Kenapa Manusia Senang Dihormati dan Punya Fans? Ini Kata al-Ghazali

0
1699

BincangSyariah.Com – al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulumuddin punya penjelasan yang apik sekali tentang kenapa manusia senang dihormati dan menyenangi kekayaan. Soal senang dihormati, kira-kira senang punya fans kira-kira dalam konteks sekarangnya. Bahkan, keberadaan Internet lewat sosial media, jadi tujuan utama atau tidak, membuat penggunanya merasa senang sekali jika unggahannya mendapatkan tanda like (suka) semakin banyak. Apalagi sampai ada pengikut setianya, dan jadi apa yang disebut sebagai influencer (secara bahasa, orang yang memiliki pengaruh). Bukan dalam konteks bilang benar atau salah, tapi tema senang dihormati atau memiliki kedudukan merupakan persoalan universal manusia yang dalam hal ini juga sudah dibicarakan para ahli sejak lama. Salah satunya Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin. Al-Ghazali memberikan penjelasannya soal senang dihormati dalam Bayan Dzam al-Jaah wa Ma’naahu (Penjelasan tentang Makna Buruknya Merasa Terhormat).

al-Ghazali mengelompokkan tema merasa terhormat dalam bagian bernama Kitab Dzamm al-Jaah wa ar-Riya’. Al-Ghazali langsung menyatakan, bahwa ulama yang sangat hebatpun, dalam istilah beliau, samaasiratu al-‘ulamaa’, belum tentu selamat dari persoalan riya dan ingin terhormat. Apalagi hamba Allah dan orang taat biasa, pungkas al-Ghazali (al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Kairo: Dar as-Salam, h. 1176).

Kenapa Manusia Senang Terhormat?

Saya langsung mencoba masuk ke tema tentang al-Jaah yang ditulis oleh al-Ghazali dalam Ihya’ (h. 1181). Beliau membuka pernyataan sejak awal, bahwa pilar dunia ini ada dua: pertama, harta; kedua, kehormatan. Al-Ghazali mendefinisikan kehormatan (al-Jaah) dengan milk al-quluub al-mathluub ta’zhiimuhaa wa thoo’atuhaa (menguasai perasaan orang banyak dengan tujuan agar mereka menghormati dan menaati). Oke, kenapa harta dan kehormatan adalah pilar dunia?

Al-Ghazali meneruskan, dengan harta, orang bisa meraih keinginan dan mencapai tujuannya dengan harta tersebut untuk apa yang disenangi oleh jiwa. Sementara dengan kehormatan, orang bisa memanfaatkan orang yang menghormati dan menaatinya agar mau menuruti kehendak-kehendaknya. Karena itulah, meski kehormatan tidak mewujud yang bisa teraba, orang-orang banyak yang memperjuangkannya layaknya mereka berusaha mendapatkan harta dengan bekerja sekeras mungkin.

Baca Juga :  Zaman Semakin Maju, Tapi Tiga Hal Ini Semakin Langka

Tidak mudah membuat orang bisa bersikap taat apalagi sampai menghormati, dalam pengertian menuruti dan membenarkan segala yang dilakukan oleh yang ia hormati. Tempatnya orang bisa merasa menghormati itu di dalam hati, kata al-Ghazali. Dan sikap hormat atau taat itu tidak akan tergerak kecuali orang mempunyai pengetahuan atau keyakinan yang kuat terhadap yang dihormatinya sehingga ia meyakini kalau orang yang diyakininya adalah orang yang terbaik (dalam bahasa al-Ghazali, al-Kamal) meskipun hakikatnya belum tentu juga benar-benar terbaik.

Menjadi Budak Tapi Sukarela

Al-Ghazali terkenal sekali di banyak tempat di dalam karya-karyanya, termasuk dalam Ihya’ dengan perumpaan-perumpaan yang kadang menggelitik, tapi kadang membuat kita termenung. Salah satunya penjelasan soal meraih kehormatan di hati manusia. Al-Ghazali, bahkan memberikan peringatan bahwa orang yang memang mengusahakan meraih kedudukan terhormat dari orang banyak, bahkan ia lebih jauh langkahnya dibandingkan seorang tuan yang memiliki budak.

Al-Ghazali mengilustrasikan, orang yang memperbudak orang, harus mengeluarkan usaha agar orang yang diperbudaknya mau menurutinya. Yang diperbudakpun, sebenarnya melakukannya karena terpaksa. Saat sang tuan pergi, tak ayal budak pun tidak menaatinya bahkan berusaha melarikan diri. Tapi, orang yang mencari kehormatan dari orang, ia bahkan ingin “menjadikan hamba” orang-orang yang merdeka agar selalu menurut kepadanya. Dan lebih jauh, orang yang merdeka tersebut sukarela berposisi sebagai “hamba” orang yang mencari kehormatan itu. Karena orang yang sukarela tersebut merasa orang yang ia hormati itu orang yang sempurna.

Saat orang sudah banyak yang yakin kalau mereka sedang menghormati orang hebat, orang yang dihormati sadar atau tidak, bisa mengarahkan mereka dengan mudah. Hasilnya awal-awal adalah memuji dan memanjung. Selanjutnya semakin ketaatannya meningkat, ia tidak merasa payah untuk menjadi pembantunya, bahkan mendahulukan kepentingan yang dihormatinya diatas kepentingan sendiri. Inilah analisa al-Ghazali kenapa manusia senang dihormati.

Baca Juga :  Budi Pekerti yang Harus Dimiliki Oleh Peserta Didik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here