Kenapa Santri Harus Menulis? Ini Alasannya

0
307

BincangSyariah.Com – Sedari dulu saya menyadari bahwa pesantren tidak hanya tempat santri beretorika dan tempat berdiskusi saja. Pesantren tidak hanya tempat melatih orang berbicara dan mendengar. Menulis belum menjadi tradisi keilmuan yang begitu menarik di kalangan pesantren. Padahal ulama-ulama terdahulu karya tulisnya hebat-hebat.

Santri seringkali diidentik dengan kaum tradisional, kaum yang mempertahankan tradisi-tradisi kuno, kolot, kampungan dan ndeso. Arti tradisional tidak mesti harus diartikan seperti demikian. Lebih-lebih untuk kaum santri.

Kita akui saja santri memang bagian dari kaum tradisionalis yaitu santri yang benar-benar konsisten untuk mempertahankan tradisi lama dengan membaca dan menulis.

Hal demikian, harus ada dalam diri seorang santri. Lebih-lebih di era yang serba gonjang-ganjing narasi keagamaan yang salah kaprah. Santri harus keluar dari sarangnya. Salah satunya dengan menulis. Santri tidak boleh menyepi dari keramaian problematika sosial. Santri harus menulis supaya tradisi keilmuan di pesantren tidak terasa sunyi.

Internet sudah menjadi media yang sangat praktis untuk berdakwah lewat tulisan-tulisan untuk menyampaikan ide, gagasan dan syiar Islam. Karenanya, santri harus masuk ke dunia internet. Santri harus bisa berkontribusi dalam menyuarakan aspirasi dan syiar-syiar Islam via online.

Dengan menggunakan metode dakwah tulisan lewat internet, santri bisa menangkal narasi-narasi menyesatkan yang sering dilontarkan oleh kelompok konservatif yang kaku memahami Islam. Dunia internet harus dikuasai oleh orang-orang yang paham dengan Islam toleran, ramah, progresif, dan penuh kasih sayang. Bukan oleh orang-orang yang beriman tapi tidak punya integritas keimanan.

Perjuangan seperti itu merupakan bagian dari perjuangan ulama terdahulu. Nah, sekarang saatnya kita sebagai santri untuk melanjutkan perjuangan mereka dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Baca Juga :  Di Rumah Aja? Ini Loh Tiga Tips Spiritual Saat Terjadi Penyakit Mewabah

Mari kita sebagai santri untuk membudayakan membaca kemudian kita menulis. Para ulama Indonesia adalah tidak lepas dari tradisi menulis bahkan kebanyakan mereka penulis produktif. Seperti kiai  KH. Saifudin Zuhri, Mahbub Djunaidi, KH. Abrurahman Wahid, KH. A. Musthofa Bisri, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Nur Cholis Madjid, dan lain-lain. Dengan karya mereka keilmuan di pesantren tetap membumi, bergerak ke mana-mana, bahkan tetap lestari.

Terakhir, Sebagai motivasi dan inspirasi. Tulisan ini saya kutip dari tulisan KH Husein Muhammad di Beranda Facebooknya, seorang sastrawan sekaligus teolog besar, Abu ‘Amr al-Jahizh menulis tentang buku dan pena:

الْقَلَمُ اَبْقَى أَثَراً  وَاللِّسَانُ أَكْثَرُ هَدَراً

لَوْلاَ الْكِتَابُ لَاخْتَلَّتْ أَخْبَارُ الْمَاضِيْنَ

وَانْقَطَعَ أَثَرُ الْغَائِبِيْنَ

وَاِنَّمَا اللِّسَانُ شَاهِدٌ لَكَ وَالْقَلَمُ لِلْغَائِبِ عَنْك

                                                         الْكِتَابُ يُقْرَأُ بِكُلِّ مَكَانٍ  وَيُدْرَسُ فِى كُلِّ زَمَانٍ

Jejak goresan pena lebih abadi

Suara lidah acap tak jelas

Andai tak ada buku

Tak lagi ada cerita masa lalu

Dan terputuslah jejak

mereka yang telah pulang

Kata-kata hanyalah untuk yang hadir

Pena untuk yang tak hadir

Buku dibaca di segala ruang

Dikaji disegala zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here