Khalid bin al-Walid: Komandan Perang Yang Dilengserkan

2
1783

BincangSyariah.Com – Pada masa ketika peperangan masih menjadi satu-satunya jalan bagi sebuah masyaarakat untuk mempertahankan eksistensinya, komandan pasukan adalah figur utama. Komandan yang ahli strategi dan jago memimpin para prajurit merupakan sosok yang paling disegani dan bisa jadi dikultuskan. Situasi seperti ini pernah terjadi di masa awal Islam. Tepatnya menimpa kepada salah satu sahabat yang bergelar ‘Saifullah’ (Pedang Allah), yaitu Khalid bin al-Walid. Saking hebatnya Khalid dalam memimpin pasukan, Umar bin Khattab takut umat Islam terlampau memujanya sehingga memutuskan untuk melengserkannya dari posisi komandan. Bagaimana kisahnya? Tulisan ini akan menguraikan catatan sejarah mengenai Khalid bin al-Walid.

Latar Belakang Keluarga

Khalid bin al-Walid adalah putra dari pasangan al-Walid bin al-Mughirah dan ‘Asma Lubabah binti al-Harits bin Harb. Ayah Khalid adalah tokoh Quraisy yang disegani berasal dari Bani Makhzum. Sedangkan ibunya yang berasal dari bani Hilal, adalah saudara perempuan istri Rasulullah saw yang bernama Maimunah binti al-Harits dan juga saudara perempuan Lubabah binti al-Harits istri dari al-Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah saw. Jadi di antara Rasulullah saw dengan Khalid terdapat kekerabatan yang saling menyambung karena pernikahan maupun berdasarkan nasab. Karena al-Walid bin al-Mughirah, ayah Khalid juga termasuk Paman Nabi dari Bani Quraisy yang terhubung dari kakeknya Ka’ab bin Luay. Hal ini sebagaimana tercatat dalam kitab Ma’rifat al-Shahabat karya Abu Na’im Ahmad al-Ashbihani.

Ibnu al-Atsir dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh mencatat bahwa kedudukan Al-Walid bin al-Mughirah di tengah-tengah Quraish Mekah adalah berhak penuh untuk memutuskan suatu hukum dan menyatakan deklarasi perang. Dari otoritas yang dimilikinya ini, kita bisa tahu betapa pentingnya kedudukan al-Walid bin al-Muhgirah. Ia juga tercatat sebagai orang yang kaya raya dan mahir dalam syair. Dua modal sosial lain, selain nasab, yang lebih dari cukup untuk menempatkan dirinya sebagai orang terpandang di seluruh Mekah.

Kemahiran syair yang dimiliki al-Walid bin al-Mughirah ini membuatnya secara sadar mengakui keagungan sastra al-Quran. Al-Raghib al-Sirjani dalam Wa Syahida Syahidun min Ahliha menulis bahwa suatu ketika Rasulullah pernah membacakan al-Quran kepada al-Walid, lalu hatinya sempat luluh karena al-Quran.

Baca Juga :  Hukum Menjual dan Membeli Jimat

Mendengar kabar ini, Abu Jahal bergegas menemui al-Walid bin al-Mughirah. “Wahai paman, sesungguhnya kaummu hendak mengumpulkan harta untukmu,” kata Abu Jahal memulai pembicaraan. “Untuk apa?” Jawab al-Walid. “Karena engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran nenek moyang.”

Al-Walid menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu bahwa aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

“Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan jika engkau mengingkari apa yang dikatakan Muhammad (al-Quran),” pinta Abu Jahal.

Al-Walid pun berkata, “Apa menurutmu yang harus kukatakan? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah aklian yang paling memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya melebihi diriku. Apa yang diucapkan Muhamamd tidak serupa dengan itu semua. Bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang diucapkan itu amat indah (halawah). Bagian atasnya berbuah, sedang bawahnya begitu subur. Perkataannya agung dan tidak ada yang mengunggulinya, sungguh ia menghunjam ke dalam dada.”

