Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

0
17

BincangSyariah.Com – Islam selalu mendorong setiap orang untuk menuntut ilmu. Sebab, menuntut ilmu dalam Islam adalah satu kegiatan yang mampu mendatangkan pahala.

Mari memahami makna menuntut ilmu dan keutamannya agar dalam menuntut ilmu kita tidak hanya menjadi cerdas dan pandai, tapi juga mendapatkan pahala berlipat sebab berlandasan niat kepada Allah Swt.

Apa Itu Menuntut Ilmu?

Menuntut ilmu atau belajar adalah kewajiban setiap orang Islam. Banyak sekali ayat Al-Qur’an atau hadits Rasulullah Saw. yang menjelaskan tentang kewajiban belajar.

Kewajiban tersebut ditujukkan kepada perempuan dan laki-laki. Wahyu pertama yang diterima Nabi Saw. adalah perintah untuk membaca atau belajar. Q.S. Al-‘Alaq (96):1-5 sebagai berikut:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

iqra` bismi rabbikallażī khalaq

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,”

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

khalaqal-insāna min ‘alaq

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

iqra` wa rabbukal-akram

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,”

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

allażī ‘allama bil-qalam

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,”

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

‘allamal-insāna mā lam ya’lam

“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kewajiban menuntut ilmu bagi perempuan dan laki-laki adalah tanda bahwa agama Islam tidak membeda-bedakan hak dan kewajiban manusia karena jenis kelaminnya.

Meskipun memang ada beberapa kewajiban yang diperintahkan Allah Swt. dan Rasul-Nya yang membedakan lak-laki dengan perempuan. Tapi, dalam menuntut ilmu, keduanya mempunyai kewajiban dan hak yang sama.

Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai khalifah di muka bumi dan sebagai hamba (‘abid). Untuk menjadi khalifah yang sukses, maka seorang Muslim sudah tentu membutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mengelola dan merekayasa kehidupan di bumi ini tanpa bekal ilmu pengetahuan?

Untuk mencapai tingkat keyakinan atau keimanan hamba yang tertinggi kepada Allah Swt. dan makhluk-makhluk-Nya yang gaib, maka dibutuhkan ilmu pengetahuan yang luas.

Menuntut ilmu tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Tentang jarak, ada ungkapan yang menyatakan bahwa tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Islam juga mengajarkan bahwa menuntut ilmu dimulai sejak lahir hingga liang lahat.

Pentingnya Menuntut Ilmu

Aktivitas menuntut ilmu tidak mengenal waktu dan jenis kelamin. Perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu. Setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt. kepadanya.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas dalam bentuk masalah salat, puasa, haji, dan zakat. Menuntut ilmu bahkan dianggap sebagai ibadah yang utama, sebab dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar.

Imam Ja’far al-Shâdiq pernah berkata: “Aku sangat senang dan sangat ingin agar orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku dapat belajar agama, dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya ketika ia bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama.”

Berikut adalah pentingnya mencari ilmu pengetahuan bagi seperti apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:

Pertama, pentingnya belajar dan mencari atau menuntut ilmu dalam Islam adalah seperti yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. dalam surat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.22

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam dimulai dari kata “bacalah”. Apabila diurutkan dari lima ayat awal, maka kita akan dapatkan kata “bacalah”, “mengajar” dan “kalam”, akan terlihat betapa pentingnya membaca, belajar, menulis dan mengajar.

Nabi Muhammad Saw. mewajibkan kepada tiap Muslim untuk memeroleh pengetahuan. Dalam sebuah hadis, beliau menyuruh umatnya menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri China. Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat bisa menjadi penebus dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Kedua, doa para Nabi Muhammad Saw. dan orang-orang saleh banyak disebut dalam Al-Qur’an. Allah Swt. memerintahkan kepada umatnya dalam al-Qur’an untuk berdoa: “…Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Doa tersebut adalah doa yang cukup populer bagi umat Islam selama berabad-abad dan bahkan anak-anak kecil dari keluarga muslim sudah menghafalkan dan membaca doa ini.

