Khutbah Idul Fitri: Idul Fitri dan Lima Pelajaran Berharga dari Puasa

0
2065

BincangSyariah.Com – Takbir, tahmid dan tahlil mulai malam satu Syawal hingga menjelang salat idul fitri menggema dimana-mana. Mulai dari ujung timur dunia hingga ke ujung barat sekalipun kalimat agung ini terlantunkan dengan indahnya dari bibir manis kaum muslimin dengan penuh senang dan bahagia.

Ini pertanda kemenangan bagi mereka setelah satu bulan penuh menghabiskan waktunya dengan penuh kesungguhan melakukan ibadah puasa khususnya dan ibadah-ibadah lainnya pada umumnya. Hari kemenangan ini kemudian oleh Islam dinobatkan sebagai hari raya idul fitri (hari raya lebaran fitrah).

Namun, perlu kita dalami dengan merenung bersama-sama sejenak bahwa makna idul fitri lebih dari apa yang dipahami oleh kebanyakan kita. Idul fitri tidak hanya melafalkan kalimat takbir saja. Idul fitri pun juga tidak hanya menampakkan kebahagiaan semata. Apalagi ia hanya diartikan dengan acara makan, minum serta menampilkan performa terbaik kita dengan menggunakan busana-busana yang terbarukan.

Maka dari itu, ijinkan saya dalam kesempatan ini menyampaikan tema; Idul Fitri dan Lima Pelajaran Berharga Puasa Ramdhan. Dengan harapan agar apa yang akan saya sampaikan ini betul-betul menjadi pencerah, penyemangat serta tuntunan dalam menghadapi kehidupan selanjutnya setelah berlalunya bulan suci ramadhan kemaren.

Idul fitri secara bahasa merupakan gabungan dari kata idul dan kata fitri. Keduanya memiliki arti dan makna yang beragam. Kata id bisa diartikan menengok, menjenguk, kembali, menghitung, mengoreksi dan berulang-ulang. Sementara kata fitri bisa diartikan berbuka, perangai, membelah dan kesucian. (KH. Muhammad solikhin, Dibalik 7 Hari Besar Islam hal. 151-152. 2012)

Dari sana bisa disimpulkan bahwa idul fitri merupakan momen penting bagi umat islam untuk melihat dan mengoreksi kembali perangainya, perbuatannya  dan seluruh tingkah laku lainnya khususnya dibulan Ramadhan untuk bisa kembali pada fitrahnya (kesucian) sebagaimana awal mula kedatangannya kedunia ini.

Fitrah itu bersangkutan dengan salah satu prinsip ajaran islam yang amat penting, yakni ajaran bahwa manusia dilahirkan dalam kejadian asal yang suci dan bersih. Sehingga manusia bersifat hanif (merindukan dan selalu mencari yang baik dan benar). Oleh karena itu, kebenaran dan kebaikan menjadi alami atau natural. Sementara kepalsuan dan kejahatan bertentangan dengan jati diri manusia yang ditetapkan oleh Allah swt. (KH. Muhammad solikhin, Dibalik 7 Hari Besar Islam hal. 154. 2012)

Rasulullah Saw bersabda:

كلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Dalam kaitannya dengan pemaknaan hari raya idul fitri ini sebagaima dimaksud diatas maka setidaknya kita sebagai manusia memiliki lima fitrah yang seharusnya dikembalikan oleh ritual puasa ramadhan yang sudah berlangsung selama satu bulan penuh. Salah satu diantara kelimanya  yang menjadi urutan pertama sudah disebutkan diatas. (Khutbah Idul Fitri Dr. H. Zaini Arrony, Dengan Puasa Kita Kembali Mewujudkan Ketaqwaan Sejati, hal. 13-20: pdf)

Kedua, fitrah beragama

Manusia semenjak masih berada di alam ruh sudah mengikrarkan dirinya serta berjanji bahwa dia sudah mengakui keberadaan Allah swt sebagai Tuhannya sebagaimana yang disinyalir dalam surah al-A’raf: 172,

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. 

