Ketika Nabi Muhammad Menolak Penyogokan

0
88

BincangSyariah.Com – Persoalan korupsi masih melingkupi negara Indonesia. Negara Indonesia beserta masyarakatnya masih harus berusaha keras untuk menghilangkan perilaku buruk yang ini, yang tidak menghasilkan apa-apa selain kerugian. Baik berupa kerugian finansial, jelas, tapi lebih dari itu adalah kerugian psikologis dan sumber daya manusia. Nabi Saw. pernah menyampaikan sabda soal perilaku korupsi dimasanya. Di masa Nabi Saw., istilah yang digunakan adalah risywah. Istilah ini diantaranya bersumber dari hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud,

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

“Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash semoga Allah senantiasa meridhainya, ia berkata: Rasulullah Saw. melaknat penyogok dan penerima sogokan” 

Menurut para ulama, yang masuk kedalam kategori risywah (sogokan) ini adalah orang yang memberikan sejumlah uang kepada orang lain agar ia mendapatkan sesuatu, meskipun ia tidak berhak.

Terkait soal risywah, Imam al-Nawawi dalam kitab al-Adzkar punya ulasan menarik soal disunnahkan-nya menolak pemberian yang mengarah kepada risywah atau pemberian apa saja yang belum jelas hukumnya. Beliau mengutip riwayat Ibn ‘Abbas yang terdapat pada Shahih Muslim, bahwasanya seorang sahabat bernama Sha’b bin Jattsaamah Ra. pernah mencoba menghadiahkan sesuatu kepada Nabi Saw. berupa hewan Himar dan waktu itu, Rasulullah Saw. sedang melaksanakan haji. Rasulullah Saw. lalu menolaknya dengan mengatakan,

لولا أنا محرمون لقبلناه منك

“kalau bukan karena kita sedang melaksanakan ibadah haji, kami akan terima pemberianmu”

Hadis ini oleh Imam al-Nawawi diberikan judul “kesunahan orang yang diberikan hadiah untuk menolak karena alasan syar’i karena ia seorang Qadhi, atau Pemimpin, atau Ada Pengelabuan tujuan dari pemberian itu”. Para ulama bersepakat bahwa orang yang sedang melaksanakan ihram (haji atau umrah) dilarang untuk memakan makanan buruan. Ini terkait dengan larangan untuk berburu dan menghilangkan nyawa makhluk selama dalam keadaan ihram. Karena itu, menerima hewan hasil buruan saat dalam keadaan ihram menjadi haram.

Baca Juga :  Fiqh al-Aqalliyyat: Kontekstual Fikih di Abad Modern

Dalam konteks kesunahan menolak pemberian yang mengandung syubhat (ketidakjelasan), ini sama dengan kesunahan untuk menolak pemberian dari seseorang ketika kita sedang menduduki jabatan tertentu. Karena, itu menyebabkan kita tidak berlaku adil dan ada sikap keberpihakan pada yang memberi hadiah/harta. Wallahu A’lam 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here