Penjelasan al-Walid ini ternyata membenarkan asumsi Abu Jahal. Ia pun berkata, “Kaummu tidak akan rela kepadamu sehingga engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang ucapan Muhammad.” Akhirnya al-Walid pun terpengaruh dan mengatakan, “Sungguh apa yang dikatakan Muhammad adalah sihir yang dipelari dari orang lain.”

Peristiwa di atas, menurut pendapat Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim menjadi sebab turunnya QS al-Muddatsir ayat 11-30.

Sepak Terjang Ketika Memusuhi Islam

Apa yang diperbuat al-Walid bin al-Mughirah dalam memusuhi Nabi Muhammad Saw, juga dilakukan oleh Khalid bin al-Walid. Tidak hanya menyiksa para sahabat yang berstrata rendah ketika di Mekah, Khalid juga turut andil dalam memerangi umat Islam setelah pindah ke Madinah. Tercatat bahwa Khalid bin al-Walid termasuk dalam komandan pasukan bagi musyrik Quraisy dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Bahkan menurut catatan sejarahnya, sebagaimana ditulis Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah, penyebab kekalahan terbesar pasukan Muslim dalam perang Uhud adalah karena taktik Khalid bin al-Walid. Khalid adalah komandan pasukan berkuda yang bersembunyi dibalik bukit Uhud, dan langsung menyerang ketika barisan pemanah meninggalkan pos yang telah ditentukan.

Baca Juga :  Memaknai Kewajiban Berpuasa Ramadan

Kisah Masuk Islam

Pasca perjanjian Hudaibiyyah, yakni perjanjian gencatan senjata antara Rasulullah saw dan kafir Quraisy, tepatnya pada permulaan awal tahun ke-6 H, Khalid bin al-Walid tergerak hatinya untuk masuk Islam. Kitab Shifat al-Shifat karya Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi menceritakan secara rinci kisah masuk Islamnya Khalid bin al-Walid ini.

Ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya melaksanakan Umrah qadha pasca perjanjian Hudaibiyyah, saudaranya al-Walid bin al-Walid yang telah lebih dulu masuk Islam mengirimkan surat kepada Khalid. Isinya menanyakan keberadaannya dan menyatakan keinginannya untuk mengajak Khalid masuk Islam. “Sekelas Khalid bin al-Walid pasti tahu tentang keagungan Islam,” ujar Nabi yang tertulis dalam surat adiknya.

Setelah menerima dan membaca surat tersebut, Khalid biin al-Walid beberapa kali bermimpi bahwa ia berdiri di tengah-tengah lapangan hijau yang luas. Pada akhirnya Khalid tergerak untuk menyatakan Keislamannya kepada Rasulullah saw.

Di tengah jalan menuju Madinah, tepatnya di daerah Haddah, Khalid bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash dan Usman bin Thalhah. Ternyata dua orang ini pun memiliki maksud yang sama, hendak menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah saw. Akhirnya mereka bergegas menuju Madinah dan sampai tepat pada tanggal satu bulan Shafar tahun ke-8 H, menyatakan diri masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah saw.

Komandan Pasukan Yang Tangkas

Setelah resmi memeluk Islam, Khalid bin al-Walid langsung bergabung dalam barisan kaum muslimin. Perang pertama yang diikutinya adalah perang Mu’tah melawan pasukan Romawi Timur di bawah kekuasaan kaisar Heraklius. Dalam catatan kitab al-Maghazi, perang ini terjadi pada tanggal 8 Jumadil Awwal tahun ke-8 H.

Pasukan muslim yang berjumlah 3000 orang melawan 200.000 paskan Byzantium (Romawi Timur). Zaid bin Haritsah didapuk menjadi komandan pasukan Muslim, kemudian Ja’far bin Abi Thalib sebagai komandan layer kedua, dan Abdullah bin Rawahah menjadi komandan layer ketiga. Ketiga komandan pasukan ini berakhir mati syahid di medan pertempuran.

