Ketentuan Lembaga Asuransi, Nasabah dan Objek Asuransi dalam Hukum Islam

0
59

BincangSyariah.Com – Sikap berani pasang badan terhadap pihak bermasalah dalam kajian fikih sering dikenal sebagai objek kajian kafalah. Sikap ini bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) dengan badan si penanggung itu sendiri (kafalah bi al-nafsi), dan 2) dengan harta yang dimiliki pihak penanggung (kafalah bi al-mal). (Baca: Mengapa Perlu Ada Asuransi? Ini Pandangan Hukum Islam)

Dari kedua sikap tersebut, adakalanya keberanian pasang badan itu dilakukan 1) secara mutlak (total, tanpa tendensi atau pretensi apapun), yaitu pokok segala masalah siap ditanggung beres oleh kafil (penanggung) tanpa adanya batasan waktu, situasi dan kondisi, namun adakalanya juga keberanian itu 2) bersifat terbatas pada hal tertentu saja (muqayyad) sehingga dibatasi karakter, situasi, kondisi atau bahkan waktu. Misalnya, jika pihak yang ditanggung tidak dengan sengaja memperberat masalah atau melakukan kesalahan fatal, maka diri kafil siap bertanggung  jawab atas beban yang disandangnya.

Nah, adanya sifat batasan seperti ini dikenal sebagai kafalah muqayyadah. Alhasil, pelaksanaannya berbeda dengan kafalah muthlaqah. Jika pelaksanaannya berbeda, resiko yang ditanggung oleh Si Kafil pun berbeda.

Pada kafalah muthlaqah, berlaku ketentuan bahwa bila terjadi mangkirnya pihak yang dijamin (ashil), maka pihak Si Kafil harus siap menggantikan posisi ashil. Bila yang dijamin adalah berupa utang, maka ia harus sanggup menanggung segala kewajiban ashil terhadap pihak yang memberi utangan. Jika utang itu berkaitan dengan jual beli, maka ia yang berlaku sebagai pihak penanggung jawab terhadap apa yang sudah dibeli oleh ashil.

Sementara itu pada kafalah muqayyadah, pihak Kafil, hanya dikenai tanggung jawab terhadap ashil, bilamana terpenuhi apa yang disyaratkan oleh kafil terhadap ashil.

Suatu misal terhadap utang usaha ashil yang dijamin oleh kafil muqayyadah, seorang kafil mengatakan pihak pemberi modal : “Pinjami Fulan modal sesuai dengan yang diperlukan! Bilamana terjadi kerugian pada usahanya, disebabkan karena ia baru belajar usaha,  maka utangnya terhadapmu aku yang akan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Peran Penting “Nama” dalam Ekonomi Syariah

Kemudian kafil mengatakan kepada Fulan (ashil): “Aku sanggup menjadi penjamin utang usahamu, tapi dengan syarat bahwa kamu benar-benar menggunakannya untuk usaha. Jika kamu tidak menggunakannya untuk modal, melainkan untuk tujuan di luar usaha, maka aku tidak mau bertanggung jawab. Kamu harus menanggungnya sendiri.”

Dan ternyata di kemudian hari, Si Fulan benar-benar rugi dalam usahanya sehingga tidak mampu mengembalikan utangnya, maka pihak Si Kafil wajib menanggung seluruh utang dari ashil disebabkan terpenuhinya syarat. Jadi, utang ashil, beralih menjadi utangnya kafil terhadap pihak pemberi modal.

Itulah sekilas perbedaan resiko yang terjadi pada Kafil ketika mengambil akad kafalah muqayyadah dan muthlaqah.

Adakalanya pula bahwa keberanian sikap pasang badan itu juga berlaku: 1) dengan digantungkan pada syarat tertentu (mu’allaq), atau 2) hanya dengan sebatas penyandaran saja (mudlaf).

Suatu misal seorang kafil mengatakan: “Kalau ada ketidakberesan dengan utangnya Si Fulan, maka saya siap menegur dan menyuruhnya agar segera melunasinya.” Artinya, Si Kafil dalam kondisi ini tidak berlaku sebagai yang menanggung utangnya pihak yang bermasalah dengan harta yang dimiliki kafil, melainkan ia berlaku sebagai penanggung jawab penyelesai permasalahan dengan jalan sebagai fasilitator antara pihak yang berutang (da-in) dengan yang mengutangi (mudin).

Sikap pasang badan (kafalah) semacam ini dikenal sebagai kafalah muqayyadah mudlafah, yaitu pasang badan terbatas pada sebagai sandaran.

Lain halnya, bila seorang kafil mengatakan: “Kalau ada ketidakberesan dengan utangnya Si Fulan disebabkan bangkrut usahanya karena sifatnya yang masih baru belajar, maka aku yang menjadi penanggung jawabnya.

Akad pasang badan terakhir ini, dikenal sebagai akad kafalah muqayyadah mu’allaqah. Asal terpenuhi syarat yang dimaksudkan oleh Kafil, maka tanggung jawab ashil dapat berpindah ke Kafil disebabkan unsur penggantungan kriteria tersebut.

