Kesultanan Mataram: Kesultanan yang Terbelah Menjadi Empat

0
2242

BincangSyariah.Com – Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam yang berdiri pada tahun 1582. Kerajaan ini berumur panjang hingga kini menyisakan Kesultanan serta Kepakualaman di Yogyakarta dan Kasunanan serta Mangkunegaran di Surakarta. Kesultanan Mataram kali pertama didirikan oleh Danang Sutawajiya yang dijuluki Panembahan Senopati. Ia mendirikan kesultanan setelah berhasil menaklukan Pajang. Senopati sendiri merupakan anak angkat Joko Tingkir dan kemudian menjadi menantunya. Ia menunggu Joko Tingkir wafat tahun 1587 lalu menguasai Pajang.

Senopati sendiri mendirikan Kesultanan dengan pusat pemerintahannya di Kotagede, wilayah yang terletak di timur kota Yogyakarta. Senopati melakukan perluasan wilayah ke Madiun, Surabaya, Kedu, dan Bagelen. Setelah menaklukan Kediri, tak lama kemudian Senopati wafat pada tahun 1601.

Kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang yang kelak bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati. Ia memimpin hingga wafatnya pada tahun 1613 yang kemudian lebih dikenal dengan Panembahan Krapyak. Hal tersebut karena ia wafat di tanah Krapyak saat sedang berburu.

Kepemimpinan Sultan Agung

Kemudian kepemimpinannya digantikan oleh putranya yang keempat, Raden Mas Wuryah. Ternyata kepemimpinannya hanya sebentar, lalu digantikan oleh putra sulungnya Raden Mas Jolang bernama Raden Mas Rangsan yang kelak bergelar Sri Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal dengan Sultan Agung. Pada masa Sultan Agunglah Kerajaan Mataram mencapai kejayaannya.

Wilayah Kesultanan Mataram hampir mencapai seluruh Pulau Jawa saat dipimpin oleh Sultan Agung, kecuali Banten dan Batavia. Ia juga menguasai Madura, Sukadana (Kalimantan), dan Palembang (Sumatera). Ia terus melakukan penaklukan bahkan hingga ke pusat pemerintahan VOC di Batavia. Selain melakukan perluasan wilayah kekuasaan, ia melakukan pembangunan infrastruktur berupa keraton baru di Kartasura yang jaraknya 5 km dari keraton lama di Kotagede. Selain itu, ia juga membangun makam raja Mataram di Imogiri dan mengganti kalender Jawa ke kalender Hijriah.

Baca Juga :  Tips untuk Mendapatkan Percikan Rahmat Allah

Pasca Wafatnya Sultan Agung

Setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1646, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Raden Mas Sayidin yang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hamangkurat I. Ia kemudian lebih dikenal dengan Sunan Hamangkurat I dan tidak menggunakan gelar sultan melainkan sunan. Sunan Hamangkurat I memindahkan pusat pemerintahan ke Plered yang lokasinya tidak jauh dari Kartasura. Pemerintahan pada masa Sunan Hamangkurat I sangat tidak stabil sehingga sering timbul konflik internal dan juga disebabkan terjadinya pemberontakan dari luar. Pada tahun 1667 Kesultanan Mataram yang telah berpusat di Plered diserang oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat I bersekutu dengan VOC. Namun sayangnya nyawanya tak selamat dalam pemberontakan itu, Amangkurat I meninggal. Setelah wafat kepemimpinannya dipegang oleh putranya, Amangkurat II.

Pada masa kepemimpinan Hamangkurat II, ia sangat patuh pada VOC sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan kerajaan. Terjadilah konflik dan pemindahan pusat pemerintahan kembali ke Kartasura pada tahun 1680. Setelah Amangkurat II wafat tahun 1703, putranya yaitu Sunan Amangkurat III naik takhta menggantikan ayahnya. Lalu pangeran Puger yang merupakan putra dari Sunan Amangkurat I atau juga paman dari Sunan Amangkurat III diakui oleh VOC sebagai Sunan Pakubuwono I.

Amangkurat III yang sejak mulai bersekutu dengan Surapati melawan VOC akhirnya malah menyerahkan diri kepada VOC pada gahun 1708. Lalu kepemimpinan diteruskan oleh Amangkurat IV dan Pakubuwono II.  Kemudian pada tahun 1742 cucu dari Hamangkurat III yakni, Sunan Kuning merebut Kartasura.  Tidak lama kemudian Kartasura direbut kembali oleh pasukan Cakraningrat IV, raja Madura yang bekerjasama dengan VOC. Sunan Kuning menyerah lalu kepemimpinan dipegang kembali oleh Pakubuwono II. Setelah itu Paku Buwono  II justru pindah ke istana baru di Plered. Bermula dari sinilah Mataram terpecah menjadi dua yakni Surakarta dan Yogyakarta yang masih ada hingga saat ini.

Baca Juga :  Meninggal karena Wabah Penyakit, Termasuk Mati Syahid? Ini Penjelasannya

Diolah dari Ensiklopedia Islam Populer terbitan PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here