Kepala Ma’had ‘Ali Darus-Sunnah: Lewat Bahtsul Masail Kita Tukar Pikiran, Bukan Berdebat

1
139

BincangSyariah.Com – Dr. KH. Muhammad Shofin Sugito, MA., selaku kepala Ma’had Ali Darus-Sunnah dalam mauizhah hasanah-nya di penghujung acara Bahtsul Masail Pondok Pesantren Se-Jabodetabek menyampaikan, “Al-Maghfurlah Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., Pendiri Darus-Sunnah, selalu menanamkan salah satu jargonnya kepada para santrinya, yaitu nahnu thullabu al-‘ilmi ila yawmi al-qiyaamah. Dari sini, kita harus terus belajar hingga akhir hayat kita. Jika kita ditakdirkan hidup sampai hari kiamat, kita terus belajar hingga kiamat terjadi. Dalam hadis pun disebutkan,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“siapa yang Allah kehendaki ia menjadi orang baik, Allah akan membuatnya memiliki kepahaman di dalam agama.”

Dengan cara senantiasa belajar, semoga kita masuk dalam kategori ini,” tuturnya. Pernyataan tersebut adalah bagian mauizhah hasanah penutup acara Bahtsul Masail se-Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahtsul Masail Madrasah Darus-Sunnah (LBM-MDS).

Kiai Shofin juga menerangkan tentang tahapan belajar. “Dalam mencari ilmu, ada tiga tahapan: pertama, thalabu-l-‘ilm. Awalnya kita mempelajari segala bidang kelimuan. Dalam tahapan ini, guru menempati posisi yang krusial bagi seorang pelajar. Tujuannya, agar pelajar tidak keliru dalam memahami ilmu agama. Kedua, mudzakarah. Setelah mempelajari ilmu yang ada, kita harus mengulangnya, dengan cara berdiskusi dengan teman. Dengan demikian satu sama lain akan saling mengingatkan terhadap ilmu yang telah dipelajari. Ketiga, muraja’ah. Setelah berdiskusi dengan teman, tahapan selanjutnya adalah menukar pendapat dengan orang lain atau saling bertukar informasi. Bahtsul Masail-lah salah satu caranya. Karena di Bahtsul Masail, kita saling bertukar pikiran, bukan mujadalah atau debat.” Lanjutnya.

Beliau juga mengunggulkan Bahtsul Masail ketimbang diskusi akademik yang biasa terjadi di Kampus. Menurut beliau, “Hemat kami, Bahtsul Masail lebih baik ketimbang diskusi yang biasa dilakukan para akademisi yang hanya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dengan tanpa memberi solusi. Di Bahtsul Masail, pertanyaan yang ada dijawab dengan argumentasi yang berlandaskan teks-teks karya para ulama—yang biasa disebut dengan ibarat, baik yang salaf maupun khalaf. Sehingga, dari semua ibarat yang ada, dapat ditemukan jawaban terhadap pertanyaan yang ada,” imbuhnya.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Malu Mendatangkan Kebaikan

Kiai Shofin juga menuturkan bahwasanya Darus-Sunnah sangat senang, karena di kota-kota metropolitan seperti Jabodetabek ini, masih ada pesantren yang antusias hadir di acara Bahtsul Masail. Mengingat Tradisi Bahtsul Masail ini amat jarang dijumpai di Jabodetabek. “Insya Allah Darus-Sunnah akan mengirimkan utusan guna merekatkan tali silaturahim,” ucapnya di sela-sela mau’izhah-nya.

Di Penghujung mauizhahnya, beliau mengutarakan bahwa Bahtsul Masail Se-Jabodetabek ini akan menjadi rutinitas setiap tahun dalam rangka memperingati haul Kiai Ali Mustafa Yaqub. “Kami harap dalam Bahtsul Masail selanjutnya, mubahits yang hadir lebih banyak—meskipun yang hadir sekarang sudah banyak. Karena dengan ini, kita bisa menjalin tali silaturahim antar pesantren.” Harapnya. Beliau tutup mauizhahnya dengan membaca al-Fatihah bersama agar kita semua dapat meneruskan perjuangan para ulama dan istiqomah melakukan tradisi terpuji ini, yaitu ber-Bahtsul Masail. Semoga Bermanfaat!.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here