Kentut di Tengah Atau Setelah Mandi Junub, Apakah Mandi Harus Diulang?

1
1897

BincangSyariah.Com – Mandi wajib merupakan kewajiban mensucikan diri bagi setiap muslim jika mengalami keluarnya sperma, baik disengaja seperti hubungan suami istri atau pun tanpa disengaja seperti mimpi basah; atau dikarenakan masa keluar darah haid atau nifas telah selesai bagi wanita.

Mandi wajib tidak sama dengan mandi biasa karena memiliki rukun, syarat, tata-cara dan lain sebagainya yang harus dipenuhi  supaya mandi wajib tersebut bisa sah dan dapat menghilangkan hadas besar. Melakukan ibadah shalat atau ibadah lainnya tetap dilarang, apabila mandi wajib yang dilakukan tidak sesuai rukun dan syarat mandi wajib yang telah ditetapkan.

Namun seperti halnya mandi biasa, terkadang di tengah proses mandi wajib ada keinginan untuk kencing sehingga bagi sebagian orang hal ini menimbulkan keraguan apakah hal tersebut bisa membatalkan mandi wajib atau tidak. Untuk itu, kiranya sangat penting hal ini diketahui bersama supaya kita memperoleh keyakinan kuat tentang sah atau tidaknya mandi wajib yang kita lakukan.

Kencing, buang air besar atau kentut tidak termasuk bagian yang membatalkan mandi wajib, baik keluar di tengah mandi wajib atau setelahnya. Para ulama sepakat bahwa keluar air kencing hanya membatalkan wudhu saja dan tidak mengakibatkan mandi wajib batal atau tidak sah.

Mandi wajib dinilai sah dan dapat menghilangkan hadas besar apabila telah memenuhi rukun wajib mandi besar. Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah, ada tiga perkara yang menjadi rukun mandi wajib, yaitu niat mandi wajib karena ingin menghilangkan hadas besar, menghilangkan najis (apabila ada) yang menempel di badan dan menyiramkan air ke seluruh anggota tubuh dari kepala hingga telapak kaki sampai merata.

Baca Juga :  Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan Pengeras Suara Masjid

Ketika ketiga rukun tersebut sudah terpenuhi semua, maka mandi wajib telah dinilai sah dan hadas besar telah hilang sehingga boleh melakukan shalat, thawaf dan lain sebagainya.

Dalam kitab Safinah al-Najah, Syaikh Salim bin Abdillah menyebutkan enam perkara yang mengakibatkan mandi wajib batal dan mewajibkan mandi wajib kembali. Keenam perkara tersebut adalah bertemunya dua kemaluan, keluar sperma, keluar darah haid, keluar darah nifas, melahirkan dan meninggal dunia.

Dari keenam perkara tersebut terlihat bahwa kentut, baik di tengah mandi atau setelahnya, tidak termasuk bagian yang mengakibatkan mandi wajib batal. Berbeda halnya apabila yang keluar adalah sperma atau darah haid, maka mandi wajib menjadi batal dan wajib mandi kembali, baik keluar di tengah mandi wajib atau di tengah kondisi yang lain

1 KOMENTAR

  1. […] Adapun terkait memperbarui mandi wajib atau tajdidul ghusli, menurut para ulama tidak dianjurkan. Bahkan menurut pendapat ulama yang shahih, mandi wajib tidak boleh diperbarui. Meski memperbarui wudhu dianjurkan, namun hal ini tidak berlaku untuk mandi wajib. (Baca: Kentut di Tengah Atau Setelah Mandi Junub, Apakah Mandi Harus Diulang?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here