Ketika Sayyidah Aisyah Mengkritik Hadis Wanita Sumber Sial

1
2215

BincangSyariah.Com – Diskriminasi terhadap wanita tidak sedikit menggunakan legitimasi agama. Salah satu bentuk diskriminasi tersebut adalah mengenai hadis wanita sumber sial. Hadis tersebut adalah riwayat Imam Ahmad melalui jalur Abu Hurairah, Nabi bersabda;

الطِّيَرَةُ فِي الدَّارِ ، وَالْمَرْأَةِ ، وَالْفَرَسِ

“Kesialan ada dalam rumah, wanita dan kuda” [HR. Ahmad]

Dalam hadis yang lain riwayat Imam Bukhari, Abdullah bin Umar mengatakan, Nabi bersabda;

إِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي الْفَرَسِ وَالْمَرْأَةِ وَالدَّارِ

“Hanya saja kesialan itu ada pada 3, kuda, wanita, dan rumah.” [H.R. Bukhari].

Sebagai wanita yang cerdas, ahli hadis, ulama, pakar bidang hukum Islam tentu Siti Aisyah cukup paham soal sabda Baginda apalagi hadis yang didengar langsung oleh beliau. Ternyata beliau menyangkal pemahaman yang keliru tentang kehinaan para wanita. Diceritakan bahwa ada dua orang dari Bani Amir mengunjungi Siti Aisyah lalu berkata; sesunggunya Abu Hurairah berkata, Rasul bersabda;

الطِّيَرَةُ فِي الدَّارِ ، وَالْمَرْأَةِ ، وَالْفَرَسِ

Kesialan ada dalam rumah, wanita dan kuda [HR. Imam Ahmad]

Mendengar itu, siti Aisyah mendadak sangat marah dilanjutkan dengan kata-kata; itu bukan sabda Nabi, Baginda hanya menceritakan bahwa; sesungguhnya masyarakat jahiliah meyakini akan kesialan itu ada pada 3 tadi. (Abdurrauuf al-Muanaawy, Faidul Qadiir Syarah al-Jami’ as-Shaghiir, juz; 4, hal; 294). (Baca: Benarkah Urusan Rumah Tangga Tanggung Jawab Wanita?)

Selain itu Sayyidah Aisyah bersumpah; demi Dzat yang menurunkan Al-Qur’an pada Muhammad, Nabi tidak pernah berkata begitu hanya saja beliau mengatakan; sesungguhnya Arab Jahiliah meyakini atau meramalkan kesialan ada pada 3 tersebut. (Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, juz; 14, hal; 150).

Dari sini dipahami bahwa 3 kesialan itu bukan keputusan atau ketentuan sakral dari Tuhan dan Nabi, melainkan keyakinan keliru orang Arab Jahiliah. Namun ada ulama yang menafsirkan bahwa maksud kesialan itu melekat bagi mereka yang memiliki pasangan yang akhlaknya tidak baik.

Baca Juga :  Metodologi Kritik Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

Oleh karena itu, menurut al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, terdapat hadis lain yang menguatkan penafsiran di atas, sebagaimana riwayat dari al-Hakim dari sahabat Sa’ad, sebagai berikut:

من سعادة بن أدم ثلاثة: المرأة الصالحة والمسكن الصالح والمركب الصالح ومن سقاوة بن أدم ثلاثة المرأة السوء والمسكن السوء والمركب السوء

“Di antara kebahagiaan seseorang ialah 3; wanita shalehah, rumah yang nyaman, dan kendaraan yang nyaman. Sementara termasuk tanda kecelakaan seseorang ialah 3; istri yang buruk (tingkahnya), rumah yang buruk (tidak nyaman), dan kuda atau kendaraan yang buruk” (HR. Ibn Hibban)

Jika demikian, lelaki maupun perempuan itu bisa menjadi penyejuk atau pembawa sial bagi pasangannya. Hadis tersebut itu bukan sedang membedakan gender lelaki maupun perempuan sebagai pembawa sial. Siapa yang berperilaku buruk dialah pembawa sialnya baik laki-laki maupun wanita.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here