Ketika Pikiran “Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah” Dikritik Ulama

0
23

BincangSyariah.Com – Kita tahu di kalangan Islam belakangan ini ada suara-suara untuk menyatakan “marilah kita kembali merujuk Al-Quran dan Sunnah” atau “kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”, dan ungkapan-ungkapan yang serupa. Niatnya mungkin berangkat dari kesimpulannya kalau masyarakat saat ini sudah jauh sekali dari Al-Quran dan Sunnah. Namun, kesimpulan ini, sebagian ada yang kebablasan sampai berpikir bisa “memahami sendiri” Al-Quran dan Sunnah karena berkesimpulan kalau semua umat Islam saat ini dan di masa lalu sudah terlalu jauh dari agama, dan mereka – meskipun saya berat mengatakan ini – sudah sesat.

Fenomena ini sebenarnya adalah diantara fenomena yang muncul di akhir abad ke-19, awal abad ke-20 dan masih sebagian kecil berlanjut sampai sekarang. Pandangan tersebut melahirkan misalnya, gerakan Wahabi di Arab Saudi dengan kampanyenya kembali kepada Al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman para salaf as-shalih namun menegasikan pandangan ulama dengan berbagai mazhab yang sebenarnya masih tergolong sebagai Ahl as-Sunnah juga. Ada lagi Abu Al-A’la al-Mawdudi dan Sayyid Qutub, yang menafsirkan ayat-ayat Hakimiyah dengan kesimpulan bahwa masyarakat muslim saat itu sudah tidak melaksanakan hukum Islam dan menjalankan apa yang sering disebut sebagai sistem Jahiliyah. Pandangan Sayyid Qutub ini kemudian menjadi bibit gerakan terorisme di berbagai tempat seperti ISIS dan Al-Qaeda.

Sayyid ‘Abd ar-Rahman al-Ba’alawi dalam karyanya Bughyatu al-Mustarsyidin, juga mengomentari fenomena thalib al-‘ilm yang akhirnya kebablasan itu. Beliau menggambarkan bagaimana seorang pencari ilmu setelah banyak menelaah kitab-kitab baik tafsir, hadis, dan fikih. Tentu ia adalah orang yang cerdas karena bisa membaca begitu banyak buku. Namun, ia lalu berkesimpulan dari penelaahannya itu kalau semua umat Islam saat ini sudah sesat, menyesatkan, dan jauh dari sumber utama ajaran agama yaitu Allah dan Rasul-Nya. Ia pun menolak merujuk lagi pada kitab-kitab para ulama, merasa tidak perlu untuk mengikuti satu mazhab, bahkan mendaku bisa berijtihad secara mandiri. Ia pun mendakwakan bahwa umat Islam yang ia dakwahi berkewajiban mengikuti apa yang ia sebut sebagai ijtihadnya. Sayyid ‘Abd ar-Rahman kemudian memberikan jawaban dalam Bughyatu al-Mustarsyidin (h. 11) berikut,

Baca Juga :  Apakah Kulit Telur Hewan Najis?

فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد

“maka orang yang disebut tadi yang mendaku sedang berijtihad (mandiri/al-mustaqill), ia harus kembali kepada yang benar dan meninggalkan semua klaim-klaimnya yang keliru itu. Kalau ia mencampakkan semua kitab ulama, maka tidak habis pikir dia mau merujuk kemana? Ia tidak bertemu dengan Nabi Saw., juga tidak seorangpun dari kalangan sahabat Nabi. Kalaupun ia bisa berkata memiliki ilmu, maka jelas itu ilmu yang bersumber dari ulama. Dan saat ia berada dalam kesesatan, kemana ia bisa mendapatkan petunjuk (kalau tidak ke karya-karya ulama? Maka coba ia jelaskan kepada kami, semua kitab-kitab ulama di empat mazhab – semoga Allah senantiasa meridhoi mereka dan yang mengikutinya, hampir seluruh sumbernya dari Al-Quran dan Sunnah. Maka bagaimana bisa ia merujuk kepada selain kitab-kitab tersebut? Dan mendaku berijtihad (mandiri) hari ini bukankah ia sudah benar-benar jauh dari kebenaran itu sendiri? Ibn Hajar al-Haitami dan Ar-Ramli, dan Ar-Razi juga sudah mengatakan begini: “orang-orang hari ini seolah seluruhnya sudah sepakat kalau sudah tidak ada mujtahid mutlak.” Ibn Hajar menukil pandangan para ahli ushul fikih: “tidak ada setelah masa Imam As-Syafi’i mujtahid mustaqill/mandiri.” Dan Imam As-Suyuthi, betapapun dengan keluasan ilmunya dan kepakarannya di berbagai bidang belum ada yang menyaingi, ia tetap mengklaim sebagai mujtahid muntasib (merujuk kepada satu mazhab), padahal karangannya sudah mencapai lebih dari 500 buku. Maka adapun orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya mujtahid, maka itu tidak benar, walaupun ia sampai memastikan kalau ia sudah sampai pada level mujtahid mustaqill layaknya ulama mujtahid terdahulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here