Ketidakadilan Seorang Hamba pada Tuhannya

0
1285

BincangSyariah.Com – Pernah merasakan ketidakadilan Tuahn lantaran doa-doa yang dipajatkan tidak terjawab? Atau merasa Tuhan sedang tidak adil hanya karena kita tercipta sebagai hamba yang paling miskin? Mungkin jawaban dari dua pertanyaan akan terjawab ketika ia bisa merasakan hikmahnya. Sebab dalam hal yang buruk pun, Tuhan menciptakan hikmah kebaikan. Namun jika ditanya, “Pernahkah Tuhan merasakan ketidakadilan?” maka keterangan dari  kitab Risalah Qusyairiyah bisa menjawabnya.

ما أنصفني عبدي يدعوني فأستحيى أن أرده ويعصيني فلا يستحيى مني

 “Hamba-Ku tidak bersikap adil kepada-Ku. Saat ia berdoa memohon sesuatu kepda-Ku, Aku malu untuk menolaknya. Namun ketika ia bermaksiat kepada-Ku, ia tidak malu kepada-Ku”

Keterangan dari karya  Syekh Imam Abdul Karim al Qusyairi di atas mengingatkan bahwa kita sebagai hamba Allah tidak pernah memperhatikan etika atau adab yang baik kepada Tuhan. Sebab jika kita terus menyertai etika atau adab yang baik kepada Allah, mana mungkin kita berani melakukan perihal  yang dilarang dan maksiat? “Jangankan melakukan, mendekati saja tidak berani”, begitulah kira-kira gambaran seseorang yang masih menjaga etika atau adab yang baik kepada-Nya.

Tuhan adalah sumber pertolongan bagi kita, tak heran jika kita meminta apapun ketika butuh kepada-Nya. Dan Ia pun merasakan malu ketika tidak bisa menjawab permintaan tersebut. Lantas adilkah jika kita tidak merasakan malu yang sama ketika hendak melakukan hal yang dilarang atau bermaksiat kepada-Nya? Seharusnya rasa malu itu bisa hadir dalam setiap jiwa, sehingga jiwa-jiwa tersebut aman dari berbagai hukuman dari-Nya. Begitulah yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya ad Daa’ wa ad Dawa:

من استحيا من الله عند معصيته استحيا الله من عقوبته يوم يلقاه، ومن لم يستح من معصيته لم يستح من عقوبته

Baca Juga :  Resapilah Syiir Tanpo Waton dan Terjemahannya Ini

Barangsiapa yang merasa malu dikala ia hendak melakukan maksiat, Allah pun malu untuk menimpakan hukuman kepadanya pada hari dia bertemu denganNya. Sebaliknya, siapa saja yang tidak merasa malu untuk bermaksiat kepadaNya, Allah juga tidak akan malu untuk menghukumnya.”

Menghadirkan rasa malu saat hendak melakukan perbuatan yang dilarang atau maksiat adalah bukan yang hal merugikan. Justru hal tersebut memerdekakan kita dari berbagai hukuman yang hadir kelak. Oleh karena itu, rasa malu yang terselip saat hendak bermaksiat itu perlu dilatih. Sehingga waktu ke waktu kita terbiasa malu untuk melakukan itu dan berakhir dengan enggan untuk melakukannya. Sehingga akhirnya kita terbiasa jauh dari segenap perbuatan yang dilarang oleh-Nya. Jika tidak demikain, maka Allah pun tak segan untuk menimpakan berbagai hukuman.

Alhasil, perlu kiranya kita merawat rasa malu ketika melakukan hal-hal yang Allah tidak suka. Sebagaimana Allah malu ketika hendak tidak menjawab setiap permintaan hamba-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here