Kepemimpinan adalah Amanat

0
685

BincangSyariah.Com – Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung telah dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia tahun ini dan seterusnya tentu saja mengandung harapan sekaligus kecemasan masyarakat. Secara teori kebijakan baru, ini dimaksudkan sebagai pengejawantahan demokrasi secara lebih luas untuk perubahan sosial yang lebih baik.

Sistem demokrasi, meskipun terdapat kekurangan di dalamnya, adalah pilihan terbaik dalam konteks Indonesia dewasa ini, bahkan juga dalam konteks global. Demokrasi merupakan sistem di mana manusia secara personal diberi kesempatan untuk menggunakan hak-hak dan pilihan-pilihan politiknya secara sama. Dalam kaitannya dengan pilkada, setiap individu yang secara hukum dianggap dewasa memiliki hak untuk memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nuraninya.

Dengan begitu, pilkada secara langsung merupakan cara menghargai hak-hak asasi manusia. Melalui pilkada masyarakat tentu sangat berharap akan terpilih pemimpin daerah yang mampu membawa perbaikan, keadilan, dan peningkatan kesejahteraan hidup dalam artinya yang luas. Namun demikian, pilkada juga bisa mencemaskan, jika kemudian orang yang dipilih ternyata mengecewakan karena mengkhianati harapan dan kepercayaan rakyat.

Kepemimpinan adalah Amanat

Mengangkat pemimpin adalah keniscayaan dalam sebuah masyarakat. Para ulama memandang mengangkat pemimpin komunitas (nashb al-imam) adalah wajib atas dasar agama dan logika. Bahkan, menurut sebuah hadis Nabi, jika tiga orang bepergian bersama, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi kepala atau pemimpin rombongannya. Apalagi jika mereka berkumpul dalam jumlah yang besar.

Hal ini tentu dimaksudkan agar mereka dapat menjalani hidupnya dengan teratur dan aman. Dari sini kemudian setiap orang diharapkan dapat mengaktualisasikan atau mewujudkan kepentingan-kepentingannya demi kesejahteraan hidupnya baik lahir maupun batin, material maupun spiritual.
Akan tetapi, memilih seorang pemimpin tentu tidak boleh sembarangan, melainkan harus cermat dan hati-hati. Kekeliruan dalam memilih pemimpin akan membawa dampak yang bisa merugikan bagi mereka. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa semua orang tentu saja berharap bahwa pemimpin adalah orang yang baik dan yang dapat mengusahakan kesejahteraan hidupnya. Lalu siapa pemimpin jenis ini?
Salah satu kriteria utama pemimpin yang baik adalah orang yang dapat menjalankan amanat (amanah) pemilihnya. Ini karena kepemimpinan adalah amanat atau kepercayaan.

Baca Juga :  Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Amanat secara sederhana berarti memelihara atau menjaga titipan orang dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuknya semula. Jadi amanah adalah titipan. Akan tetapi, dalam artinya yang lebih luas, amanat adalah juga menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, menjaga hak-hak orang lain serta menjaga dirinya sendiri.
Melaksanakan kewajiban dan tugas-tugas dengan rajin, jujur, dan baik adalah juga merupakan bentuk amanat. Tugas dan kewajiban pemimpin adalah menjaga dan melindungi hak milik orang-orang yang dipimpinnya, baik tubuh (fisik), kehormatan diri, akal pikiran, keyakinan, maupun harta benda.

Pengertian amanat tersebut dengan sendirinya berarti juga tidak menggunakan posisi, kedudukan atau jabatannya untuk mencari keuntungan dan kenikmatan pribadi atau keluarganya dengan jalan atau cara yang tidak benar. Pemimpin rakyat yang menggunakan kekuasaannya untuk mengambil harta rakyat dan hak-hak yang lain melalui cara-cara yang menyimpang dan bertentangan dengan undang-undang adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan atas dirinya. Ia dianggap melakukan salah satu dosa besar dan melanggar hukum Tuhan.

Dalam Islam, amanat adalah dasar bagi siapa saja yang diangkat menjadi pemimpin baik dalam komunitas kecil, dalam rumah tangga, apalagi komunitas besar. Dalam Alquran terdapat sejumlah ayat yang menegaskan keharusan pemimpin melaksanakan amanat. “Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu untuk menyampaikan hak-hak orang lain (amanat). Dan jika kamu memutuskan suatu hukum maka putuskanlah dengan adil.” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 58). Amanat juga merupakan bagian dari keimanan. Nabi saw. pernah menyatakan, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanat”.
Kepada Abu Dzar al-Ghiffari, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa “kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat kelak, ia bisa merupakan kehinaan dan sesuatu yang disesali, kecuali jika ia mengambilnya dan menjalankannya dengan cara yang benar.” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Apakah Jihad Harus Dilakukan Dengan Berperang?

Nabi juga pernah memperingatkan kepada umatnya agar tidak memilih orang yang tidak dapat memegang amanat dengan baik, karena akan menghancurkan kehidupan. “Jika kepemimpinan masyarakat diberikan kepada orang yang tidak bisa memegang amanat, maka tunggu saja saat kehancurannya,” sabda Nabi.

Menurut Ibn Taimiyah, amanat pada akhirnya terpulang kepada tiga hal: khasyyatullah (takut kepada Allah), la yasytari bi ayatihi tsamanan qalila (tidak menjual kebenaran dengan harga yang rendah), dan tarku khasyyah al-nas (tidak takut kepada manusia), sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah [5] ayat 44.

Ini mengandung arti bahwa pemimpin yang amanah adalah yang senantiasa menjaga diri dari berbuat yang melanggar hukum, baik hukum Allah maupun hukum negara, tegas dalam menegakkan kebenaran dan melindungi hak-hak rakyat terutama yang lemah dan teraniaya. Semoga pilkada di Indonesia akan menghasilkan pemimpin yang amanah dan dapat memenuhi harapan bapak di atas. Amin.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here