Ketika Rasulullah Melarang Ditegakkannya Hukum Allah

1
1616

BincangSyariah.Com – Sebagian kelompok dalam Islam percaya bahwa hukum Allah adalah sebuah aturan yang harus ditegakkan dalam keadaan apa pun.  Bahkan ada di antaranya yang percaya bahwa metode menegakkannya harus dengan kekerasan seperti perang.

Seringkali, pengertian hukum Allah dibatasi pada bentuk-bentuk sanksi kejahatan seperti potong tangan dan rajam. Jika dalam suatu masyarakat atau negara tidak ada aturan yang menerapkan sanksi potong tangan dan rajam untuk menghukum penjahat, maka masyarakat atau negara belum dianggap sebagai masyarakat Islam atau negara Islam.

Bahkan, pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah dianggap kafir.
Hukum Allah telah menjadi alat untuk menilai keimanan seseorang. Padahal, bila kita merujuk kepada sejarah awal Islam, Rasulullah Saw. bahkan pernah melarang sahabatnya menegakkan hukum Allah yang rawan dipolitisasi.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari sahabat Buraidah bahwa Rasulullah Saw. punya kebiasaan sebelum memberangkatkan pasukan, beliau mengangkat seorang panglima perang dan memberi mereka sejumlah instruksi.

اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَمْثُلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا، وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ – أَوْ خِلَالٍ – فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ، فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ، وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ، فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ، يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، وَلَا يَكُونُ لَهُمْ فِي الْغَنِيمَةِ وَالْفَيْءِ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ، فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ، وَكُفَّ عَنْهُمْ، فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ، وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ ذِمَّةَ اللهِ، وَذِمَّةَ نَبِيِّهِ، فَلَا تَجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّةَ اللهِ، وَلَا ذِمَّةَ نَبِيِّهِ، وَلَكِنِ اجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّتَكَ وَذِمَّةَ أَصْحَابِكَ، فَإِنَّكُمْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَمَكُمْ وَذِمَمَ أَصْحَابِكُمْ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَّةَ اللهِ وَذِمَّةَ رَسُولِهِ، وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللهِ، فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللهِ، وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللهِ فِيهِمْ أَمْ لَا

Baca Juga :  Baju Baru di Hari Raya, Haruskah?

”Berperanglah atas nama Allah! di jalan Allah! Perangilah orang yang kufur kepada Allah! Berperanglah dan jangan curang, jangan berkhianat, jangan berlaku kejam (dengan memotong hidung dan telinga), dan jangan membunuh anak-anak! Apabila kamu bertemu dengan kaum musyrikin yang menjadi musuhmu, maka tawarkanlah kepada mereka tiga pilihan, yang mana salah satu diantara tiga tersebut yang mereka pilih, maka terimalah dan janganlah mereka diserang, lalu ajaklah mereka masuk Islam. Apabila mereka menerima ajakanmu, maka terimalah dan janganlah mereka diserang. Kemudian ajaklah mereka untuk berpindah dari perkampungan mereka menuju perkampungan orang Muhajirin. Jika mereka mau pindah, beritahukan kepada mereka bahwa mereka mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti orang-orang Muhajirin. Jika mereka tidak mau pindah dari rumah mereka, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka diperlakukan seperti kaum muslimin yang ada di pedalaman dengan diberlakukan hukum Allah atas mereka seperti yang berlaku atas orang-orang mukmin lain tanpa mendapat bagian dari ghanimah dan fa’i, kecuali jika mereka turut berjihad bersama kaum muslimin. Jika mereka tidak mau masuk Islam, maka suruhlah mereka membayar jizyah. Jika mereka bersedia, maka terimalah dan janganlah mereka diperangi. Apabila mereka menolak, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka! Apabila kamu mengepung benteng musuh lalu mereka menginginkan agar engkau berikan kepada mereka perlindungan dan jaminan Allah serta Nabi-Nya, maka janganlah engkau berikan kepadanya perlindungan Allah serta Nabi-Nya. Tetapi, berilah mereka perlindungan dan jaminan dari kamu sendiri dan pasukanmu. Karena jika kamu berikan perlindungan dan jaminanmu beserta pasukanmu, maka itu lebih ringan resikonya daripada engkau berikan perlindungan dan jaminan Allah serta Nabi-Nya. Apabila kamu mengepung benteng musuh lalu mereka ingin agar engkau memberlakukan kepada mereka hukum Allah, maka janganlah engkau berlakukan hukum Allah kepada mereka. Tetapi, berlakukanlah kepada mereka hukum dari kamu sendiri; karena kamu tidak tahu apakah kamu benar-benar telah memberlakukan hukum Allah kepada mereka atau belum.” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Kisah Aisyah yang Pernah Bertengkar dengan Rasulullah

