Kesadaran Ekologi dan Upaya Konservasi Kiai-kiai Pesantren di Tengah Kemelut UU Cipta Kerja

0
315

BincangSyariah.Com – Gelombang protes dan demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah di bumi Nusantara kian hari kian memanas di tengah bencana pandemi Covid-19 yang semakin hari semakin memprihatinkan. Protes dan demonstrasi ini merupakan respon dan penolakan sebagian masyarakat Indonesia terhadap keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

Di sisi lain, NU dan Muhammadiyah sebagai dua jangkar Indonesia sama-sama menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) tersebut. Menurut KH. Said Aqil Siroj, UU Ciptaker hanya menguntungkan kelompok tertentu (seperti konglomerat, kapitalis, dan investor) dan menindas kepentingan rakyat kecil, para petani, dan buruh.

Namun demikian, beliau mengajak masyarakat agar merespon UU tersebut dengan kritik dan sikap kritis secara elegan, bukan dengan cara anarkis. Sebab, kekerasan dan sikap anarkis dalam merespon UU itu bukan merupakan cara yang baik dan bahkan tidak ada gunanya (nu.or.id dan dakwahnu.id, akses 10/10/2020).

Apalagi, meminjam istilah Habib ‘Ali al-Jufri, al-khatha’ la yubarriru al-khatha’ wa al-haram la yubarriru al-haram (adanya kesalahan tidak menjadi legitimasi bagi seseorang/institusi untuk melakukan kesalahan lainnya dan adanya perkara haram/pelanggaran tidak menjadi legitimasi bagi seseorang/institusi untuk melakukan perbuatan haram/pelanggaran lainnya).

Oleh karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membersamai para pencari keadilan untuk mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai cara terbaik dan terhormat dalam merespon UU tersebut di tengah pandemi Corona (Lihat “Pernyataan Sikap PBNU Terhadap Pengesahan UU Cipta Kerja”).

Salah satu alasan PBNU menolak pengesahan UU Ciptaker adalah karena mengabaikan perlindungan lingkungan hidup dan konservasi sumber daya alam. Menurut Mahrus Ali (Alumni Pesantren Banyuanyar Pamekasan dan Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia) ketika memberikan komentar di sebuah WhatsApp Group, apabila beberapa pasal dalam draf UU Ciptaker yang beredar sekarang ini masih tetap sama dengan draf final UU Ciptaker nanti, maka UU Ciptaker tersebut tidak pro terhadap konservasi lingkungan. Dia membeberkan beberapa pasal yang dianggap tidak pro lingkungan (seperti Pasal 69, Pasal 70, Pasal 75, Pasal 78A, Pasal 88, Pasal 109, dan Pasal 112). Berdasarkan beberapa pasal ini, Mahrus menjelaskan bahwa hukum pidana baru bisa masuk ketika lingkungan sudah tercemar atau rusak.

Baca Juga :  Menceraikan Istri Karena Tidak Shalat, Apakah Boleh?

Di sisi lain, Fathor (Alumni Pesantren Banyuanyar Pamekasan dan salah satu advokat Indonesia) membagikan pernyataan sikap para advokat Indonesia di WhatsApp Group yang sama. Melalui pernyataan yang bertajuk “Forum Advokat untuk Keadilan” ini, sekitar 3281 advokat menolak disahkannya UU Ciptaker. Salah satu alasannya adalah karena UU itu memberikan kemudahan kepada pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia tanpa memerhatikan keadilan ekologis.

Dalam hal ini, Fathor juga sependapat dengan pernyataan para advokat tersebut. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Roy Murtadho, Koordinator Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Menurutnya, beberapa pasal dalam UU Ciptaker berpotensi menimbulkan konflik agraria dan kerusakan lingkungan (cnnindonesia.com, akses 10/11/2020).

