Keutamaan Menghidupkan Tanah yang Mati

0
1479

BincangSyariah.Com – Islam mencintai manusia meluaskan bagiannya dalam menggarap dan bertebaran di muka bumi serta menghidupkan tanah yang mati sehingga kekayaan mereka banyak dan mereka menjadi kuat. Oleh karena itu, Islam menyukai pemeluknya mendatangi tanah yang mati lalu menghidupkannya, menggali kebaikannya dan memanfaatkan keberkahannya

Menghidupkan tanah mati dalam Islam biasa dikenal dengan ihya al-mawat. Dalam As Sunnah, Sayyid Sabiq memaparkan bahwa ihya al mawat itu merupakan penggarapan lahan kosong yang belum diolah dan belum dimiliki seseorang untuk dijadikan lahan produktif. Aktivitas menghidupkan tanah mati itu adalah dengan memanfaatkannya. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakannya untuk bercocok tanam atau berkebun, bisa dengan mendirikan bangunan di atasnya baik untuk tempat tinggal atau untuk keperluan yang lain. Biasanya, sebagai langkah awal adalah dengan memagarinya, lalu menghidupkannya.

Cara menghidupkan tanah mati bisa dengan banyak cara. Perbedaan cara-cara ini dipengaruhi oleh adat dan kebiasaan masayarakat setempat. Misal dibuat untuk lahan sekolahan, maka akan banyak menumbuhkan pundi-pundi kebaikan lainnya. Yang pasti, untuk apa saja lahan mati tersebut di kemudian hari, tentu baginya pahala dan ganjaran. Oleh sebab itu, penggunaan tanah mati ini dianjurkan untuk sesuatu yang bermanfaat dengan orang banyak. Sebagaimana sabda Nabi: 

وقال صلى الله عليه وسلم من أحيا أرضا ميتة فيه أجر وما أكلت العافية منها فهو له صدقة

Rasulullah bersabda: Barangsiapa menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala tanah itu. Dan segala apa yang dimakan makhluk dari tanamannya, maka itu merupakan sedekah

Hadis tersebut memaparkan bahwa terdapat sebuah pahala yang akan terus mengalir ketika tanah mati tersbeut dipergunakan untuk kebaikan. Bernilai amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun orang yang melakukannya telah meninggal dunia. Dalam Islam, manusia hidup hanyalah untuk mencari pahala dari amal ibadahnya dan keridhaan Allah semata. Tidak untuk yang lain, sehingga orang-orang akan terus berlomba-lomba dalam kebaikan agar mendapatkan kehidupan yang layak kelak di akhirat.

Baca Juga :  Sahkah Talak Via Whatsapp (WA)?

 Ketentuan menghidupkan tanah mati (ihyâ’ al-mawât) ini akan berkonsekuensi pada dua hal. Pertama: tanah-tanah yang ada menjadi produktif. Dengan ketentuan itu, pemilik tanah akan terdorong memproduktifkannya. Jika ia menelantarkannya selama tiga tahun berturut-turut, ia akan kehilangan kepemilikannya. Kedua: tanah akan terdistribusikan di tengah-tengah rakyat. Dengan ketentuan itu, tidak akan terjadi seseorang menguasi tanah yang sangat luas, sementara ia menelantarkannya. Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَعَطَلَهَا ثَلاَثَ سِنِيْنَ لاَ يَعْمُرُهَافَعَمَرَهَا غَيْرُهُ فَهُوَ أَحَقٌّ بِهَا

Siapa saja yang memiliki tanah, lalu ia menelantarkannya selama tiga tahun, tidak memanfaatkannya, lalu datang orang lain memanfaatkanya, maka orang lain itu lebih berhak atas tanah itu.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here