Khutbah Idul Fitri 2020: Menggali Hikmah dari Wabah

66
48850

BincangSyariah.Com – 

Khutbah I

الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد.

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الحمد لله الذي امتن علينا بنعمة الإسلام، وشرح صدورنا بنور الإيمان، وأفاض علينا بآلائه العظام حيث جعلنا من خير أمة أخرجت للناس، وأنزل علينا أعظم كتاب وأحكمه، ويسر لنا أمر طاعته، وبشر المتقين بجنته، وحذر المعرضين بأليم عقابه

أشهد أن محمدًا عبده ورسوله صاحب الحوض الأعظم، والمقام الأكرم، صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ومن اقتدى بسنته إلى يوم الفزع الأكبر.أمابعد.

Mengawali hari yang suci ini, mari kita kirimkan rasa syukur dan terimakasih kita ke hadirat Allah Swt, atas fasilitas nikmat yang dianugerahkan oleh-Nya, kita mampu menyonsgong hari raya idul fitri ini dalam keadaan sehat wal afiat serta dalam naungan iman dan ihsan. Shalawat dan salam tak lupa kita kirimkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad Saw, sosok tauladan kita yang senantiasa kita nantikan syafaat beliau pada hari kiamat kelak.

Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala ‘Ali Sayyidina Muhammad

Melalui mimbar ini khatib mengajak diri khatib pribadi agar senantiasa meningkatkan iman dan takwa yang ada dalam hati kita. Takwa dalam artian patuh kepada perintah Allah Swt serta berupaya menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah Swt

Hadirin yang dirahmati Allah Swt!

Seluruh umat manusia tengah berduka akibat wabah Covid-19 atau Corona Virus Disease 2019 yang tengah melanda. Sejak awal Apri 2020 pemerintah telah menetapkan fenomena ini sebagai bencana nasioanl yang perlu kita waspadai bersama. Hingga saat ini, 20 Mei 2020, setidaknya tercatat ada 4 juta lebih penduduk dunia yang positif terdampak covid 19 dan 16 ribu ribu di antaranya warga Indonesia.

Hadirin yang disayangi Allah Swt!

Segala yang terjadi di dunia ini tentu tidak lepas dari skenario Allah Swt. Allah Swt, melalui kebijakan dan wewenang-Nya, telah mengatur semua yang sedang dan akan terjadi di alam semesta ini. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu (di semesta ini) telah kami ciptakan dengan pertimbangan” (QS. Al-Qomar : 49)

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tidaklah Allah menginginkan keburukan terjadi kepada kita semua, kendati di mata kita mungkin hal tersebut terkesan negatif.

Allah berfirman dalam ayatnya yang lain,

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

“Dan tidaklah Allah berlaku zalim kepada hamba-hamba-Nya” (QS. Ghafir : 31)

Baca Juga :  Mungkinkah Ahli Maksiat Masuk Surga tanpa Hisab?

Selalu ada hikmah yang bisa kita petik dari apa yang menjadi bagian dari kehendak Allah Swt ini. Tinggal kita saja yang harus berupaya mencari hikmah tersebut.

Allahu Akbar 3X Walillahil hamdu

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt. Fenomena ini mengubah banyak hal di dunia yang kita diami. Semenjak wabah covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi, jenis penyakit ini memakan korban yang cukup banyak dalam waktu singkat. Sejumlah Kebijakan-kebijakan baru diambil oleh pemerintah demi memutus rantai penyebaran wabah ini. Salah satunya adalah dengan melarang adanya kerumunan di tengah-tengah masyarakat. Berkerumun menjadi hal potensial dalam penyebaran pandemi yang mematikan ini.

Hal ini tentu berimplikasi besar juga terhadap ritual keagamaan di Indonesia, khususnya agama Islam. Sebagai agama yang memiliki banyak ritual yang mendasarkan keutaman sebagian ritualnya pada kegiatan basis perkumpulan seperti shalat jamaah di masjid, pergelaran kajian di majelis taklim, jika ramadhan ada shlawat tarawih berjamaah, maka hal ini mengubah mainstream kita dalam memahami praktik beragama, sekaligus menyadari subtansi beragama.

