Kenapa Manusia Butuh Bantuan Orang Lain Jika Mengalami Problem Psikologis ?

0
155

BincangSyariah.Com – Masih menggali dari kitab Mashalih al-Anfus wa al-Abdan (h. 122-124)karya Abu al-Qasim al-Balkhi, ia sudah menerangkan bahwa kesehatan jiwa atau mental, sebenarnya setara dengan kesehatan fisik. Jika fisik bisa sakit, maka mental juga demikian. Perasaan mendasar yang menjadi bibit munculnya problematika kesehatan mental adalah rasa khawatir, depresi, dan rasa marah.

Untuk menyebutkan problem psikologis tersebut, dalam artikel sebelumnya sudah dijelaskan kalau al-Balkhi menyebut bahwa mengobati problem jiwa (al-a’raadh an-nafsiyyah) itu bisa dari dalam maupun dari luar. Jika dari luar, maka salah satu caranya adalah nasihat dari orang lain untuk menenangkan diri dan membantu mengembalikan kondisi jiwa lebih baik. Bahkan, bantuan yang diberikan dari luar, untuk mengembalikan kesehatan diri, baik secara mental maupun fisik, itu lebih cepat berdampak dibandingkan dengan menyembuhkan sendiri.

Bentuk-bentuk bantuan dari orang lain tersebut, diantaranya bisa dengan cara nasihat (al-‘izhah; al-maw’izhah); atau diingatkan (at-tadzkiir). Dari gambaran al-Balkhi – meskipun saya sudah menyatakan disclaimer bahwa saya bukan dari posisi sebagai profesional yang memahami psikologi – ia sudah menaruh perhatian yang besar pada persoalan kesehatan mental. Kata al-Balkhi, kenapa bantuan dari luar untuk menyelesaikan persoalan psikologi lebih optimal dari menyembuhkan sendiri adalah,

pertama, manusia lebih mudah menerima saran dari orang lain dibanding dirinya sendiri. Karena hawa nafsu pribadi lebih banyak yang mempengaruhi keputusan seseorang.

Kedua, seseorang disaat salah satu persoalan mentalnya tidak terkendali, ia disibukkan dengan persoalan mentalnya tersebut. Padahal ia membutuhkan orang yang sehat jiwanya yang membantu menyelesaikan persoalan mentalnya.

al-Balkhi mendukung argumennya dengan gambaran kenapa para raja-raja atau pemimpin selalu dikelilingi oleh para penasihat dari kalangan bijak. Tujuan untuk menenangkan ketidakstabilan emosinya, khususnya ketika para raja marah, sendiri, sehingga ia membutuhkan nasihat. Para raja, menerima nasihat tersebut dan mengerjakannya, layaknya seorang pasien yang membenarkan apa yang diresepkan oleh seorang dokter. Wallahu A’lam.

Baca Juga :  Ini Bahaya Memanjakan Hawa Nafsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here