Kesadaran ekologi dan perjuangan terhadap konservasi lingkungan ini sangat penting diperhatikan oleh setiap Muslim, tanpa terkecuali para santri milenial sebagai agent of change dan penerus perjuangan para ulama Nusantara. Sebab, memelihara dan mengelola lingkungan (hifzh al-bi’ah) merupakan salah satu tujuan syariat Islam yang bersifat primer/dharuri (Abdul  Majid an-Najjar, Maqashid asy-Syari‘ah bi Ab‘ad Jadidah, 2008: 207).

Bahkan Syekh Yusuf al-Qaradhawi menyebutkan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan bertalian erat dengan seluruh aspek ajaran Islam, baik dari aspek tauhid, akhlak, tasawuf, fikih, ushul fikih, maqashid syari‘ah, maupun aspek ilmu al-Qur’an dan sunah (Ri‘ayah al-Bi’ah fi Syari‘ah al-Islam, 2001: 20-55).

Hal ini karena lingkungan (baik tanah, air, udara, tumbuhan, binatang, lautan, sungai, pasir, maupun bebatuan) memberikan kemaslahatan dan bahkan sangat membantu bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Sebaliknya, pencemaran dan perusakan terhadap lingkungan secara nyata membahayakan keberlangsungan hidup manusia dan anak-cucunya, baik sekarang maupun masa mendatang.

Menurut Imam al-‘Azizi, kebaikan alam sangat bergantung kepada kebaikan ulama (li anna shalah al-‘alam manuthun bi al-‘alim). Hal ini karena para ulama menyampaikan ajaran-ajaran Islam, seperti larangan (haram) menyiksa binatang (Imam Nawawi al-Jawi, Maraqiyy al-‘Ubudiyyah, hlm. 4).

Makanya, tidak heran apabila ikan-ikan di lautan akan memintakan ampunan kepada Allah untuk seorang Muslim yang mencari ilmu semata-mata karena Allah (Imam al-Gazali, Bidayah al-Hidayah, hlm. 3-4). Sebab, dengan pengetahuan itu dia tidak akan menganiaya binatang, karena sudah tahu bahwa Islam mengharamkan setiap Muslim menyiksa binatang.

Dalam hal ini, tentu makna al-‘alim tersebut bisa diperluas dari sekadar bermakna ulama (seperti kiai, ibu nyai, putra-putri kiai, ustaz, dan ustazah) kepada makna semua orang berilmu yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca Juga :  Hukum Memberikan Zakat pada Non-Muslim yang Miskin

Oleh karena itu, para ulama dan orang-orang berilmu memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan mengelola lingkungan serta memperjuangkan perlidungan lingkungan. Sekali lagi, karena kebaikan lingkungan dan alam sangat bergantung kepada kebaikan dan aksi nyata mereka.

Dengan demikian, apabila para ulama dan orang-orang berilmu tidak memiliki kesadaran lingkungan dan diam seribu bahasa ketika menyaksikan para kapitalis dan pihak-pihak tertentu merusak lingkungan atas nama pembangunan dan perekonomian, maka bukan tidak mungkin kerusakan lingkungan dan alam akan terjadi di mana-mana―yang pada gilirannya akan menenggelamkan dan membinasakan kehidupan umat manusia.

Oleh karena itu, Syekh Yusuf al-Qaradhawi mengkritik sebagian ulama yang hanya asyik menelaah kitab-kitab para ulama dan melupakan realitas hidup yang sedang dihadapi oleh masyarakat Muslim.

Menurutnya, sebagian ulama hanya hidup dalam kitab-kitab dan tidak hidup dalam realitas hidup masyarakat. Sehingga mereka tersembunyi dari fikih realitas (fiqh al-waqi‘); atau fikih realitas telah hilang dari perhatian mereka. Sebab, mereka tidak mau membaca “kitab” kehidupan sebagaimana mereka membaca kitab-kitab para ulama terdahulu (Lihat akun Twitter @alqaradawy, 30/05/2020).