Hadirin sidang shalat Iedul Fitri yang dirahmati Allah Swt

Ramadahan kali ini kita rasakan sangat berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada Ramadhan tahun sebelumnya kita bisa melakukan ibadah-ibadah yang dilkakukan secara berjamaah, untuk tahun ini kita tidak bisa melaksanakannya.

Biasanya kita menyemarakkan malam Ramadhan dengan melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, tadarus al-Qur’an berjamaah, menyelenggarakan peringatan Nuzulul Qur’an secara berjamaah, dan kegiatan-kegiatan ramadhan lain yang mendasarkan acaranya pada perkumpulan besar. Namun untuk tahun ini itu semua kita tidak lakukan dulu akibat merebaknya wabah covid-19 sehingga kita diharuskan menyelenggarakan ibadah-ibadah ramadhaniah tersebut dirumah saja. Hal ini tak lain sebagai upaya kita bersama memutus rantai penyebaran wabah covid19.

Allahu Akbar3x Allahu Akbar Walillahilhamd

Hadirin yang tengah berbahagia menyambut hari kemenangan!

Berangkat dari instruksi pemerintah terkait penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang berimplikasi pada aktivitas bekerja dan ibadah di rumah saja, umat Islam mengkhususkan diri melakukan aktivitas kegiatan Ramadhan di rumah. Hal ini tak lain sebagai ekspresi keislaman yang bijak dan penuh pertimbangan, melakukan ibadah adalah sunnah sedangkan menjaga diri agar tetap sehat dan terbebas dari paparan virus adalah kewajiban, menjaga keselamatan jiwa merupakan salah satu baqian dari maqosid Syariah yang perlu dipahami setiap muslim.

Menegaskan kebijakan ini, kaidah fiqih mengatakan bahwa:

درء المفاسد مقدم علي جلب المصالح

“Dar’ul Mafasid Muqaddamun ala Jalbil Masolih”

Menolak kemudaratan lebih diutamakan ketimbang mendatangkan kebaikan

Hadirin yang dirahmati Allah Swt!

Baca Juga :  Hukum Memakai Baju Baru saat Lebaran

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Imam besar Masjid Istiqlal dalam sebuah siaran televisi nasional bahwa, “Umat Islam tidak perlu berkecil hati karena tidak bisa melakukan ritual berjamaah pada ramadhan ini. Percayalah semua ini ada hikmahnya, dan ini juga merupakan ketentuan Allah Swt. Saya juga perlu memperingatkan bahwa ibadah tarawih itu sunnah, sedang menjaga keselamatan diri dan keluarga adalah wajib. Beragama yang benar itu mendahulukan yang wajib atas yang sunnah. Insyallah pahala masih tetap mengalir jika kita beribadah #dirumahsaja, justeru Allah menyimpan hikmah untuk fenomena ini agar kita lebih dekat dengan keluarga, shalat, tadarus dan buka bersama di rumah.”

Hadirin yang dirahmati Allah Swt

Banyak yang bisa kita pelajari dari fenomena ini.

Pertama, fenomena Ramadhan di tengah pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa kita sebagai hamba Allah perlu lebih meningkatkan kepasrahan dan ketergantungan kita kepada Allah Swt. Di masa pandemi ini kita disadarkan betapa lemahnya manusia, segala apa yang kita andalkan berupa kecanggihan sistem dan teknologi tak berdaya di hadapan pandemi covid19 yang melanda. Yang tersisa hanyalah doa dan harapan kita kepada Allah Swt, agar semua ini segera tuntas. Tentunya juga upaya yang dibarengin dan tawakkal kepada Allah Swt.

Mengenai hal ini Allah Swt berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia sesungguhnya kalian butuh kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Mahakaya dan Maha Terpuji” (QS. Fathir : 15)

Mufassir Ibnu Katsir saat mengurai ayat ini menjelaskan bahwa manusia membutuhkan Allah Swt dalam segala situasi dan kondisi. Semua tidak lepas dari kebergantungan kita kepada Allah Swt.

