Ketika Allah Menjaga Manusia dari Sombong dan Syirik

0
512

BincangSyariah.Com – Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Segala sesuatu pun yang ada di bumi hanyalah titipan, adapun sang pemiliknya adalah Allah. Oleh karena itu tidak sepantasnya kita sebagai hamba bersikap sombong. Karena yang sepatutnya sombong itu adalah punya sang pemilik, bukan seseorang yang diberikan titipan. Tak salah jika manusia dilarang untuk sombong atau membanggakan dirinya, dalam situasi apapun.

Begitupun dengan syitik, unsur luar yang menyusup pada fitrah manusia yang bertauhid kepada Allah. Syirik ini tidak sekedar menyembah Tuhan selain Allah, melain perbuatan syirik lainnya yang masuk dalam kategori syikir ashghar (kecil). Appaun perbuatan yang masuk dalam syirik tentu merupakan perbautan yang merusak rububiyah dan  kelak tidak ada harapan untuk mendapatkan ampunan-Nya.

Dua hal di atas, kesombongan dan kemusyrikan adalah dua hal yang memiliki efek negatif bagi manusia, dan karena itulah Allah melarang keras atas perbuatan dua tersebut. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjauhi keduanya dan terus berdoa untuk diberikan kemampuan dalam menjauhi keduanya.

Usaha dan doa yang terus dijalankan agar tidak berdekatan dengan sombong dan syirik akan berbuah indah pada waktunya, sehingga di waktu yang tepat Allah akan hadirkan ikhlas dalam hati. Sebab bentuk penjagaan Allah untuk manusia yang terhindar dari sombong dan syirik adalah hadirnya ikhlas. Sebagaimana kutipan Fudhail bin Iyadl yang tertulis dalam kitab al Adzkar Imam Nawawi :

ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما

Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, dan Allah memelihara kamu dari keduanya, itulah namanya ikhlas

Sebuah penjelasan yang semakin menjelaskan bahwa orang yang bebas dari sombong dan syirik itu senantiasa bersih dari amalan yang ingin mencari perhatian manusia. Sebab seluruh perkataan, perbuatan, dan kebaikannya hanya untuk Allah dan mengharap ridha-Nya.

Baca Juga :  Telaah Hadis Wanita Dilarang Menjadi Pemimpin [2]

Yang demikian disebut oleh Sahl bin Abdullah at Tusturi sebagai amalan yang berat, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat dna bagian lainnya. Tidak heran Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi perumpamaan bahwasanya, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”

Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak mungkin ikhlas itu hadir dalam hati kita. yang perlu diingat adalah ikhlas merupakan penjagaan Allah ketika manusia telah bebas dari sombong dan syirik.

Dengan demikian langkah pertama untuk menciptakan ikhlas dalam hati adalah kita berusaha semaksimal mungkin agar diri ini tidak membawa kesombongan dan kesyirikan dalam jiwa. Sebab jika masih tersebit sombong dan syirik, maka ikhlas enggan menetap. Sebab salah satu cara agar kita dapat mencapai rasa ikhlas adalah dengan mengosongkan pikiran disaat kita sedang beribadah kepada Allah.

Kita hanya memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah, dan semuanya hanya tertuju hanya pada Allah. Adapun sombong dan syirik itu masih menyisakan ruang untuk selain-Nya.

Dengan demikian, ketika Allah menjaga manusia dari sombong dan syirik, maka yang ada adalah sebuah keikhlasan yang datang mewarnai. Yang mana ikhlas ini tidak akan muncul kala sombong dan syirik masih tertanam dalam jiwa setiap insan yang bernyawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here