Bahaya Semangat Kerjakan Amalan Sunah Tapi Tinggalkan Wajib

0
1394

BincangSyariah.Com –  Amalan sunah memang bisa melengkapi kekurangan pada amalan yang wajib. Allah menganjurkan kita untuk menyempurnakan kekurungan yang ada pada amalan yang wajib dengan amalan sunahnya. Oleh karena itu kita sangat tidak diperkenankan untuk meremehkan hal-hal yang sunah. Atau sangat merasa cukup hanya karena sudah menunaikan amalan wajib.

Namun demikian kita juga tidak boleh mengutamakan amalan sunah dan mengabaikan yang wajib.  Bagaimanapun kondisinya, amalan yang wajib lebih utama dari amalan yang sunah. Hal ini berlaku pada amalan ibadah apapun.

Lantas bagaimanakah jika terjadi fenomena yang mana seseorang terjerat gejala lebh semangat mengerjakan ibadah sunah daripada yang sunah? Ibn ‘Athaillah as-Sakandari dalam karya tasawufnya yang masyhur, al-Hikam, menyatakan,

من علامة اتباع الهوى المسارعة الى نوافل الخيرات والتكاسل عن القيام بالواجبات

Jika kau lebih semangat mengerjakan yg sunah daripada yang wajib, maka itu adalah pertanda bahwa yang kau cari adalah kepuasan nafsumu (ingin dipuji), bukan keridaan Tuhanmu. (Hikmah Penciptaan Akal dan Hawa Nafsu bagi Manusia)

Jika yang ada adalah semangat mengerjakan amalan sunah jauh lebih besar atau lebih bersemangat pada amalan yang wajib, maka sesungguhnya ia sedang menunaikan kepuasan nafsu belaka, atau hanya dipuji oleh orang lain. Sebab jika mengerjakan amalan hanya karena mengharap ridha Allah, maka ia mengerti mana yang harus diutamakan dan mana yang pelengkap.

Karena itulah seharusnya ia mengedepankan yang wajib sebelum melengkapi amalannya dengan yang bernilai sunah. Mau mengerjakan amalan wajib atau sunah, penting tidak berfokus pada penilaian dan pujian orang, sebab yang demikian tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ridha Allah.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari  menyatakan bahwa siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.

Baca Juga :  Pengertian dan Jenis-Jenis Pembagian Riba

Alangkah indahnya jika tetap memperioritaskan yang wajib daripada amalan yang sunah. Tidak hanya indah, melainkan sikap yang mengutamakan dan tetap menjaga semangat saat mengerjakan amalan wajib adalah satu langkah cerdas agar kita tidak menjadi orang tertipu.

Jika setiap amalan yang kerjakan hanya ingin dipuji atau menunaikan kepuasan belaka, maka kelezatan iman tak akan pernah dirasakan dalam hidupnya, karena yang diharapkan bukanlah ridha Allah. Padahal dengan mengharap ridha Allah itulah yang menyebabkan kelezatan iman akan bisa dirasakan. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib , bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)

Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman orang yang ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here