Kedua, pandemi ini menyadarkan kita akan subtansi ibadah. Bahwa ibadah tidak selalu mesti dilakukan dengan berjemaah dan ramai-ramai, terkadang ibadah mesti dilakukan dengan menekur diri dalam kesendirian. Subtansi ibadah adalah tafakkur atas zat Allah Swt, ia bisa dilakukan dengan beramai-ramai atau sendiri-sendiri. Tafakkur ada dalam hati.

Ketiga, pembatasan sosial efek pandemi ini mengajarkan kepada kita pentingnya memupuk kedekatan kita kepada keluarga. Kebijakan agar beribadah dan beraktivitas #dirumahaja mendorong kita agar meningkatkan intensitas interaski kita terhadap keluarga tercinta. Melakukan shalat tarawih, tadarus al-Qur’an, serta pengajian di rumah di masa pandemi ini memiliki pahala sepadan jika dilakukan di masjid jika dalam kondisi normal.

Hadirin yang dirahmati Allah Swt

Di hari yang fitri ini mari kita mentadabburi siklus kehidupan kita-kita masing. Mari kita merefleksikan amal ibadah kita masing-masing. Dengan segala dinamika kehidupan yang diskenariokan oleh Allah Swt, kita wajib bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Swt atas segala nikmat yang dianugerahkannya kepada kita semua.

Baca Juga :  Belajar Cara Menghadapi Wabah dari Umar bin Khattab

Pada idul fitri kali ini kita sedang diuji oleh Allah Swt dengan adanya fenomena pandemi yang melanda umat manusia. Saatnya kita berpasrah diri kepada Allah Swt, memohon agar dituntaskan pandemic yang tengah melanda umat manusia ini.

Tetap di rumah saja dan mari kita galakkan ibadah kita bersama. Bersama kita sucikan hati kita untuk meraih ridho Allah Swt. Bersama kita sucikan hati kita agar disingkapkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan hikmah yang Allah titipkan dari dinamika kehidupan yang kita jalani saat ini. Bersama kita sucikan hati di hari yang fitri ini agar senantiasa kita menjadi hamba Allah yang menang.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Maka sungguh telah menang siapa yang mensucikan jiwanya” (QS. As-Syams : 9)

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bisa menjadi ilmu dan nasehat yang bermanfaat untuk kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah II

 الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر.

الله أكبر. الله أكبر لا إله إلا الله. الله أكبر. الله أكبر. ولله الحمد.

الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر، أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له إرغاما لمن جحد به وكفر، واشهد أن سيدنا محمد عبده ورسوله لا نبي بعده

فيا ايها الناس اتقوا الله واعلموا أن الله أمركم بامر بدأ فيه بنفسه وثنى بملائكته المسبحه بقدسيه

فقال تعالى ولم يزل قائلا عليما : إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

“اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضى الحاجات. اللهم وفقنا لعمل صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور. اللهم أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا. اللهم اجعلنا نعظم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار”

عباد الله! إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركم وسئلوا الله من فضله يعطكم ولذكر الله أكبر

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

66 KOMENTAR

  1. Sangat bermamfat dan mempunyai hikmah yang sangat dalam
    izin saya jadikan sebagai bahan Khutbah ‘idul fitri 2020 ini

  2. terima kasih pak ustadz jazakumullah khoiron katsiro izin teks hutbah ini saya jadikan untuk hutbah saya di masjid bukan lancang sekali lagi saya minta izin untuk di gunakan bahan hutbah saya nanti

  3. […] Khotbah Idulfitri dilakukan sama sebagaimana khotbah sholat Jumat, yaitu sebanyak dua kali khotbah. Namun, pada khotbah pertama Idulfitri dianjurkan membaca takbir sebanyak sembilan kali, dan khotbah kedua membaca takbir sebanyak tujuh kali. Saat imam sedang khotbah, makmum dianjurkan untuk mendengarkan khotbah terlebih dahulu, dan tidak disarankan membubarkan diri sebelum imam selesai khotbah. (Baca: Khutbah Idul Fitri 2020: Menggali Hikmah dari Wabah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here