Ketiga, manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna dan itu dikarenakan Allah Swt. memberikan akal pikiran serta pengetahuan kepada manusia. Sebab, akal pikiran serta pengetahuanlah yang membuat manusia lebih utama dibandingkan malaikat. Allah Swt. mengajarkan kepada Nabi Adam a.s. nama-nama benda lalu kemudian mengemukakannya kepada para malaikat.

Hikmah atau ilmu adalah harta paling berharga di dunia dan merupakan kekayaan yang tiada habisnya. Allah Swt. menganugerahkan al-hikmah yaitu kepahaman yang dalam tentang al- Quran dan al-Sunnah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Keempat, Islam begitu menekankan betapa pentingnya pendidikan. Dalam Q.S. al-Taubah Ayat 122, Allah Swt. berfirman: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Jihad adalah kewajiban bagi tiap Muslim laki-laki dewasa ketika keamanan Islam dalam bahaya. Bahkan dalam keadaan darurat dan kritis pun kewajiban untuk belajar tetap tidak hilang.

Orang-orang beriman diserukan agar jangan semua diantara mereka itu pergi berjihad ke medan perang. Akan lebih baik jika mereka menyisakan sebagian lagi untuk belajar agama sehingga memiliki kemampuan untuk mengajar nantinya.

Nabi Muhammad Saw. membebaskan para tawanan perang Badar tanpa tebusan, cukup dengan syarat para tawanan tersebut mengajarkan anak-anak muslim bagaimana membaca dan menulis.

Hal ini memperlihatkan pandangan Nabi Muhammad Saw. tentang pentingnya pendidikan dan melek huruf bagi anak-anak Muslim.

Kelima, para ahli tafsir umumnya berpandangan bahwa Q.S. al-Ahzâb ayat 34 ditujukan bagi istri-istri Nabi Muhammad saw. Istri-istri Nabi Muhammad saw. diinstruksikan untuk belajar apa-apa yang telah dibacakan di rumah mereka dari al-Qur’an dan hikmah.

Istri-istri Nabi Muhammad saw. menjadi sosok ”Ibu” bagi umat Islam baik ketika Nabi Muhammad saw. masih hidup ataupun ketika beliau sudah wafat. Istri-istri Nabi merupakan sosok yang dalam kesehariannya banyak mendapatkan pengajaran langsung darinya.

Peran seorang ibu dalam Islam sangat vital karena seorang ibu bertugas mendidik dan membina anak-anak agar tercipta generasi-generasi penerus yang bisa dibanggakan baik akhlak dan kepribadiannya, ilmu agama dan ilmu pengetahuannya.

Keenam, berdasarkan QS. al-Mujâdilah ayat 11, niscaya Allah Swt. akan memberikan derajat yang tinggi serta penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. QS. Ali Imrân ayat 18 memasukkan orang-orang yang berilmu di antara mereka yang menyatakan tentang Keesaan Allah.

Ketujuh, pentingnya menulis dan pena yang merupakan simbol dari menulis mendapatkan tempat khusus dalam QS. al-Qalam: 1-2, Allah Swt. bersumpah demi pena, dan di ayat lainnya Allah memerintahkan orang-orang beriman apabila mereka bermuamalah agar tidak lupa untuk menuliskannya.

Semangat belajar dalam Islam selain dicontohkan para istri Nabi saw. juga langsung dicontohkan para sahabat. Banyak di antara sahabat yang kemudian dikenal sebagai para “ahli perawi hadits” yang mana mereka menghafal dan mentransmisikan kembali puluhan, ratusan sampai ribuan hadis Nabi Muhammad SAW. secara lisan dari ingatan mereka.

Pada generasi berikutnya, rekor ini dipecahkan dengan lebih spektakuler lagi. Imam al-Bukhari menghafal sekitar 100.000 hadits shahih, dan kurang lebih 200.000 hadits lainnya dari berbagai tingkatan.

Hidayah, Takwa, dan Ilmu

Imam al-Ghazali menulis kitab berjudul Bidâyah al-Hidâyah yang jika dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai awal tumbuhnya hidayah. Secara umum, kitab tersebut berisi etika atau adab sehari-hari dalam kehidupan seorang Muslim, dimulai sejak bangun tidur sampai tidur kembali.