Baca Juga :  KH. Ma’ruf Amin: Kyai Penggerak Ekonomi Syariah

Lantas, tanggung jawab apa saja yang bisa berpindah dari ashil kepada kafil ini?

Karena menyangkut tanggung jawab selaku pihak penjamin (kafil) terhadap pihak yang dijamin (ashil), dan tanggung jawab itu berkaitan dengan “masalah/problem” yang mungkin akan dihadapi oleh ashil di kemudian hari, maka peran seorang kafil di sini dapat juga disematkan sebagai penolong dalam penyelesaian masalah (problem solver).

Selaku problem solver dari orang yang memiliki tanggung jawab asli terhadap masalah, maka sudah pasti kriteria yang harus dimiliki oleh pihak problem solver (kafil) ini, terdiri dari: 1) pihak yang berakal (‘aqil), 2) baligh, dan 3) ahli penolong (ahli tabarru’) serta 4) merdeka.

Tanpa keberadaan ini, maka pernyataan kafil sebagai yang siap pasang badan baik secara jiwa maupun harta, adalah tidak bisa diterima sehingga akad kafalah-nya menjadi batal dan tanggung jawab penyelesaian masalah kembali pada ashil.

Jika syarat ini kita qiyas-kan atas suatu lembaga asuransi, maka kriteria lembaga itu agar bisa dijadikan sebagai kafil / problem solver atas masalahnya nasabah kelak di kemudian hari, adalah mencakup hal-hal, seperti: 1) kebijakannya dikelola dengan konsep yang masuk akal, 2) profesional dan berpengalaman (mewakili baligh), 3) merupakan lembaga non-profit (tidak berorientasi pada keuntungan), dan 4) ahli dalam mengelola dana (qiyas terhadap watak manusia merdeka (hurriyah) yang dicitrakan dalam fikih sebagai ahli tasaruf harta).

Sementara itu hal yang berlaku atas pihak yang siap dipasangbadani (ashil / makful ‘anhu), adalah wajib terdiri atas:

  1. Mampu menyebutkan, menjelaskan dan menyerahkan objek pertanggung jawabannya (mengajukan claim) kepada pihak yang dimintai bantuan penyelesaian masalah, baik secara sendiri, atau melalui wakil.
  2. Nasabah itu dikenal oleh kafil. Sifat terkenalnya kafil jika dibawa ke konteks lembaga asuransi ini, diwakili oleh sifat terdaftarnya ia di jasa asuransi. Ketiadaan dirinya terdaftar di lembaga asuransi, menjadikan tidak terpenuhinya syarat selaku pihak yang wajib ditanggung oleh jasa asuransi (kafil).
Baca Juga :  Membunyikan Jari Tangan Ketika Sedang Shalat, Apakah Shalat Batal?

Di sisi lain, hal-hal yang menjadi objek permasalahan (makful lah) yang bisa diambil alih penyelesaiannya oleh kafil (asuransi) juga wajib berlaku wajibnya beberapa ketentuan, antara lain:

  1. Terdiri atas utang (dain). Para ulama berselisih pendapat mengenai waktu utang ini. Beberapa ulama menyebut bahwa utang itu harus terdiri dari utang yang telah lewat. Sementara ulama’ dari kalangan hanafiyah menyebut bolehnya utang di masa yang akan datang (mustaqbal).
  2. Terdiri atas ‘ain. Pengertian ‘ain ini, menurut Syeikh Wahbah Al-Zuhaily dimaknai sebagai suatu amanah yang wajib menjadi tanggungan ashil/ nasabah (al-a’yan al-madlmunah). Misalnya, barang titipan yang wajib disampaikan, pembelian yang belum terselesaikan, sewaan yang belum dibayar atau gadai yang belum ditebus. Untuk ‘ain yang tidak bersifat menjadi kewajiban ashil, maka bukan termasuk tanggung jawab kafil.
  3. Terdiri atas pekerjaan (fi’il). Objek pertanggungan yang terdiri atas pekerjaan ini juga dikaitkan dengan pekerjaan yang sifatnya wajib bagi ashil melakukan dan menyelesaikannya, meskipun pekerjaan itu bukan merupakan dain (utang), nafsin (jiwa) atau ain. Misalnya, penyerahan harga suatu barang yang dibeli ashil, penyerahan barang yang dijual, penyerahan barang gadai milik orang lain, dan lain-lain. Jika pekerjaan itu, bukan merupakan kewajiban bagi ashil, seperti halnya rutinitas harian, kerja kantor, dan lain-lain, maka pekerjaan itu berada di luar tanggung jawab kafil.
  4. Terdiri atas nafs (individu). Contoh dari objek jiwa ini misalnya adalah penyerahan diri. Para ulama’ dari kalangan Syafi’iyah, umumnya mengelompokkan kafalah bi al-nafsi ini sebagai kafalah bi al-fi’li. Karena tidak ada penyerahan diri tanpa perbuatan (fi’li).

Wallahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here