Dalam konteks Indonesia, KH. Zaini Mun‘im (Pendiri Pesantren Nurul Jadid Paiton) menyebutkan bahwa para kiai dan santri memiliki tanggung jawab sosial untuk memperbaiki lingkungan sekitar. Oleh karena itu, beliau kemudian melahirkan gagasan al-wa‘y al-ijtima‘i (kesadaran bermasyarakat) yang tertuang dalam konsep Pancakesadaran Santri, yaitu: kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa-bernegara, dan berorganisasi (Lihat “Muhammad al-Fayyadl: Tanggung Jawab Sosial Kaum Santri”, Republika, edisi 19 Juli 2020: 5).

Menurut Muhammad al-Fayyadl, gagasan KH. Zaini Mun‘im ini menandakan bahwa kalangan pesantren (baik kiai, ibu nyai, putra-putri kiai, ustaz, ustazah, santri, maupun santriwati) harus memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Sebab, mereka merupakan entitas yang tidak terpisah dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, gagasan beliau ini bisa dijadikan salah satu pijakan ideologis (baik oleh kalangan pesantren maupun kalangan Muslim secara umum) untuk memperjuangkan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat yang terpinggirkan dan tertindas (mustadh‘afin), baik petani, buruh, nelayan, maupun lainnya (hlm. 5).

Dalam kesempatan lain, KH. Muhammad Syamsul Arifin (Pengasuh VI Pesantren Banyuanyar Pamekasan) menyebutkan bahwa kasih-sayang Allah kepada seseorang sangat terkait dengan kasih-sayangnya kepada sesama dan alam sekitar. Artinya, apabila dia penuh kasih-sayang kepada sesama dan alam sekitar, maka Allah akan menyayanginya. Hal ini berdasarkan hadis: ar-rahimuna yarhamuhumur rahman, yaitu orang-orang yang penuh kasih-sayang akan disayangi Allah (Achmad Baidowi (ed.), Kalam Hikmah R.K.H. Muhammad Syamsul Arifin, 2019: 81-82).

Baca Juga :  Alasan Abu Bakar Perangi Pemberontak

Menurut beliau, Islam memang menekankan setiap Muslim agar memiliki simpati dan kepedulian terhadap lingkungan dan alam. Sebab, apabila manusia merusak lingkungan dan alam, maka hukuman Allah akan senantiasa menimpa makhluk-makhluk-Nya, baik melalui longsor, banjir, maupun bencana alam lainnya.

Oleh karena itu, Islam sangat menghargai usaha seorang Muslim yang menghidupkan dan mengelola tanah mati sehingga menjadi produktif. Dalam hal ini, KH. Muhammad Syamsul Arifin menegaskan bahwa menghidupkan tanah mati mendapatkan pahala karena bisa bermanfaat kepada orang lain (hlm. 82).

Selain itu, beliau menegaskan tidak ada pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Sebab, keduanya sama-sama berasal dari Allah dan sama-sama penting bagi kehidupan manusia. Ilmu umum dan ilmu agama saling berkaitan dan bahkan keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, ilmu agama masih membutuhkan ilmu umum dan begitu sebaliknya (hlm. 3-4).

Dengan demikian, para santri milenial tidak boleh mencukupkan diri dan merasa puas dengan pengetahuan agama semata, tetapi juga harus mengimbangi dengan membaca pengetahuan-pengetahuan umum (baik mengenai ekologi, sosial-humaniora, politik, ekonomi, hukum, sastra, filsafat, tata negara, sains, media, maupun lainnya). Dalam konteks ekologi, tentu pemaduan ilmu agama dan ilmu umum sangat penting dan bermanfaat dalam rangka memelihara dan mengelola lingkungan serta memperjuangkan perlindungan lingkungan.

Tentu perjuangan terhadap konservasi lingkungan ini bukan semata-mata urusan duniawi, tetapi juga bisa diniati sebagai ibadah kepada Allah. Menurut KH. Muhammad Syamsul Arifin dalam salah satu ceramahnya, urusan dunia tidak boleh dipisahkan dengan urusan akhirat dan begitu pula sebaliknya.

Sebab, kebahagiaan akhirat akan diperoleh apabila diperjuangkan di dunia, seperti beribadah kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tua, taat kepada pemerintahan yang sah, dan perbuatan baik lainnya. Akhirnya, selamat menyambut Hari Santri Nasional 2020. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here