Dalam muqaddimah kitab tersebut, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa hidâyah adalah tsamrah al-‘ilm yakni buah dari ilmu. Dengan kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa landasan ilmu. Hal lain yang disampaikan dalam kitab ini adalah bahwa niat mencari ilmu mesti berlandaskan niat, demi meraih hidayah Allah Swt.

Dalam pembukaan Bidâyah al-Hidâyah, Imam al-Ghazali menulis sebagai berikut:

“Sesungguhnya hidayah—yang merupakan buah dari ilmu—mempunyai pangkal (bidâyah) dan ujung (nihâyah), yang tampak (zhâhir) dan yang tersembunyi (bâthin). Tidak mungkin sampai ke ujungnya sebelum memantapkan pangkalnya. Tidak akan mengerti bâthin-nya sebelum menyaksikan (musyâhadah) terhadap zhâhir-nya.”

Imam al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah, manusia dalam mencari ilmu berada dalam tiga keadaan.

Pertama, orang yang mencari ilmu sebagai bekal kembali kepada Allah Swt., tidak menghendaki selain ridhaNya dan (kebahagiaan) negeri akhirat, maka inilah orang yang beruntung.

Kedua, orang yang mencari ilmu untuk membantu kehidupannya yang sesaat (pragmatis), demi memperoleh kemuliaan, pangkat, dan harta;

Padahal dia mengerti dan menyadari dalam hatinya akan kerapuhan posisinya dan kerendahan tujuannya yang seperti itu; maka ia termasuk orang yang berada dalam bahaya besar.

Jika ajalnya menjemput sebelum sempat bertaubat, dikhawatirkan ia terjerumus dalam sû’ al- khâtimah.

Urusan dirinya pun berada di tepi jurang, tergantung kehendak Allah Swt. (apabila dia mau akan diampuni, jika tidak maka akan disiksa).

Jika seorang manusia mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum tibanya ajal, kemudian menyandarkan kepada ilmunya itu amal, sekaligus berusaha mendapatkan apa yang pernah dilewatkannya, maka ia akan menyusul kelompok orang-orang yang beruntung diatas.

Sesungguhnya orang yang bertaubat dari dosa sama halnya dengan orang yang tidak berdosa.

Ketiga, orang yang dikendalikan oleh setan sehingga menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk menumpuk harta, mengejar pangkat, berbangga diri dengan banyaknya pengikut;

(Di mana) ia memanfaatkan ilmunya untuk memasuki segala celah demi meraih dunia dan semua keinginannya;

Padahal dia merasa dirinya di sisi Allah Swr. mempunyai kedudukan mulia, karena ia mengenakan simbol-simbol para ulama’, memakai “uniform” kebesaran mereka, baik dalam berpakaian maupun berbicara; disertai kegesitan untuk meraup keuntungan duniawi, maka ia adalah orang yang akan binasa.

Ia orang dungu yang tertipu, terputus harapan darinya untuk bertaubat sebab ia menyangka dirinya termasuk orang-orang yang berbuat baik (muhsin).”

Golongan ketiga yang disebutkan Imam al-Ghazali adalah para ulamâ’ al-su’, yakni orang-orang yang keberadaannya lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dibanding Dajjal sekalipun.

Mereka adalah orang-orang pintar yang hanya berkepentingan untuk menyesatkan manusia. Kepentingan memalingkan mereka kepada harta dan kenikmatan duniawi, baik dengan perkataan atau perbuatan.

Dengan perbuatan dan sepak-terjangnya, mereka menyeru kepada dunia, padahal “lisân al-hâl afshah min lisân al-maqâl”. Perbuatan berbicara lebih fasih dibanding perkataan.

Menurut Imam al-Ghazali, merekalah penyebab semakin beraninya orang-orang awam untuk berpaling kepada dunia. Sebab, orang awam tidak akan berani mengharapkan dunia kecuali para ulamanya telah berbuat demikian terlebih dahulu.

Mestinya dengan menuntut ilmu, ilmu yang didapatkan akan membuat seorang manusia menjadi takwa dan mejemput hidayah, bukan malah membuatnya menjadi sombong.[]

(Baca: Hikmah Pagi: Menuntut Ilmu Butuh Kesabaran, Tidak Bisa Instan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here