Keutamaan Merantau dalam Syair Imam As-Syafi’i

0
331

BincangSyariah.Com – Merupakan hal yang jamak diketahui bahwa Islam memprioritaskan kegiatan menimba ilmu pengetahuan sebagai solusi untuk mengatasi keterbelakangan moral manusia. Sejarah menjadi saksi atas pengejawantahan teori tersebut. Sebelum Nabi Muhammad diutus bangsa Arab dan sekitarnya merupakan bangsa yang terebelakang dan tak mengenal peradaban, Islam datang kemudian menawarkan prioritas membaca dan menganalisa berbagai pengetahuan, akhirnya adalah sebuah kehidupan yang terang dan melek pengetahuan. Bukan hanya Arab, hampir seluruh dunia yang dihuni oleh umat islam mengamini kebenarannya.

Dalam hal ini terdapat sebuah ritual yang wajib ditunaikan bagi pegiat keilmuan, yakni merantau dan berkelana. Ulama-ulama besar Islam, baik klasik ataupun modern, mengaplikaskan ritual ini dengan khidmat dan bijaksana. Terkhusus dalam hal ini adalah ulama-ulama ahli hadis, dalam berbagai literatur yang mengulas perjalanan perawi hadis lazim disebutkan daerah-daerah yang menjadi tempat persinggahan perawi menimba periwayatan dari gurunya.

Bahkan, secara khusus imam Khatib al-Baghdadi, ahli hadis terkemuka abad 5 hijriah, menulis kitab khusus yang mengulas masalah tentang merantau pada karya yang berjudul Ar-Rihlah fi Thalab -il Hadis (pengembaraan mencari periwayatan hadis). Secara khusus beliau mengulas keutamaan melakukan rihlah (merantau) guna mencari ilmu dan memuat setidaknya kisah pengembaraan 63 ahli hadis terkemuka.

Imam As-Syafii’, seorang tokoh mazhab yang wafat tahun 204 hijriah membuat sebuah syair yang cukup menarik. Berikut bunga rampai yang beliau gubah mengenai keutamaan merantau.

  مَا فيِ المُقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ

مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الأَوْطَانَ وَاغْتَرِب

Tidak ada tempat bagi orang yang berakal dan beradab untuk beristirahat, tinggalkanlah tanah kelahiran dan mengasingkandirilah.

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ

وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ العَيْشِ فيِ النَصَبِ

Baca Juga :  Kisah Imam Syafi’i Mengaji pada Sayidah Nafisah, Cicit Rasulullah

Berkelanalah maka engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang kau tinggalkan

Dan berlelah-lelahlah karena sesungguhnya nikmat hidup itu didapat saat kita berlelah-lelah

إِنِّيْ رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءِ يُفْسِدُهُ

إِنْ سَالَ طَابَ وَإِنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

Sesungguhnya saya melihat air yang tergenang itu pasti akan rusak, jika mengalir maka air tersebut akan baik jika tidak maka ia akan membusuk

وَالأُسْدُ لَوْلاَ فِرَاقُ الغَابِ مَاافْتَرَسَتْ

وَالسَهْمُ لَوْلاَ فِرَاقُ القَوْسِ لَمْ يُصِبِ

Dan singa jika ia tidak keluar dari belantaranya maka tak akan dapat menerkam mangsa, anakpanahpun jika tidak keluar dari busurnya maka tak akan mencapai sasaran tembak.

وَالشَمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فيِ الفُلْكِ دَايِمَةً

لَمَلَّهَا النَاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنْ عَرَبِ

Matahari manakala berdiam saja tidak berotasi maka seluruh penduduk dunia akan merasakan kebosanan.

وَالتِبْرُ كَالتُرْبِ مُلْقًى فيِ أَمَاكِنِهِ

وَالعُوْدُ فِي أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنَ الحَطَبِ

Tanah yang mengandung emas akan seperti tanah biasa jika ia tetap berdiam di tempatnya (tidak berharga, berbeda jika ia dikelola menjadi emas), dan kayu cendana akan bernilai seperti kayu biasa jika ia hanya mendekam di pohon.

Secara umum ungkapan beliau menyerukan kepada kita agar giat untuk merantau mencari peruntungan di luar daerah yang kita tinggali. Baik itu dalam konteks mencari ilmu atau hal-hal lain yang mengandung unsur kemuliaan. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here