Keutamaan Merahasiakan Sedekah Menurut al-Ghazali

3
18

BincangSyariah.Com – Sedekah merupakan sebuah ibadah yang banyak sekali pahalanya. Selain menunjukkan pengabdian kita kepada Allah SWT, sedekah juga memiliki faidah sosial yakni memperingan beban saudara sesama muslim kita yang membutuhkan. Dalam mempraktikkan pemberian sedekah, ada dua cara yang bisa kita lakukan, yakni bisa dengan cara merahasiakannya, dan bisa juga dengan memperlihatkannya.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan keutamaan merahasiakan sedekah (as-sirr). Diantara keutamaan tersebut ialah menjauhkan diri kita dari sifat riya dan terdengar ke mana-mana. Nabi Muhammad SAW bersabda,

أفضل الصدقة جهد المقل إلى فقير في سر

Afdlalush shadaqati juhdul muqilli ilaa faqiirin fii sirrin

“Sedekah yang terbaik, ialah kesungguhan dari orang yang sedikit hartanya, menyerahkan sebahagian daripadanya kepada orang fakir dengan dirahasiakan.” (HR. Ahmad)

Selain dalil hadits diatas, terdapat juga salah satu hadits Fadha’il al-A’maal yang menjelaskan perihal keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi, yaitu,

إن العبد ليعمل عملا في السر فيكتبه الله له سرا فإن أظهره نقل من السر وكتب في العلانية فإن تحدث به نقل من السر والعلانية وكتب     رياء

“Sesungguhnya hamba itu hendaklah berbuat amalan dalam rahasia, maka dituliskan Allah baginya secara rahasia. Jikalau dilahirkan nya, maka dipindahkan oleh Allah dari rahasia dan dituliskan dalam keadaan terang Jika diceriterakannya amalan itu kepada orang, maka dipindahkan oleh Allah dari keadaan rahasia dan terang dan dituliskan riya.” (HR. Anas)

Pada suatu hadits masyhur, dijelaskan pula bahwa kelak di akhirat, Allah akan memberikan naungan bagi orang-orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi,

سبعة يظلهم الله يوم لا ظل إلا ظله أحدهم رجل تصدق بصدقة فلم تعلم شماله بما أعطت يمينه

Baca Juga :  Kritik al-Ghazali terhadap Syiah Ismailiyyah

Sab-‘atun yudhilluhumullaahu yauma laa dhilla illaa dhilluhu, ahaduhum rajulun tashaddaqa bishadaqatin falam ta’Iam syimaa-luhu bimaa a’-that yamiinuh

“Tujuh orang, dinaungi mereka oleh Allah, pada hari yang tak ada naungan, selain daripada naungan Allah. Seorang dari mereka, ialah orang yang bersedekah dengan suatu sedekah, maka tidak diketahui oleh tangan kirinya, apa yang diberikan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa sedekah secara rahasia bisa memadamkan amarah Allah kepada kita,

صدقة السر تطفىء غضب الرب

“Sedekah secara rahasia, memadamkan kemarahan Tuhan.” (HR. al-Thabrani)

Pada prinsipnya, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa keutamaan bersedekah dengan sembunyi-sembunyi ini ialah agar kita terhindar dari penyakit riya dan penyakit hati lainnya, yakni senang apabila nama kita masyhur di masyarakat. Selain kedua penyakit diatas, ada pula beberapa penyakit lainnya yang bisa kita hindari dengan bersedekah secara rahasia, yakni penyakit al-mannu, yakni mengungkit-ungkit sedekah yang telah kita berikan kepada seseorang. Orang yang memberikan sedekah dihadapan orang banyak berpotensi melakukan riya, sedangkan merahasiakan dan berdiam diri sesudah bersedekah, adalah ciri dari orang yang ikhlas dengan sedekahnya.

Imam al-Ghazali juga menceritakan tentang segolongan ulama yang dengan berbagai cara, berupaya untuk merahasiakan sedekahnya. Ada yang dengan jalan meletakkannya pada orang buta agar dibagikan, ada yang dengan meletakkannya di jalan yang sering dilalui oleh orang miskin dan fakir, ada yang memasukkan sedekahnya pada kantung baju orang fakir saat sedang tidur, ada yang dengan perantaraan orang lain yang bisa menjaga rahasia dan tidak menyebarkan beritanya. Semuanya ini adalah dalam rangka untuk menghindarkan diri dari sifat riya.

Apabila tidak memungkinkan untuk menghindari diketahui manusia, maka sebaiknya diserahkan kepada wakil yang terpercaya agar disampaikan kepada fakir dan miskin. Tujuannya adalah agar fakir dan miskin tidak mengenal siapa yang memberikan sedekah kepadanya. Sehingga terjagalah kita dari potensi riya dan kemasyhuran.

Baca Juga :  Hukum Mengambil Harta yang Terbawa Tsunami dan Banjir

Manakala ada kemasyhuran yang dimaksudkan bagi si pemberi, maka batallah amalnya. Karena zakat adalah menghilangkan kekikiran dan melemahkan kecintaan kepada harta. Dan mencintai kemegahan, adalah lebih hebat pengaruhnya kepada diri daripada mencintai harta. Kedua-duanya itu membinasakan di akhirat.

Di sisi lain, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa zakat merupakan ibadah yang mengjindarkan kita dari sifat kikir. Namun apabila dengan berzakat kemudian melahirkan sifat riya dalam diri kita, maka sia-sia lah amalan kita. Oleh karena itu beliau menganjurkan agar kita bersedekah secara rahasia.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here