Tafsir Surah al-Mulk Ayat 27: Kerugian Orang yang Mengingkari Perintah Allah

1
1472

BincangSyariah.Com – Di antara ciri orang yang merugi adalah ia melalaikan kesempatan beramal saleh dalam kehidupannya. Dia melewatkan kesempatan itu untuk hal-hal yang sia-sia belaka, tidak berfaedah. Amal kebaikannya minimalis, sementara amal keburukannya maksimalis. Jika demikian adanya, timbangan keburukan akan mengalahkan kebaikannya. Maka, kelak di hari kiamat tipologi orang demikian berwajah muram tatkala melihat azab yang diberikan-Nya sebagaimana yang dilukiskan dalam firman-Nya di bawah ini,

فَلَمَّا رَاَوْهُ زُلْفَةً سِيْۤـَٔتْ وُجُوْهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقِيْلَ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُوْنَ

Maka ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulunya kamu minta.” (Q.S. al-Mulk [67]: 27)

Tafsir Surah al-Mulk Ayat 27

Konteks ayat ini menjelaskan bahwa hati orang-orang kafir menjadi lesu dan berwajah muram nan gelap tatkala ditampakkan azab-Nya kepada mereka. Azab yang dijanjikan oleh Allah kini benar adanya sebagaimana yang mereka tantang sebelumnya. Mereka berada dalam keadaan penuh ketakutan dan penyesalan tiada ujungnya. Maka, saat itu pula malaikat berkata, “Inilah hari kiamat dan azab Allah yang kamu dustakan sewaktu hidup di dunia dahulu, bahkan kamu selalu mengelu-elukan kedatangannya.”

Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menafsirkan kata ra’auhu dengan ba’dal hasyr (setelah dihimpun). Artinya azab itu akan ditampakkan ketika mereka telah dikumpulkan dalam satu kesatuan. Sementara kata wujuh dimaknai iswaddat (menjadi hitam muram). Sedangkan kata wa qiila merujuk pada perkataan malaikat penjaga neraka. Maka haadzalladzi kuntum bihi tadda’un merupakan azab yang dahulu diminta di mana mereka selalu menganggapnya lelucon belaka dan menduga tidak akan dibangkitkan oleh-Nya.

Penafsiran berbeda datang dari Ibnu Katsir, ia menyampaikan bahwa tatkala hari kiamat terjadi dan orang-orang kafir menyaksikannya, serta melihat dengan mata kepala sendiri bahwa hari kiamat teramat dekat. Dalam ayat ini diungkapkan kata qariiban (dekat), sebab tiap perkara yang pasti terjadi termasuk hari kiamat dapat diungkapkan dengan kepastian, sekalipun jarak masanya cukup lama (thala zamanuhu). Dan peristiwa yang pasti itu terjadi, mereka lalu mendustakannya sehingga wajahnya menjadi muram gelap sebab keburukan yang dilakukan sebelumnya. Karena itulah, maka dikatakan kepada mereka dengan nada kecaman dan celaan, “inilah azab yang dahulunya kamu selalu meminta dan disegerakan.”

Baca Juga :  Ancaman Dosa Enggan Zakat Karena Pelit

Sedangkan Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir memecah ayat ini ke dalam beberapa penggalan redaksi. Pertama, kata lamma termasuk harf tauqit (huruf waktu). Maksudnya adalah wajah mereka berubah menjadi muram gelap ketika janji itu ditampakkan (azab). Kedua, ra’auhu menandai pekerjaan yang akan datang (mustaqbal) meskipun disajikan dalam bentuk shighat madhy (kata lampau). Ketiga, tadda’un menunjukkan doa. Dalam konteks ini, mereka meminta disegerakan azabnya secara tidak langsung merupakan bentuk doa. Berdoa kepada Allah swt supaya mereka diejek, dicemooh dan dikeraskan hatinya. Nauzubillah min zalik.

Merugilah Orang Yang Mengingkari Perintah Allah

Dalam hadits riwayat Imam Muslim “Dunia adalah penjara bagi orang-orang beriman dan surga bagi orang-orang kafir”. Hadits ini hendak menyiratkan pesan kepada kita bahwa hidup orang beriman di dunia layaknya “tahanan” dalam penjara. Tahanan dalam artian, telah memenjarakan nafsu buruk kita. Namun pada hakikatnya, orang beriman lah yang akan menuai hasilnya di akhirat nanti. Balasan surga dan perjumpaan dengan Allah swt telah siap menantinya.

Sedangkan mereka (orang kafir) seakan-akan mempunyai keleluasaan ketimbang orang beriman dalam kehidupan dunia. Tetapi, ingat bahwa kenikmatan dunia hanyalah sesaat, bersifat temporal dan penuh drama. Orang kafir hanya mampu menikmati semuanya itu dalam sekejap, tidak lebih. Dan kenikmatan itu berbalik membelenggu dirinya sehingga terperosok dalam jurang neraka. Sejatinya, merekalah yang terpenjara sehingga tidak dapat dan mampu merasakan sejuknya surga dan perjumpaan dengan Allah swt. Itulah hakikat orang yang merugi. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here