Kewenangan dan Kepantasan Pemimpin Menjadi Imam Salat

0
1175

BincangSyariah.Com – Belakangan ini, isu-isu keislaman menjadi perbincangan hangat di ruang publik sejalan dengan kehangatan isu-isu politik. Betapa tidak, nyaris semua orang mulai dari masyarakat kelas atas, menengah, hingga kelas bawah tak mau ketinggalan larut dalam kehangatannya. Bahkan tak jarang perbincangannya berujung dengan kegaduhan yang meresahkan masyarakat.

Sepintas saya menyimpulkan bahwa ramainya perbincangan isu-isu keislaman sengaja didesain guna mempengaruhi akal sehat masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya. Karena sudah terbukti isu-isu keislaman di negeri ini yang mayoritas penduduknya beragama islam memiliki nilai tawar yang sangat tinggi di hadapan mayarakat, sehingga mau tidak mau mereka harus menyentuh ranah ini walaupun di balik itu ada ada misi tersembunyi.

Dari sekian banyak isu-isu keislaman yang baru-baru ini menggelinding adalah berani tidaknya seorang tokoh atau pemimpin menjadi imam salat. Karena bagi mereka pemimpin yang sudah terbukti berani menjadi imam salat otomatis sebagai nilai plus yang akan dijadikan senjata ampuh dalam pemilihan berikutnya.

Pemberitaan Jokowi menjadi imam salat entah melalui narasi, foto, dan video dalam tahun politik kali ini sudah menjadi bukti jelas bahwa memang isu-isu keagamaan memiliki kekuatan tersendiri untuk meraup suara rakyat. Terlebih, sebagian elite politik yang menjadi pendukungnya terkesan melebih-lebihkan hingga berujung menantang rival politiknya untuk menjadi imam salat yang bertujuan menurunkan integritas dan kesalehannya sebagai calon pemimpin.

Saya sebagai akademisi merasa tergugah untuk menyampaikan kewenangan dan kepantasan seorang pemimpin menjadi imam salat, agar masyarakat tercerahkan untuk melihat kemelut politik yang membingungkan ini. Namun, perlu digarisbawahi bahwa saya tidak mau menilai apalagi menjustifikasi bahwa tindakan semacam itu bagian dari tindakan kotor dan menghinakan. Saya di sini hanya ingin fokus pada kewenangan pemimpin dan pantas tidaknya menjadi imam salat.

Baca Juga :  Hukum Memegang Tongkat saat Khutbah Jumat

Kewenangan dan kepantasan menjadi imam salat, menjadi perhatian serius dalam Islam. Karena seorang imam menjadi penentu keberhasilan salat yang dilaksanakan secara berjamaah. Sehingga semua orang yang mampu melaksanakan salat sendirian tidak otomatis berwenang dan pantas menjadi imam di saat ingin melaksanakan salat secara berjamaah. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dulu sebelum ia ingin bertindak sebagai imam salat berjamaah. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada pada status salatnya para jamaah.

Kriteria dimaksud dalam Islam ada yang bersinggungan dengan kewenangan menjadi imam dan ada yang bersinggungan dengan kepantasan. Keduanya tidak boleh disamakan, karena yang pertama menjadi syarat mutlak sah tidaknya sebuah salat yang dilangsungkan secara berjamaah. Sedang yang kedua, tidak bersinggungan dengan sah tidaknya salat berjamaah. Ia hanya menyentuh patut tidaknya seseorang memimpin menjadi imam salat berjamaah.

Kepantasan seseorang untuk bertindak menjadi imam telah disinggung dengan jelas dalam sabda Rasulullah saw. yang  diriwayatkan  oleh Imam Muslim No.1079, Imam Abu Daud No.1079,  Imam Ahmad No.21308,  dan Imam Ibnu Majah No.970, dalam hadis berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِه

Rasulullah saw. mengatakan, “Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalan terhadap Kitab Allah (Al Qur’an), jika di antara mereka ada yang memiliki hafalan sama maka yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi (hadits) jika diantara mereka masih sama maka yang paling dahulu hijroh. Jika mereka dalam masalah hijrah sama maka yang lebih dahulu masuk islam Janganlah seorang laki-laki menjadi imam seorang lelaki yang lain yang merupakan sultannya dalam daerah kekuasaan sultan tersebut dan tidak pula di rumah orang yang di datanginya sebagai bentuk pemuliaan baginya kecuali atas izin orang tersebut”.

Akhir potongan hadis di atas menjadi dasar komentar ulama empat mazhab yang berujung pada kesepakatan terkait bolehnya seorang pemimpin menjadi imam salat berjamaah sekalipun ia tidak memenuhi kriteria kepantasan menjadi imam yang disebutkan di awal potongan hadis tersebut. Bagi mereka, jika disana ada seorang pemimpin maka ia harus didahulukan dari seseorang yang memenuhi kriteria yang tergabung dalam jamaah yang akan dilaksanakan. Karena pemimpin memiliki kekuasaan penuh dalam segala urusan. (Abd. Muhsin bin Munif, Aḥkām al-Imām wa al-I’timām 1987)

Namun, yang perlu menjadi perhatian serius dalam seorang yang hendak menjadi imam salat berjamaah bukanlah hanya masalah kepantasan semata, tapi ada masalah kewenangan yang harus didahulukan. Apakah ia tergolong lancar bacaannya sesuai dengan ketentuan hukum Islam yang berujung pada ketepatan pelafalan kalimat dan tidak mengubah makna atau malah sebaliknya. Ia membaca dan melafalkan bacaan-bacaan salat khususnya al-Fatihah terkesan kaku dan tidak tepat yang pada akhirnya dapat merubah makna yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga :  Makna 'Awliya' dalam Alquran

Hal ini menjadi perhatian tersendiri dalam Islam yang harus didahulukan dari masalah kepantasan menjadi imam salat berjamaah. Karena menurut ulama fikih empat mazhab seseorang yang ingin bertindak menjadi imam harus dari orang yang benar bacaannya, tidak kaku serta tidak salah dalam membaca bacaan-bacaan salat khususnya al-Fatihah yang dalam bahasa fikihnya dikenal dengan sebutan al-ummi.

Keempat mazhab sepakat bahwa seseorang yang bermakmum pada imam yang tidak benar bacaaannya khususnya al-Fatihah, maka salatnya dianggap batal. Berdasarkan hadis riwayat ‘Ubadah Ibn Shamit yang berisi “tidak sah salat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah”. Orang yang tidak benar membaca al-Fatihah menurut mereka tidak dikatakan membacanya karena telah membuat celah sehingga bacaannya menjadi tidak sempurna. Belum lagi menurut mereka, ketidaktahuan membaca khususnya al-Fatihah dianggap sebagai kekurangan yang berpengaruh terhadap keabsahan jamaah bagaikan kekufuran dan kewanitaan.

Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kepantasan menjadi imam salat berjamaah bukan menjadi penentu awal boleh tidaknya seseorang menjadi imam, sehingga kewenangan tidak lagi menjadi perhatian. Karena dalam salat berjamaah ada hukum lain yang tidak boleh disamakan dengan hukum salat sendirian. Orang yang memang betul tidak bisa membaca al-Fatihah dengan yang benar masih ditolerir saat salat sendirian karena faktor darurat. Tapi berbeda dengan salat berjamaah. Ketika imam tidak benar dalam membaca al Fatihah, maka tidak boleh makmum pada imam tersebut. Karena bagi jamaah tidak kata darurat.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here