Kenyang yang Diperbolehkan dalam Agama dan Medis

0
515

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya makanan halal itu berbahaya bagi kesehatan bukan karena jenis makanan itu sendiri tapi lebih karena berlebihan dalam memakan. Maka dengan adanya puasa kita belajar menguranginya. Sebagaimana diutarakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin,

فإن الطعام الحلال إنما يضر بكثرته لا بنوعه فالصوم لتقليله – أبو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، ٢٣٥/١

“Makanan halal itu bisa berbahaya (bagi tubuh) hanya karena banyaknya, bukan disebabkan makanan halal itu sendiri, oleh karena itu dengan puasa kita beurasaha menguranginya.”

Tapi bukan berarti dengan puasa kemudian ketika berbuka kembali mamakan semua apa-apa yang terlewat pada siang harinya yang justru bertentangan dengan tujuan puasa itu sendiri. Maka sebab itu berpuasalah sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri, bukan untuk memenuhi perut dengan makanan.

Lalu apakah Islam melarang kenyang? Walaupun pada asalnya kenyang itu boleh, tapi karena ada hadist yang mengecam ‘suka kenyang’ maka hukumnya makruh. Ini sejalan dengan pendapatnya Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya,

بَابُ الِاقْتِصَادِ فِي الْأَكْلِ وَكَرَاهيةِ الشِّبَعِ

الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِي كَرِبَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: “مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ”

[ابن ماجه، سنن ابن ماجه ت الأرنؤوط، ٤٤٨/٤]

Bab tidak berlebihan makan dan makruhnya kenyang.

Miqdam bin Ma’di Karib berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:Tidak ada wadah yang diisi penuh oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah makanan seseorang itu beberapa suap saja untuk menegakkan tulang sulbinya (sekadar untuk bertahan hidup). Jika memang nafsu makan untuk mendorongnya lebih, maka cukuplah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk udara dalam perut.” ( HR. Ibnu Majah )

Baca Juga :  Dua Orang Rakus yang Tidak Kenal Rasa Kenyang

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani ketika mengurai hadis ini dalam kitab Fathul Bari bab “Orang makan hingga kenyang” dengan mengutip pendapatnya Imam al-Ghazali mengatakan ada tujuh tingkatan kenyang.

Pertama, makan hanya sekadar bertahan hidup.

Kedua, makan hanya sekadar dapat melakukan kewajiban shalat dan puasa (tingkatan pertama dan kedua hukumnya wajib).

Ketiga, makan sekadar dapat melakukan kesunahan-kesunahan.

Keempat, makan sekadar dapat bekerja (tingkatan ketiga dan keempat hukumnya sunnah).

Kelima, makan sampai batas sepertiga perut (hukumnya boleh).

Keenam, makan melebihi kadar sepertiga perut sehingga badan terasa berat dan banyak tidur ( hukumnya makruh).

Ketujuh, makan terlalu kenyang sehingga membahayakan tubuhnya (hukumnya haram).

Di sisi lain, dalam pandangan medis terlalu kenyang juga sangat tidak dianjurkan. Dalam pandangan medis rasa kenyang ditandai dengan sel-sel enteroendokrin di dalam tubuh yang melepaskan hormon ke dalam aliran darah kemudian mengirim sinyal ke otak untuk memberi tahu bahwa anda sudah kenyang. Namun ketika seseorang mengabaikan sinyal ini dan terus melanjutkan makan maka akan berdampak pada efek dari kekenyangan yang buruk bagi tubuh maupun jiwa. Di antara salah satu efeknya adalah terjadinya obesitas dan mengantuk.

Dari kedua pandangan agama dan medis di atas, kita dapat melihat bahwa ada benang merah akan kenyang yang diperbolehkan hanya jika tidak menyebabkan obesitas atau mengantuk. Di mana dalam tujuh tingkatan kenyang di atas hanya sebatas memenuhi sepertiga dari perut seseorang (tingkatan kelima).

Lalu bagaimana kita mengukur porsi makanan dengan mudah sehingga tidak dikatakan kenyang?

Seperti dalam hadis di atas bahwa makanan kita itu sepertiga saja dari ruang dalam perut kita. Tapi sepertinya bagi kebanyakan orang batas seperti ini sulit untuk dipahami. Mereka tidak dapat mengira-ngira luas perutnya sehingga bisa menerapkan batasan sepertiga itu.

Baca Juga :  Doa Agar Selalu Diberi Kesehatan

Oleh karena itu kita cari batasan yang lebih mudah dipahami. Pada prinsipnya porsi makanan seseorang itu berbeda-beda bergantung pada usia, pekerjaannya, atau mungkin jenis kelaminnya.

Oleh sebab itu porsi makanan anak tidak sama dengan orang dewasa. Porsi tukang kuli angkut tidak sama dengan seorang guru. Maka untuk mudahnya porsi makanan seseorang agar tidak kenyang adalah setengah dari porsi makanan pada umumnya. Contoh jika pada umumnya seorang guru itu porsinya satu piring penuh beserta lauk pauknya dalam sehari semalam maka porsi tidak kenyangnya adalah setengah dari itu. Atau jika tukang kuli angkut itu porsinya dua piring penuh beserta lauk pauknya dalam sehari semalam maka porsi tidak kenyangnya adalah setengah dari itu. Pemahaman ini beranjak dari hadis Nabi Muhammad saw. yang disebutkan dalam Sunan al-Kubra Imam An-Nasa’i (j. 7 h. 270),

عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي أَرْبَعًا، وَطَعَامُ الْأَرْبَعَة يَكْفِي ثَمَانِيَةً
[النسائي، السنن الكبرى للنسائي، ٢٧٠/٦]

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda: Makanan satu orang sukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.” ( HR. An-Nasai )

Dinukil dari Ishaq bin Rahwayhi bersumber dari Jarir dalam kitab Fathul Bari bab “Makanan satu orang cukup untuk dua orang” mengatakan bahwa makna hadist ini adalah makanan yang dapat mengenyangkan satu orang cukup untuk kebutuhan pokok dua orang dan makanan dua orang cukup untuk kebutuhan pokok empat orang.

Meskipun pandangan ini disanggah ulama lain – yang mengatakan bahwa maksud hadist itu adalah anjuran untuk mengajak orang lain makan bersama agar dapat keberkahan lebih banyak, bukan tentang kadar makanan yang mencukupi – akan tetapi dapat menjadi alternatif atau patokan dalam kadar makanan yang mengenyangkan seseorang. Meskipun kita menyadari ini bukanlah patokan yang secara medis dibenarkan, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi porsi makan seseorang.

Baca Juga :  Kesehatan Merupakan Harta Berharga bagi Ahli Ibadah

Alangkah indahnya anjuran nabi ini, tapi alangkah rakusnya sifat kita. Andaikan manusia mengikuti pola hidup seperti itu, pasti tidak ada manusia yang merasa kekurangan dengan makanannya. Dimana kita lebih banyak makan besar dalam sehari tiga kali belum ditambah kudapan-kudapan lainnya.

Terlepas dari itu semua selayaknyalah manusia mengendalikan sifat kebinatangannya bukan justru dikendalikan olehnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 31.

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya “ Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf; 31)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here