Kenapa Jumlah Shalat Tarawih Berbeda-beda?

0
1512

BincangSyariah.Com – Shalat tarawih adalah shalat sunah yang hanya khusus dilakukan pada malam bulan Ramadan. Selain bulan Ramadan mengamalkan shalat tarawih tidak diperbolehkan .

Dalam pelaksanaan shalat tarawih terdapat banyak sekali perbedaan mengenai jumlah rakaatnya. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia muslim. Di negara muslim tertentu ada yang melaksanakan shalat tarawih dua puluh rakaat, ada yang tiga puluh enam rakaat, seratus rakaat dan ada pula delapan rakaat. Bahkan di Indonesia sendiri, pelaksanaan shalat tarawih di masing-masing masjid tidak sama jumlah rakaatnya. Ada yang shalat tarawih delapan rakaat, ada juga yang dua puluh rakaat.

Lantas mengapa jumlah rakaat tarawih berbeda-beda?

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa tidak ada batasan yang pasti dari Nabi Saw. terkait jumlah rakaat shalat tarawih. Oleh karena itu, tidak heran apabila tidak ada kesepakatan di antara kaum muslim sejak zaman sahabat terkait jumlah rakaat shalat tarawih. Pada zaman Sayidina Umar, kaum muslim melaksanakan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat, sekaligus ditambah shalat witir tiga rakaat. Pada zaman khalifah Umar bin Abdil Aziz, kaum Muslim melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tiga puluh enam rakaat. Kedua jumlah ini, menurut mazhab maliki sama-sama benar dan boleh.

Dalam kitab Fiqhus Sunah disebutkan sebuah perkataan Ibnu Hibban yang menjelaskan proses jumlah rakaat shalat tarawih; “Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah sebelas rakaat dengan bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka. Kemudian mereka meringankan bacaan dan menambah bilangan rakaat menjadi 23 rakaat dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 rakaat tanpa witir.”

Dengan demikian, terdapat beberapa penambahan jumlah rakaat shalat tarawih sejak zaman Nabi Saw., sahabat dan tabiin hingga sekarang. Mulai dari delapan, dua puluh, tiga puluh enam, bahkan ada juga yang empat puluh dan seratus rakaat.

Semuanya benar dan boleh sesuai dengan kesepakatan masing-masing negara dan masyarakat setempat. Justru yang salah dan keliru apabila membatasi jumlah rakaat shalat tarawih pada bilangan tertentu, tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Hal ini sebagaimana dikatakan imam Ahmad;

من يظن ان ص صلاة التراويح لها عدد حدده رسول الله صلى الله عليه وسلم لا زيادة ولا نقصان فقد أخطأ

Barangsiapa yang meyakini bahwa shalat tarawih ada batasan jumlah tertentu dari Nabi Saw. sehingga tidak boleh ditambah maupun dikurangi, sungguh dia telah salah dan keliru.”

Wallahu’alam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here