Kenapa Hari Raya Disebut dengan al-‘Id?

0
637

BincangSyariah.Com – Kenapa “hari raya” disebut “al-‘Id”? Saya sarikan jawabannya beberapa poin dari lema عود  di kitab kamus Lisan al-‘Arab  karya Ibnu al-Mandzur.

  1. Innama al-‘id ma ‘ada ilaika min al-syauq wa al-maradh wa nahwihi. Al-‘id adalah kembalinya rasa rindu, atau sakit, atau sebagainya.
  1. Al-‘id ma ya’tadu min naubin wa syquqin wa hammin wa nahwihi. Al-‘idadalah musibah, atau rasa rindu, atau penderitaan, atau sebagainya yang telah biasa datang.
  1. Al-‘id ‘inda al-‘arab al-waqt alladzi ya’udu fihi al-farahu wa al-hazanu. Bagi orang Arab, al-‘id adalah istilah untuk menyebut waktu saat kebahagiaan atau kesedihan datang lagi.
  1. Al-‘Id kullu yaumin fihi jam’un. Wa isytiqaquhu min ‘ada-ya’udu. Ka annahum ‘adu ilaihi. Wa qila istiqaquhu min al-‘adah, liannahum i’taduhu. “Hari raya” (al-‘id) adalah tiap-tiap hari ketika diadakan kumpul-kumpul. Akar kata al-‘id adalah ‘ada-ya’udu, yang berarti “perihal kembali”. Seakan memberikan makna “orang-orang akan kembali ke hari itu untuk berkumpul”. Ada yang mengatakan, akar kata al-‘id adalah al-‘adah, yang berarti “tradisi”, “kebiasaan”. Sebab, “masyarakat menjadikan hari itu sebagai tradisi”.
  1. Sumiya al-‘id ‘idan liannahu ya’udu kulla sanatin bifarahin mujaddadin. Hari raya disebut al-‘id sebab ia selalu kembali setiap tahun dengan membawa kebahagiaan baru.

Inti yang bisa kita pahami dari lima poin di atas adalah

  • ada keterkaitan etimologis antara kata “al-‘id” (hari raya) dengan kata ’aud(perihal kembali). Ini menjadi koreksi pernyataan di judul Jika ‘Idul Fitri’ Kembali ke Fitrah Mala ‘Idul Adha’ Kembali ke Apa?”
  • al-‘id secara umum artinya “sebuah momentum yang datang berulang/selalu kembali”. Hari raya (Idul Fitri, Idul Adha, Hari Natal, dan sebagainya) tercakup dalam pengertian itu.
  • Idul Fitri (termasuk Idul Adha, Hari Natal, dan hari raya-hari raya lain) disebut hari raya (al-‘id) sebab ia menjadi tradisi tahunan yang membawa kebahagiaan dan menjadi momentum berkumpul bersama keluarga dan bertemu saudara.
Baca Juga :  Membedakan antara Agama dan Budaya dalam Memahami Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

Meski ada keterkaitan etimoligis antara kata “al-‘id” (hari raya) dengan kata ’aud(perihal kembali), kata “idul fitri” tetap tidak bisa diartikan “kembali ke fitrah” atau “kembali kepada kesucian”. Pertama, tentu saja, kata al-‘id sendiri artinya telah spesifik, yaitu “hari raya” (atau secara umum artinya “sebuah momentum yang datang berulang/selalu kembali”. Al-‘id artinya bukan “kembali” [‘aud]. Al-‘id memang seakar kata dengan ‘aud, tapi tidak semakna).

Kedua, fitri (al-fithr) berbeda dengan fitrah (al-fithrah). Fitri (al-fithr) secara bahasa artinya “makan untuk berbuka berpuasa”. Al-fithr adalah lawan kata al-shaum. Sedangkan fitrah (al-fithrah) secara bahasa artinya “bentuk awal/kondisi dasar penciptaan”. Dua makna yang sangat jauh berbeda.

Maka, kata “idul fitri” yang secara istilah artinya “hari raya umat Islam yang diperingati sehari seusai Ramadan” bisa diartikan secara bahasa: hari raya makan-makan. Sebab, pada 1 Syawal itu umat muslim diharamkan berpuasa.

Begitulah kurang dan lebihnya seluk-beluk bahasa kata “idul fitri”. Baru kemudian Anda bisa mengulas maknanya secara filosofis. Pemaknaan secara filosofis mesti memiliki pijakan bahasa agar makna yang dihasilkan kokoh dan menyeluruh. Jami’ mani’. Tidak rapuh.

Pemaknaan filosofis “kembali ke fitrah”, “kembali suci, “kembali putih-bersih”, dan sebagainya untuk “idul fitri”, misalnya, yang seolah-olah berdasar pada selisik bahasa kata itu. Pemaknaan yang rapuh, sesungguhnya. Sebab, andai pemaknaan “kembali ke fitrah” untuk “idul fitri” itu kukuh, Anda tentu tidak akan sulit memikirkan apa makna “idul adha”. Jika “idul fitri” diartikan “kembali ke fitrah”, lalu “idul adha” diartikan “kembali” ke apa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here