Melihat panji pasukan muslim terlepas, Tsabit bin Aqram meraihnya, dan mencari-cari orang yang pantas memegang kendali. Melihat Khalid bin al-Walid, Tsabit berteriak, “Ambillah panji ini wahai Abu Sulaiman (julukan Khalid).”

Baca Juga :  As’ad bin Zurarah: Orang Yatsrib Pertama yang Memeluk Islam

Khalid menjawab, “Tidak. Engkau lebih berhak, engkau lebih lama memeluk Islam dan ikut dalam perang Badar.”

“Ambillah. Demi Allah! Aku mengambil panji ini hanya untukmu,” tegas Tsabit. Lalu Tsabit menegaskan kepada pasukan, “Apakah kalian ridha terhadap Khalid?!”

“Ya. Kami ridha,” jawab pasukan serentak.

Khalid bin al-Walid pun mengambil alih komando pasukan. Dengan ketangkasan dan kecerdasannya mengatur strategi perang, pasukan muslim akhirnya meraih kemenangan.

Di masa kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq, Khalid bin al-Walid menjadi komandan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad dalam perang Riddah. Kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim selama kepemimpinan Khalid bin al-Walid. Begitu pun ketika Khalid diutus Abu Bakar al-Shiddiq ke Irak, pasukan muslim mampu menguasai al-Hirah. Setelah perang ini, Khalid kemudian diperintahkan menuju Damaskus, membantu pasukan yang dipimpin Usamah, dan kembali berhasil meraih kemenangan yang gemilang.

Di tengah-tengah pertempuran, Khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan Umar bin Khattab yang memutuskan untuk mengganti Khalid bin al-Walid dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah (link). Padahal tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukan Khalid. Kitab al-Bidayah wa al-Nihayah merekam pernyataan Umar bin Khattab terkait pencopotan Khalid.

“Sungguh aku tidak mencopot Khalid bin al-Walid karena marah atau dia berkhiatan. Tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin mereka tahu bahwa Allahlah yang membuat kemenangan,” ujar Khalifah Umar.

Hal senada juga tercatat dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala: “Sungguh aku mencopot Khalid (dari jabatan panglima) sehingga umat tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.”

Akhir Hayat

Setelah tidak lagi menjabat sebagai panglima, Khalid bin al-Walid tetap patuh pada perintah komandan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah. Khalid bukanlah tipe sahabat yang gila jabatan dan kekuasaan. Akhirnya Khalid bin al-Walid menghembuskan napas terakhir pada tahun 21 H di kota Homs, dalam perjuangannya membela agama Allah Swt. Sebagian riwayat seperti tertulis dalam Siyar A’lam al-Nubala disebutkan bahwa Khalid wafat di Madinah al-Munawwarah. Atas kepergiannya ini, Khalifah Umar bin al-Khattab amat terpukul dengan kepergian Khalid. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. […] Lembah Badar merupakan lokasi pertempuran bersejarah antara pasukan muslim Madinah melawan pasukan kafir Quraisy Makkah yang disebut dengan Perang Badar Kubra. Pertempuran tersebut berlangsung sehari tepatnya pada hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H. atau 17 Maret 624 M. (Baca: Khalid bin al-Walid: Komandan Perang Yang Dilengserkan) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun ke-5 H, atau tahun ke-4 H. Penyebabnya adalah ketika Bani Nadhir diusir oleh Nabi karena mengkhianati perjanjian dan berupaya mencelakai Nabi dengan menjatuhi batu besar, dan sebagiannya tinggal di Khaibar, maka sekelompok Yahudi Bani Nadhir dan Bani Wail berangkat menuju Makkah untuk membentuk persekutuan dengan Quraisy untuk bersama-sama memerangi Rasulullah Saw. (Baca: Khalid bin al-Walid: Komandan Perang Yang Dilengserkan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here