Dengan demikian, seharusnya manusia senantiasa berada dijalan Allah swt yaitu jalan kebenaran. Akan tetapi setelah ia lahir kedunia ini, ia telah lupa pada dirinya yang berupa ruh. Ia sudah tidak ingat bahwa dirinya sudah melakukan perjanjian dengan Allah swt. Maka dari itu diutuslah para utusan dengan disertai ajaran yang tertuang dalam kitab-kitab-Nya.

Selanjutnya, satu dari sekian banyak ajarannya adalah apa yang kita lakukan selama satu bulan penuh yaitu berpuasa Ramadhan. Dengan menjalankan kewajiban ini Allah swt menginginkan kita yang sudah mulai kotor, lusuh dan jahat kembali pada jalan awal yaitu fitrah dan kesucian.

Baca Juga :  Bolehkah Mengambil Hukum Agama dari Terjemahan Al-Qur'an?

Ketiga, fitrah sosial

Manusia pada hakikatnya tidak bisa hidup sendirian. Ia pasti butuh yang lainnya. Ia harus bermasyarakat serta besosial dalam menjalankan kehidupannya agar bisa bertahan hidup. Ini pertanda bahwa kehidupan bermasyrakat dan bersosial juga menjadi nilai dasar awal kejadian manusia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Hanya saja kehidupan bermasyarakat dan bersosial sekalipun menjadi fitrah manusia tidak lansung terjalin secara baik dan damai. Ia butuh nilai yang agung seperti kasih sayang, tolong menolong, tenggang rasa, empati dan lain sebagainya.

Puasa sebagai ritual sesungguhnya ingin menanamkan nilai-nilai sosial yang mulia ini dalam tatanan hubungan bermasyrakat dan bersosial. Agar sendi-sendi kehidupan sosial terformat secara kolektif yang adil, sejahtera serta kedekatan dengan Allah swt yang menjadi puncak dari segalanya.

Keempat, fitrah bersusila

Manusia disamping sebagai makhluk sosial ia juga menjadi makhluk susila. Ia memiliki tingkah laku, perbuatan, tindakan, ucapan dan sikap yang bernilai susila. Ia tidaklah sama dengan hewan lainnya yang berjenis binatang. Ia memiliki etika dan moral.

Nabi muhammad saw bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)

Ritual puasa yang dilakukan selama sebulan penuh sebetulnya ingin mengembalikan fitrah susila manusia pada etika dan moral yang luhur serta agung. Puasa menjadi prisai dari semua perkataan, tindakan dan tingkah laku yang tidak baik sehingga kita menjadi pribadai yang memiliki akhlak mulia yang menjadi fitrah kita.

Kelima, manusia sebagai makhluk yang bermartabat

Secara fitrah manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermartabat dan terbaik sebagaimana disinyalir dalam kedua  firman Allah beriut:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Namun, martabat dan kebaikan manusia yang begitu tinggi akan jatuh dan tercemar hingga ke taraf yang serendah-rendahnya jika tidak pandai untuk bisa mengendalikan hawa nafsu yang begitu hebat dan lihai merayunya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah berikut,

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),”

Puasalah salah satu yang dapat dilakukan untuk menekan dan memenjarakan hawa nafsu manusia agar tidak bebas merayu untuk terjatuh kedalam jurang kemaksiatan. Lebih dari itu, puasa dapat mencegah dan mengembalikan martabat manusia yang sudah terjatuh.

Lima Pelajaran Puasa Ramadhan

Dengan adanya idul fitri ini, kita merasa bahwa Ramadhan memang sudah betul-betul berlalu. Ia akan kembali lagi nantinya setelah satu tahun kemudian. Namun kita tidak bisa memastikan apakah kita akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Di mana kita berpuasa sebagaimana puasa yang sudah kita laksanakan selama satu bulan lalu.

