Ketakwaan yang Sempurna adalah Istiqamah

0
1163

BincangSyariah.Com – Ada banyak pengajaran-pengajaran syariat baik terdapat dalam Alquran dan hadis yang dapat menjadi sarana kita untuk menjadi orang-orang yang bertakwa. Selain yang wajib, ada banyak sekali selama seharian kesunahan yang bisa kita lakukan. Mulai dari zikir, shalat dhuha, shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat fardhu, membaca Alquran, tahajud dan witir di akhir malam, dan masih banyak lagi. Tapi, ada kalanya dan kebanyakan kita sebenarnya masih memiliki keterbatasan untuk melakukan semuanya sekaligus. Meskipun, semuanya baik sebagai wasilah seorang hamba menjadi orang yang bertakwa.

Ada nasihat yang sangat bagus sekali dari Imam Abu al-‘Abbas Ahmad Zarrūq al-Fāsi, ulama besar Mesir abad ke-8 H asal kota Fez (sekarang masuk wilayah Maroko). Beliau menuliskan nasihat itu dalam karyanya Qawā’id al-Taṣawwuf wa Shawāhid al-Ta’arruf. Karya yang berisi sekian kaidah-kaidah untuk memahami tasawuf dan bagaimana kita mengenal Allah. Dalam nasihatya, ia mengatakan bahwa bentuk ketakwaan yang sempurna, paripurna, adalah konsistensi (istiqamah). Berikut ini pernyataannya,

من كمال التقوى وجود الإستقامة. وهي حمل النفس على أخلاق القرآن والسنة، كقوله تعالى:  خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)، وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا (الفرقان: ٦٣)، ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (فصلت: ٣٤)،إلى غير ذلك.

Diantara bentuk kesempurnaan takwa adalah terwujudnya istiqamah. Istiqamah itu memposisikan jiwa sesuai dengan akhlak Alquran dan Sunnah. Dasarnya (diantaranya) adalah firman Allah: “maafkanlah, perintahkanlah kepada kebaikan, dan berpalingnya dari orang-orang yang tidak tahu” (al-A’rāf [7]: 199); “dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih, yang berjalan di muka bumi dengan rendah (hati)” (al-Furqan [26]: 63); tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik” (Fusshilat [41]: 34), dan ayat-ayat lainnya (Qawa’id al-Tashawwuf: h. 113)

Baca Juga :  Ramadan dan Keistiqamahan Nabi dalam Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Lebih lanjut, menurut Imam al-Zarruq (beliau dinamai al-Zarruq karena diriwayatkan kalau bola matanya berwarna biru (al-Azraq)), disinilah pentingnya kita memiliki guru/mursyid yang bisa memberikan nasihat kepada kita agar memilih wasilah-wasilah ketakwaan yang paling sesuai dengan kita. Karena boleh jadi, suatu wasilah menuju ketakwaan itu baik dilakukan oleh orang lain namun justru menjadi tidak maslahat kepada diri kita.

Model nasihat guru yang merekomendasikan kebaikan yang paling cocok buat kondisi kita, ada contohnya dari Nabi Saw. sendiri. Karena, para sahabat Nabi Saw. diberikan nasihat bentuk beribadah sunnah untuk menambah ketakwaan (selain yang wajib) juga berbeda-beda. Tentu ini tidak menegasikan bahwa ibadah-ibadah yang tidak dinasihatkan itu tidak baik. Berikut ini beberapa contohnya,

  • Abdullah bin ‘Umar Ra. dilarang oleh Nabi Saw. untuk puasa terus menerus, tapi Nabi membolehkannya untuk Hamzah bin ‘Amr al-Aslami. Diriwayatkan, Hamzah sudah sekian lama terbiasa puasa.
  • Abu Hurairah Ra. dinasihati untuk tidak tidur kecuali hanya pada waktu witir (sepertiga malam) saja
  • Abu Bakar As-Shiddiq diminta untuk membesarkan suaranya saat shalat, dan ‘Umar bin Khattab Ra. justru diminta mengecilkan suaranya.
  • Nabi Saw. mengontrol shalat malam ‘Ali dan Fatimah Az-Zahra
  • Nabi Saw. mengajarkan Mu’adz bin Jabal namun menyuruhnya untuk merahasiakannya dari yang lain amalan ini, “siapa yang membaca Laa Ilaaha Illa Allah, surga berhak baginya”. Ketika Umar mendengar Mu’adz menyampaikan ini ke orang lain, Umar “protes” kepada Nabi Saw. dengan mengatakan amalan itu bisa membuat masyarakat malas berbuat baik lainnya. AKhirnya, Nabi meminta Mu’adz tidak membicarakan hal itu.

 

Contoh-contoh diatas menunjukkan Nabi Saw. justru menekankan agar para Sahabat (dan umatnya) untuk tidak banyak-banyak mencari wasilah menuju ketakwaan, tapi tidak ada yang diamalkan secara istiqamah. Wallahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here