasyri’ (legislasi hukum) atau al-qanun (Undang-undang).  Pada mulanya syariat digunakan dalam pengertian jalan Allah (the way og God).

Namun, dalam perkembangannya kata tersebut ditransformasikan pada pengertian yurisprudensi hukum agama. Dampaknya pun berimbas pada sumber utama syariat—yang sejatinya melampaui kata syari’ah itu sendiri— yaitu, Alquran, Hadis, Ijma’ dan Qiyas.

Pendek kata syariat Islam adalah hukum dalam Islam yang bersumber dari empat sumber di atas. Nah, dalam pengertian ini terdapat perbedaan yang mencolok antara pemaknaan syariat Islam di awal dengan pemaknaan kontemporer. Pada pengertian mutakhir, konsep syariat itu berposisi sebagai hukum (fiqh ) Islam.

Produk hukum ini disebut dengan fiqih, Setelah perkembangan hukum Islam inilah, syariat Islam pun mengalami pelbagai perubahan. Pada awalnya sumber hukum Islam itu, Alquran, pada tahap berikutnya para ulama memasukkan tambahan selain Alquran  sebagai dasar syariat yakni hadist, ijma’, dan qiyas.

Pendapat ini menjadi sasaran kritik tajam Al-Ashmawi, karena dua sumber terakhir, qiyas dan ijma menurut Al-Ashmawi dalam ushul shariah,bukan sumber syariat, tetapi menempati sumber fiqih.

Kritik itu ditujukan Al-Asmawi karena melihat perkembangan di massyarakat luas.  Terjadi pergeseran paradigma terhadap fiqh.  Banyak kalangan menilai fiqih bukan saja dimasukkan ke dalam syariat, melainkan fiqh itu diidentik dengan syariat Islam itu sendiri.

Keadaan lebih parah lagi,  fiqih diagungkan sebagai wahyu  Tuhan. Padahal  seyogianya fiqih  merupakan buah pemikiran  manusia dan  hasil produk zaman tertentu, di dalam mengandung khilafiyah (kontroversi). Dengan menyetarakan fiqh sebagai wahyu, maka terjadi paradoks antara sesuatu yang bersumber dari yang tak terhingga, ilahi dan bersumber dari manusia.

Saudara Pendengar Khutbah Jumat yang berbahagia!!!

Fenomena ini banyak kita lihat berkembang di masyarakat Indonesia, banyak yang mengatasnamakan syariat menvonis orang menjadi kafir. Ada orang yang baru belajar agama, lantas membidahkan ibadah saudaranya. Ada pula yang memutuskan berhenti bekerja dari bank besar, dikarenakan menganggap bunga bank haram dan itu perbuatan dosa.

Coba kita lihat disekeliling kita, tak sedikit masyarakat yang salah mengartikan syariat Islam. Mereka menyangka, syariat itu hanya sebatas hukum saja.  Kata syariat itu menjadi sesuatu yang ditakutkan. Dan lebih parah lagi, kata syariat itu  menjadi legitimasi bagi seseorang untuk menumpahkan darah orang lain. Nauzubillah min zalik.

Saudara  Sidang Pendengar Khutbah Jumat sekalian!!!!

Bila kita perhatikan isi Alquran secara menyeluruh—Alquran ada 30 juz, 114 surah dan sekitar 6000 ayat—, nah dari  yang  6000 ayat Alquran tadi, hanya  sekitar 200 ayat yang memiliki asfek  hukum, atau sepertigapuluh ayat Alquran yang berbicara tentang hukum, pun itu sudah termasuk di dalamnya ayat-ayat yang telah dinasakh oleh ayat berikutnya.

Ini meunjukkan bahwa sasaran utama Alquran diturunkan adalah bersifat moral, yang penekanannya adalah untuk menanamkan rasa bersalah dalam jiwa orang yang beriman, menggugah kedasaran dan moralitasnya agar selalu berada dalam jalur syariat yang bermakna jalan menuju Tuhan.

Dengan demikian ketika hukum Alquran diterapkan, harus berada dalam konteks keimanan dan keadilan, jauh dari sikap memihak atau penyimpangan peradilan. Di samping itu, norma-norma yudisial  pada dasarnya bersifat lokal dan temporer. Sering Allah menyerahkan kepada umat manusia untuk mengatur perincian pekerjaannya dan memberi kebebasan untuk mengulas  dan menggantinya  dengan pandangan yang lain  yang memungkinkan, sehingga berfungsi sesuai kebutuhan  masing-masing negara dan zaman.

Ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad;

أنتم أعلم بأمور دنياكم

Artinya; kamu lebih tahu urusan dunia kamu.

Dengan demikian terlihat jelas syariat tidak dapat dipandang sebagai produk legislasi yang praktis dan siap pakai dalam mengatur pelbagai persoalan masyarakat luas. Syariat dalam keterangan di atas tak lebih dari butir-butir nilai moral dan agama yang dapat mengilhami bagi lahirnya produk legislatif dalam konteks historis tertentu.

Cendikiawan Muslim, Nurcholish Madjid pun menyebutkan bahwa  kata”syariah” itu sendiri, sebenarnya berarti ”jalan”. Kata ini lebih luas maknanya ketimbang hanya seperangkat aturan yang, misalnya, memotong tangan si pencuri.  Mencambuk orang berzina, merajam para pelaku serong.

Ketika kata ”syariah” direduksikan menjadi hanya sebatas  hukum/ pasal-pasal/undang-undang yang dihafal dari kaji lama, ”jalan”  (syariah) itu tak dianggap sebagai jalan lagi.  Hal ini akan membuat  umat Islam menjadi mandek ketika di jalan. Dan sempit dalam berpikir.

“Sejatinya, nilai nilai kemanusiaan menjadi dasar nasional dalam pembangunan dan penerapan hukum Islam” begitu kata Quraish Syihab dalam buku Rasionalitas Alquran.  Logika hukum Islam itu telah jelas disebutkan dalam Alquran.  Jiwa rasional itu terlihat jelas dalam pelbagai hukum yang dicetuskan Rasul ketika periode Madinah.

Demikianlah isi Khutbah Jumat pada kali ini. sebagai kesimpulannya adalah;

  1. Syariah Islam itu maknanya sangat luas. Ayat Alquran yang membicarakan tentang syariat adalah surah yang diturunkan pada periode Makkah. Artinya pada masa Rasul belum banyak berbicara tentang hukum. Periode Mekkah , Nabi Muhammad fokus kepada akidah dan tauhid.
  2. Sejatinya hukum Islam itu adalah luas. Dan dasar dari syariat itu adalah nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Maka sangat disayangkan ketika atas nama syariat dan hukum Islam, ada masayarakat yang jatuh dalam kebencian dan cacian. Hukum Islam itu maha luas.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر(ِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.

(Baca:Khutbah Jumat; Bahaya Suuzon di Tahun Politik)

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here