Dalam teks hadis ini, Rasulullah Saw. melarang sahabat Sa’d bin Mu’adz dengan kata-kata beliau, “Janganlah engkau berlakukan hukum Allah kepada mereka.” Lebih jauh, Rasulullah SAW memerintahkan agar diterapkan hukum Sa’d bin Mu’adz. Rasulullah Saw. mengatakan, “Berlakukanlah kepada mereka hukum dari kamu sendiri.”

Jika diamati, pernyataan Rasulullah Saw. di atas terkait dengan situasi saat itu ketika pasukan Muslimin telah berhasil mengepung musuh. Rasulullah Saw. memberi tuntunan agar panglimanya berhati-hati dalam bernegosiasi dengan musuh. Karena bisa jadi, hal itu adalah siasat musuh untuk mengelabui. Rasulullah Saw. mengatakan, “Mereka ingin agar engkau memberlakukan kepada mereka hukum Allah.” Dalam situasi semacam itu, sangat rawan jika kemudian musuh berhasil memperdayai sehingga berbalik mengalahkan pasukan Nabi.

Alasan lain, dan ini yang paling kuat, adalah karena untuk menemukan hukum Allah dalam situasi sulit semacam itu memerlukan proses yang panjang, sedangkan kondisi dalam keadaan mendesak. Seseorang yang terburu-buru dalam memutuskan sesuatu lalu mengklaim keputusannya sebagai hukum Allah adalah bentuk kebohongan. Karena itu, Rasulullah Saw. memberikan tuntunan agar keputusan yang dikeluarkan disebut sebagai keputusan pribadi. Rasulullah Saw. mengatakan, “Karena kamu tidak tahu apakah kamu telah benar dalam memberlakukan hukum Allah kepada mereka atau belum.”

Larangan Nabi dalam kasus ini digolongan sebagai larangan yang tidak sampai mengharamkan dan bertujuan agar pengambil keputusan bersikap hati-hati (nahyu al-tanzih wa Ihtiyath). Hal ini sebagaimana disebutkan Al-Nawawi (w. 676 H.), Al-Thaibi (w. 743 H.) dan Mulla Ali Al-Qari (w. 1014 H.). Ibnu Batthal (w. 449 H.) menyatakan ketika seorang pemimpin beragama kuat, dia boleh membuat keputusan berdasarkan kepada kemaslahatan selama keputusannya tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan rasul-Nya.

Baca Juga :  Sikap Rasulullah dengan Pemuda yang Bercumbu dengan Perempuan yang Tak Halal Baginya

Sampai di sini, memberikan otoritas menentukan hukum kepada manusia bukan bentuk kekafiran. Lebih-lebih ketika otoritas tersebut adalah orang yang punya pengetahuan yang mendalam terhadap agama. Sekalipun tidak menerapkan hukum Allah, tidak serta merta dapat dinilai sebagai kekafiran. Karena jika dipaksakan orang yang tidak menegakkan hukum Allah sebagai kafir, lalu bagaimana dengan Rasulullah Saw. yang memerintahkan Sa’d bin Mu’adz membuat keputusannya sendiri dan menyebutnya sebagai “hukum dari kamu sendiri”.

Mustahil dengan begitu kita menganggap Rasulullah Saw. telah melanggar hukum Allah? Tidak mungkin juga beliau dianggap telah kafir karena memerintahkan menerapkan hukum buatan manusia, sebagaimana kalau dipahami secara tekstual dari QS. Almaidah: 44.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here