Hanya saja, meskipun ia sudah berlalu kita tetap dapat merasakan keberadaannya dalam setiap kehidupan kita mulai detik ini hingga datangnya bulan Ramadhan mendatang. Keberadaannya akan kita temukan jika kita bisa mengambil pesan dan pelajaran berharga dari adanya puasa Ramadhan kemaren.  Pesan dan pelajaran dimaksud setidaknya dapat kita singkap dalam beberapa poin dibawah ini. ( Khutbah Idul Fitri Syakh Khalid bin Abdillah al-Syayi’, Madza Istafadna Min Syahr Ramadhan? https://khutabaa.com)

Pertama, bersabar dari kemaksiatan dan ketaatan

Kita tahu bahwa puasa adalah menahan diri dari segalanya. Menahan diri dari makan, minum,  hawa nafsu dan hal lain yang dapat membatalkannya. Akibatnya, lapar, dahaga serta tekanan hawa nafsu menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Puncaknya diri orang yang berpuasa, merasakan polemik dan kesulitan yang ditahan mulai semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Rasulullah Saw bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

“ Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus “ (HR. Al-Hakim; Hadis Shahih menurut syarat al-Bukhari)

Akan tetapi, kondisi demikian tidak menyurutkan langkahnya untuk menjalankan ibadah serta menebar kebaikan. Ia tetap semangat pantang menyerah dengan penuh kesungguhan dan kesabaran untuk tetap setia dalam ketaatan. Ia tetap optimis serta kuat memborgol hawa nafsu agar tidak terjerumus kedalaman jurang kemaksiatan.

Itulah wujud orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Ia bisa menahan diri. Ia bisa optimis. Ia bisa kuat. Ia bisa semangat. Dan ia bisa melewati semua kesulitan yang dihadapinya dengan satu hal yang sangat luar biasa yaitu kesabaran. Tanpa nilai ini, dipastikan ia akan gagal meraih kemenangan ini.

Kedua, selalu merasa berada dalam pengawasan Allah Swt

Orang yang berpuasa selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa tidak saja hanya karena kesabarannya semata. Melainkan dia merasa diawasi oleh dirinya sendiri yang bermuara pada pengawasan Allah swt.

Tidak ada yang tahu bahwa dirinya sedang berpuasa. Sehingga andaikan mau mudah baginya untuk membatalkan puasanya ditempat-tempat tersembunyi. Akan tetapi, ia merasa bahwa ada yang maha tahu yaitu Allah swt yang mengetahuinya.

Maka dari itu, orang yang berpuasa bisa sampai pada tingkatan dan derajat ihsan. Suatu tingkatan pengawasan internal (dari dalam) yang membuatnya selalu tetap disiplin dalam menjalankan kewajiban dan amal baik lainnya tanpa butuh pengawasan eksternal (dari luar).

Ketiga, jihad melawan bisikan diri dan setan

Manusia dan dirinya kadang bermusuhan. Begitu juga setan. Keduanya sama-sama bersekongkol untuk menjatuhkannya kedalam jurang kemaksiatan. Menjadikan hawa nafsu sebagai panutan. Sehingga akhirnya berada dalam kegagalan.

Sedangkan puasa bisa menjadi musuh berat keduanya yang bisa memerangi rayuan serta gombalannya. Karena dengan berpuasa dia sudah berani menutup jalan bisikan diri dan setan masuk kedalam hatinya. Makna ini tiada lain dan tiada bukan kecuali dikatakan sebagai bentuk jihad yang sesungguhnya.

Rasulullah saw bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.(رواه البخاري : 1761- صحيح البخاري – المكتبة الشاملة – باب فضل الصوم– الجزء : 6– صفحة : 457)

“Puasa itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang puasa (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa”. (HR.Bukhari : 1761, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Fatdhlush shaum, juz : 6, hal. 457)

Dari itu, puasa ini bisa menjadikan diri manusia selalu dalam kebaikan dan  menjadi pribadi yang selalu memiliki sifat-sifat baik. Sehingga dirinya menjadi suci serta aman dari kejelekan.

Keempat, dengan berpuasa dapat merasakan penderitaan fakir miskin

Fakir miskin yang hidupnya serba kekurangan hingga sangat sulit menemukan sesuatu yang dapat dimakan layaknya orang berpuasa siang malam. Ia merasakan lapar dan dahaga. Mau makan dan minum ternyata sulitnya ekonomi menjadikannya enggan mewujudkan keinginannya. Sedang orang kaya secara gampangnya menabur duit mewujudkan keinginannya.

