Khotbah Habib Umar; Memohon Bantuan Allah Menghadapi Corona

1
5544

BincangSyariah.Com – Beberapa bulan ini kehidupan manusia hampir di seluruh dunia dibuat cemas oleh makhluk bernama virus Corona (Covid-19). Ia terus menjalar dari waktu ke waktu melintasi benua dan negara dan tanpa lelah menyerang umat manusia seorang demi seorang. Menurut Syekh Habib Abu Bakar al-Adni dalam al-Usus wa al-Munthalaqat (2015: 318), tidak menutup kemungkinan wabah virus Corona ini memang sengaja dibuat dan disebarkan oleh orang-orang jahat untuk kepentingan tertentu, baik ekonomi, politik, maupun hanya sekedar eksperimen yang tidak bertanggung-jawab. (Baca: Habib Abu Bakar al-Adni: Kemunculan Wabah Penyakit Tanda Kiamat Sudah Dekat)

Anggapan semacam ini juga sempat berkembang di kalangan para ilmuwan sendiri. Dalam hal ini, sebagian ilmuwan curiga wabah virus Corona sengaja diciptakan oleh Amerika Serikat dan China. Hal ini didasarkan kepada daftar paten obat ampuh untuk mengobati pasien virus Corona yang memang diciptakan oleh kedua negara tersebut. (Baca: Ulama al-Azhar Sarankan Hentikan Sementara Shalat Jumat dan Jamaah di Masjid)

Menurut dr R Fera Ibrahim, meskipun belum bisa dipastikan apakah virus Corona adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu atau tidak, tetapi secara teori virus memang bisa diciptakan oleh manusia.

Dalam perkembangannya, meskipun Indonesia pada awalnya aman dari hiruk-pikuk virus Corona dan sempat membuat heran beberapa negara lain, tetapi sekarang bumi Nusantara sudah dibuat sibuk dan cemas dalam menghadapi serangan virus mematikan ini. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah cepat dan serius untuk menghentikan penyebaran wabah virus Corona yang sudah banyak menjangkiti masyarakat Indonesia seraya mengobati para korban.

Dalam kajian maqashid syariah, pencegahan dan pengobatan terhadap korban virus Corona ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan (dharuri atau primer). Sebab, ia berkaitan dengan memelihara jiwa (hifdz an-nafs) yang pada gilirannya berimplikasi nyata terhadap kebaikan agama, akal, harta, dan keturunan. Kelima hal ini merupakan tujuan syariat Islam yang harus dipenuhi demi kebaikan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga :  Rasulullah Mengancam Pembunuh Non-Muslim

Menurut Jamaluddin ‘Athiyyah dalam Nahw Taf’il Maqashid asy-Syari’ah (2003: 142-143), memelihara jiwa (hifdz an-nafs) tidak hanya fokus kepada menjamin keamanan jiwa dari serangan musuh dan larangan membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan secara hukum, tetapi juga meliputi memberikan kecukupan pangan, papan, dan sandang demi kesehatan dan kebaikan tubuh; mencegah terjadinya penyakit-penyakit menular yang secara nyata membahayakan jiwa; dan mengobati para pasien.

Meskipun beberapa hal tersebut merupakan sarana dalam memelihara jiwa, tetapi mereka menempati posisi hukum tujuan primer yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, apabila memelihara jiwa tidak bisa tercapai dengan baik tanpa adanya beberapa sarana tersebut, maka keberadaan sarana-sarana itu menjadi wajib.

Namun demikian, sebagai bangsa beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka kita tidak boleh hanya mencukupkan diri kepada segala daya dan upaya lahir yang sudah bertaraf internasional dalam menghadapi dan menghentikan penjajahan virus Corona, tetapi juga harus melibatkan langkah batin atau spiritual dalam menghadapi masalah pelik ini. Pendek kata, kita harus senantiasa meminta pertolongan Tuhan atau “kekuatan langit” agar terhindar dari marabahaya dan virus Corona yang mematikan ini.

Sebab, dalam kacamata tauhid segala sesuatu yang ada dan sesuatu yang bakal ada adalah semata-mata berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Dengan kata lain, hanya Allah yang bisa menciptakan makhluk seperti Corona dan hanya Allah pulalah yang bisa memusnahkannya.

Tiada satupun kekuatan makhluk, baik jin maupun manusia, yang sanggup mencegah dan menghilangkan penyakit apapun, termasuk Corona, tanpa izin Allah. “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya (Yunus (10): 107).”

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Bagaimana Cara Beriman dengan Allah itu?

Di sisi lain, hanya Allah yang mampu menciptakan Fir’aun, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj yang merupakan penyakit bagi kehidupan manusia di muka bumi dan hanya Allah pulalah yang mampu memusnahkan penyakit-penyakit tersebut melalui para utusan, baik berupa manusia maupun berupa makhluk lain.

Oleh karena itu, dalam salah satu khotbah Habib Umar bin Hafiz, ia secara tegas mengajak orang-orang beriman agar tidak mengagungkan dan mengandalkan benda apapun selain Allah dan tidak pula takut kepada penyakit apapun selain Allah. Artinya, hanya Allah yang wajib diagungkan dan diandalkan dan hanya Allah pulalah yang harus ditakuti dalam hidup ini. Sebab, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini berada dalam genggaman Allah. Semuanya diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada Allah.

Dengan demikian, orang beriman dalam menghadapi wabah virus Corona tidak boleh meniru orang kafir yang hanya mengandalkan pikiran dan kekuatannya semata dan melupakan Allah yang Maha Mengatur dan Menentukan segalanya.

Menurut Habib Umar, orang-orang beriman harus tetap berusaha semaksimal mungkin dalam mencegah virus Corona dan mengobati para korban. Namun demikian, mereka harus tetap mengandalkan Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu. Mereka harus senantiasa menghamba dan berserah diri kepada Allah seraya meminta pertolongan-Nya. Sehingga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Kuasa menyelamatkan kita semua dari amukan wabah virus Corona.

Dalam kesempatan ini, Habib Umar bin Hafiz mengajak orang-orang beriman agar memperbanyak doa, sedekah, zikir, salawat, dan istigfar. Sebab, musibah akan tertolak dan berakhir dengan doa, sedekah, zikir, salawat, dan istigfar.

Dengan demikian, adanya wabah virus Corona ini harus menjadi wasilah (sarana) agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah Sang Maha Penentu segalanya sembari melakukan usaha lahir agar terhindar dari virus tersebut. Bukan sebaliknya, kita melupakan Allah karena merasa bisa mengatasi wabah virus Corona dengan alat dan obat tertentu yang bertaraf internasional.

Baca Juga :  Viral! Seorang Gadis Berjilbab Nazar Akan Berbikini, Wajibkah Ditepati?

Benar kata Hj. Sakdiyah di Bangkalan, Madura, bahwa terkadang Allah memberikan musibah kepada manusia agar mereka ingat kepada Allah dan kemudian meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Namun demikian, tidak sedikit manusia yang tidak sadar akan hal ini dan tetap lupa kepada Allah meskipun sedang tenggelam dalam lautan musibah. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here