Kerajaan Islam di Toledo: Kisah Keruntuhan Dinasti Bani Dzun Nun

0
1347

BincangSyariah.Com – Setelah wafat Ismail bin Abdurrahman pasa 1043 M, kekuasaan diteruskan oleh putranya, Yahya bin Ismail yang dijuluki al-Ma’mun. Sama seperti ayahandanya, al-Ma’mun berambisi untuk melakukan perluasan wilayah. Sangat disayangkan, masa kepemimpinan dan setelahnya adalah masa-masa yang penuh dengan pertikaian. Itu disebabkan ambisi yang begitu besar untuk menguasai wilayah-wilayah sekitarnya.

Meminta Bantuan Kerajaan Kristen

Beberapa pertikaian yang terjadi menyebabkan kerajaan ini semakin mengalami kemunduran. Beberapa kali al-Ma’mun meminta tolong pada Kerajaan Kristen yang justru dijadikan kesempatan bagi mereka untuk merebut wilayah muslim.

Ini menjadi bumerang bagi kaum muslim sendiri. Terjadilah penyerangan yang dilakukan oleh Kaum Kristen kepada wilayah kekuasaan muslim di Toledo. Harta-harta mereka dirampas, perempuan-perempuan ditangkap, anak-anak dan kaum papa dibunuh. Mereka tidak punya daya dan kekuatan untuk melawan.

Ambisi al-Ma’mun untuk melakukan perluasan wilayah tetapi masa kepemimpinannya juga disibukkan dengan konflik selama 33 tahun. Khususnya, konfliknya dengan al-Ladud Sulaiman al-Musta’in bin Hud, pemimpin wilayah Zaragoza dan al-Mu’tadhid bin Abbad pemimpin wilayah Sevilla.

Salah satu kiprah politiknya yang paling masyhur adalah saat ia mampu menguasai wilayah Valensia yang saat itu dipimpin oleh Abdul Mulk bin Abdul Aziz, cucu dari al-Mansur bin Abi Amir. Abdul Mulk menikah dengan putrinya yang ditinggal wafat suami pertamanya. Tetapi Abdul Aziz ternyata memiliki perangai yang buruk. Senang bermabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan yang merendahkan harga diri dan tidak pantas dilakukan terutama seorang pemimpin. Perbuatannya membuat stabilitas politik menjadi kacayau dan kehilangan wilayah kekuasaann sampai akhirnya al-Ma’mun mengetahui dan membencinya.

Membangun Peradaban hingga Cucu yang Terpengaruh Selir

Di sisi lain, meski terjadi pertempuran dan konflik dengan kerajaan Islam lainnya bahkan mendapat serangan dari Kerajaan Kristen tetapi Kerajaan Bani Dzun Nun mengukir prestasi dalam bidang infrastruktur. Selama 33 tahun kepemimpinan al-Ma’mun ia mendirikan istana-istana mewah, lumbung, dan majlis-majlis ilmu. Majlis ilmu yang kemudian besar dan terkenal adalah al-Mukarrom. Kerajaan Islam di Andalusia juga memberikan sumbangsih kepada umat kristen yang bertempat tinggal di wilayah kekuasaan muslim berupa persiapan pangan. Lumbung yang disediakan dikelola dari keuangan negara dan salah satunya bersumber dari pembayaran Jizyah (pajak umat kristen yang tinggal di wilayah muslim.

Baca Juga :  Ulama Berpengaruh di Era Bani Hud dan Akhir Kekuasaannya di Zaragoza

Setelah al-Ma’mun wafat karena diracuni di Cordoba pada 1075 M, kepemimpinan diganti oleh cucunya, Yahya bin Ismail bin Yahya bin Dzun Nun. Ia dijuluki al-Qodir Billah. Al-Qadir tidak memiliki banyak pengalaman dalam memimpin. Ia juga memiliki perangai yang buruk dan semena-mena dalam memimpin. Sebelum al-Ma’mun wafat, ia telah membagi kepengurusan kepada dua menterinya yaitu Ibnu al-Faraj dan Ibnu al-Hadidi. Al-Faraj memegang urusan keamanan negara dan militer, sedangkan al-Hadidi memegang urusan legislatif. Keduanya mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Justru, al-Qodir yang secara resmi ditunjuk sebagai pemimpin tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Ia malah terprovokasi oleh para selir, pembantu dan beberapa orang yang bekerja di sana. Mereka menuduh Ibnu al-Hadidi berencana menghancurkan kerajaan.

Menghukum Mati Menterinya Sendiri

Pada suatu hari Ibnu al-Hadidi dipanggil menghadap al-Qodir atas tuduhan yang dilemparkannya. Tetapi itu tidak terbukti sampai penduduk Toledo menerimanya kembali di pemerintahan. Tuduhan tetap dilemparkan kepada Ibnu al-Hadidi sampai akhirnya ia dijatuhi hukuman mati. Semenjak itu pemerintahan mulai lemah dan menjadi kesempatan bagi penguasa di Sevilla, Valensia dan Kerajaan Kristen untuk menyerang Toledo. Sampai pada tahun 1079 Toledo dikuasai oleh Kerajaan Bani al-Afthos dan menjadi akhir dari kekuasaan Bani Dzun Nun.

Toledo tidak melahirkan banyak cendekiawan terutama di bidang sastra seperti Badajoz dan Sevilla melainkan hanya satu yaitu, Ibnu Arfa’ Ra’si. Tetapi lebih melahirkan cendekiawan di bidang kedokteran dan kesehatan seperti Ibnu basol an-Nabati selaku ahli gizi, Ibnu Wafid selaku dokter, ar-Riyadhi Ibn Sa’id pengarang buku sejarah keilmuan yang berjudul Thobaqoh al-Umam.

Dirangkum dari Qisshah al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here