Orang yang berpuasa pada saat menjalankan puasanya juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka. Lapar dan dahaga menjadikannya tertegun sambil merasakan kesulitan yang menimpa mereka. Sehingga terketuklah hatinya untuk mebantu meringankan beban serta kesulitan mereka dengan membagikan sesutu yang dapat dinikmati mereka.

Dari sinilah, Nabi Yusuf ‘alaihissalam seringkali melakukan ritual yang satu ini yakni berpuasa sebanyak mungkin. Padahal beliau sangat banyak memiliki kekayaan. Ada salah satu kaumnya memberanikan diri menanyakan alasan beliau memperbanyak puasa. Llalu, beliau menjawab, “kawatir saya kenyang sedang disana masih banyak orang-orang yang lapar.”

Ahmad Syauqi mengatakan:

“الصَّوم حِرْمانٌ مشروع، وتَأديب بالجُوع، وخُشُوع لله وخُضُوع، لكلِّ فريضةٍ حكمة، وهذا الحكم ظاهره العذابُ، وباطِنه الرَّحمة، يُعَوِّد الإنسانَ الصَّبْرَ، ويُعَلِّمه خِلال البِر، فإذا جاع مَن أَلِف الشَّبع، عَرَف الحرمان كيف يقع، والجوع كيف أَلَمُه إذا لَذَع” ا . هـ.

puasa yang disyariahkan dapat mengosongkan jiwa dari sifat egois terhadap orang fakir miskin. Karena puasa mengajarkan akan kehilangan. Puasa pun juga menjadi pelajaran betapa sulitnya perekonomian  menyiksa seseorang yang sedang berpuasa. Selanjutnya puasa juga menjadi ladang untuk memupuk kekhusyuan.  Maka dari itu,  setiap kewajiban memiliki hikmah tersendiri yang  fakta zahirnya adalah kesengsaraan sedang batinnya terselubung rasa kasih sayang.

Kelima, puasa Ramadhan mengajarkan persamaan dan kesatuan

Kewajiban puasa Ramadhan berlaku untuk umum. Ia tidak melihat kelas dan jenis sosial. Ia tidak hanya untuk yang miskin saja. Akan tetapi yang kaya juga harus melaksanakannya.  Ia tidak hanya untuk laki-laki saja, tapi perempuan juga sama diwajibkan melakukannya.

Disamping itu, puasa ramadan juga diwajibkan bagi seluruh umat muslim sedunia. Ia  tidak mengenal suku, bangsa dan negara. Ia tidak untuk suku tertentu saja  tapi juga seluruh suku-suku diseluruh negara. Ia tidak hanya untuk orang arab saja melainkan orang non arab juga sama-sama diwajibkan. Ia tidak hanya untuk kalangan kiai saja, melainkan petani juga harus melakukannya.

Allah swt berfirman:

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al–Baqarah : 183).

Oleh karena itu, marilah kita hidupkan ke lima semangat puasa Ramadhan diatas dalam kehidupan kita mulai detik ini hingga Ramadhan mendatang. Kita boleh mengatakan selamat tinggal Ramdhan. Tapi kita jangan pernah meninggalkan semangat dan pelajaran Ramdhan. Karena sebagaimana kita ketahui bulan Ramadhan tujuannya tiada lain dan bukan kecuali melatih dan mendidik kita untuk bisa lebih baik dalam kehidupan selanjutnya serta ingin menjadikan kita ini kembali lagi pada fitrah asalnya yang sudah disinggung diataas.

Disamping itu, kita juga harus tahu, bahwa perbuatan, tindakan serta perkataan yang kita lakukan diluar bulan Ramdhan menjadi ukuran diterima tidaknya ibadah puasa kita dibulan Ramadhan. Jika setelah Ramdhan menjadi amal perbuatan kita semakin membaik berarti ibadah puasa kita dibulan Ramdhan diterima oleh Allah swt. Dan begitu juga sebaliknya. Jika perbuatan kita semakin tidak baik sudah bisa dipastikan bahwa ibadah puasa dan ibadah lainnya yang kita lakukan dibulan Ramadhan belum dapat dierima oleh Allah Swt. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here