Kepada Siapa Kita Harus Bersedekah?

0
23

BincangSyariah.Com – Secara kasat mata, memang harta yang dikeluarkan untuk bersedekah akan berkurang. Namun, bila kita berbicara hakikat, sebenarnya harta kita akan bertambah.

Sedekah tidak akan mengurangi harta sedikit pun. Sebab, Allah pasti akan menggantinya dengan berlipat ganda.

Namun adakah ketentuan mengenai Kepada siapa kita harus bersedekah? Apakah sama dengan delapan golongan mustahiq dari zakat ataukah berbeda?

Tentang kepada siapa kita harus bersedekah, kita akan berbicara mengenai siapa yang berhak menerima sedekah.

Hal ini dibahas oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab yang menyatakan bahwa ulama telah sepakat bersedekah kepada sanak famili lebih utama sebelum kepada orang lain. Berikut penjelasannya:

“Ulama sepakat  bahwa sedekah kepada sanak famili, kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Hadis-hadis yang menyebutkan hal tersebut sangat banyak dan terkenal.”

Uraian di atas tidak bisa dibuat alasan bagi orang-orang pelit untuk menutupi kemalasannya bersedekah kepada orang di luar rumah.

Ada sedikit catatan menarik dari Imam Nawawi yang mengutip dari ashabus Syafi’i bahwa skala prioritas sebagaimana urutan-urutan di atas semestinya tetap harus mempertimbangkan tentang kemampuan finansial penerima.

Artinya, keluarga yang masuk kategori mustahiq zakat lebih utama untuk didahulukan daripada orang lain.

Hal ini diperkuat dengan penjelasan lebih lanjut:

“Menurut sahabat-sahabat kami, disunnahkan pada sedekah yang sunnah, zakat, kaffarah untuk diterimakan kepada sanak kerabat jika memang mereka adalah orang yang masuk kategori mustahiq zakat. Jika mereka masuk kategori tersebut, lebih utama daripada diberikan kepada orang lain.” (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Dârul Fikr], juz 6, halaman 220).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa memprioritaskan pemberian sedekah kepada sanak kerabat jika memang mereka mempunyai kategori fakir, miskin, atau gharim (orang yang banyak utangnya).

Pengertian “tidak mampu” di sini mengacu pada standar sangat rendah, yaitu batas orang berhak menerima zakat, bukan tidak mampu secara strata sosial yang masing-masing wilayah bisa jadi berbeda sudut pandangnya.

Apabila dalam keluarga tersebut tidak ada orang yang berhak menerima zakat, maka sudah semestinya tidak ada skala prioritas antara keluarga dengan non keluarga.

Namun, bagi yang masih mempunyai kerabat dan orang terdekat yang membutuhkan bantuan maka lebih baik dengan memperhatikan prioritas yang membutuhkan.

Apabila masih memiliki rezeki yang lebih, barulah bisa digunakan untuk bersedekahkan kepada siapa pun dan di mana pun.

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa sedekah sebenarnya bisa diberikan kepada siapa saja, dalam bentuk apa saja, kapan saja dan di mana saja. Tapi, Allah menganjurkan agar memberikan sedekah kepada orang-orang terdekat.

Jika orang-orang terdekat sudah merasa tercukupi barulah sedekah diberikan kepada orang yang lain yang cakupannya lebih luas seperti masyarakat atau penyalur sedekah.

Yuk jadikan sedekah sebagai ‘gaya hidup’ yang akan membuat hidup kita lebih bermanfaat dan Insya Allah selalu mendapat keberkahan dari-Nya. Jangan sampai ketika kita merasa ajal sudah kian dekat, kita baru merasa pentingnya bersedekah.

Bersedekahlah sekarang juga selagi mampu sebab bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat ketika nanti sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya.[]

Baca: Lebih Utama Mana, Sedekah Diam-Diam atau Terang-Terangan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here